image

Belum satu menit saya menyelonjorkan kaki, hendak bersantai sejenak, tiba-tiba Akhtar terdengar ngomel ngomel
“Tah budak teh… yaaah… tah budak teh tah…”, katanya.

Feeling saya, “Waduh… ga beres nih!
Jangan-jangan…

Saya bergegas berdiri dan menghampiri Akhtar di dekat kamar mandi…
Tuh kaan…” saya berkata dalam hati melihat Akhtar berdiri kaku dengan celana yang sudah basah.

“Ah Akhtar mah nya… pup di celana ah Akhtar mah, ga boleh kayak gitu dong”, kata.. saya? Bukaan… itu Akhtar sendiri yang menyeracau.

Okey… lain kali sebaiknya kami jangan mengungkapkan kalimat-kalimat menyalahkan dan bernada kecewa seperti itu lagi… karena ditiru dengan sempurna oleh si toddler itu –”

Untung, suasana hati saya sedang baik. Dengan lembut saya bimbing Akhtar ke kamar mandi, lalu membersihkannya.

***

Every Mom Has Her Own Battle

… dan arena pertarungan saya ada di area kamar mandi/ toilet.

Akhtar termasuk yang terlambat saya kenalkan tentang cara menggunakan toilet. Usia hampir 3 tahun Akhtar baru lepas dari diapers dan setelah itu kemampuannya menggunakan toilet macam Syahrini saja… maju mundur canciiik…

Kenapa se l a m b a  a   a    t itu?

Karena… saya yang terlambat siap. Dari artikel yang pernah saya baca, toilet training itu bisa dimulai ketika ibu dan anak merasa siap, kemudian informasi yang sepotong itu saya jadikan pembenaran untuk berkali-kali menunda toilet training sampai akhirnya dimulai menjelang usia 3 tahun.

Proses TT resminya dimulai sebelum pindah ke Ciledug, sekitar awal 2016 ini. Kala itu milestonenya, Akhtar ga mau lagi pakai diaper karena “Malu… kan Akhtar sudah besar, pake celana dalam aja..”, katanya. Saat itu pun ia mulai paham bahwa pup dan pee itu tempatnya di kamar mandi, walaupun… sampai beberapa lama di Ciledug Akhtar masih mengompol karena tidak sempat dibawa ke kamar mandi.

Beberapa waktu kemudian, kemajuannya adalah Akhtar mengajak ke kamar mandi ketika rasa ingin pipis sudah tak tertahan lagi… tapiii… Akhtar masih pipis di celana di dalam kamar mandi.

Beberapa waktu kemudian, Akhtar sudah bisa mengajak pipis ke kamar mandi. Kalau pup? Jangan tanya deh… masih berproses sampai sekarang.

Nah, sekitar 3 minggu ini saya merasa ada kemunduran signifikan dari proses TT Akhtar, tepatnya kemunduran itu dimulai seminggu sebelum Lebaran, dimana Akhtar sangat susaaaah diajak ke kamar mandi walaupun terlihat sudah sangat ingin pipis, akhirnya beberapa kali mengompol di celana, di luar maupun di dalam kamar mandi.

Stress… iya… pada awalnya…

Pada akhirnya, saya menurunkan tensi dan berusaha berdamai dengan keadaan sambil sedikiiiit demi sedikiiiit berproses maju. Karena… ketika awal-awal TT dan saya ‘terlalu keras’ justru hasilnya kontradiktif. Akhtar semakin sulit diarahkan, dan saya stress!!!

Sebenarnya…
Kenapa TT ini menjadi sulit… karena dalam paradigma saya TT itu memang sulit, dan melelahkan, dan meng’hueks’kan, dan… dan… ah intinya saya bahkan sudah takut untuk mengajari anak TT jauuuh sebelum TT itu dimulai. Jadi, dimana letak salahnya? Ada di pikiran saya! Iya gue yang salah… bukan Cinta dan sahabat-sahabatnya… -apa sih.. mulai gilak-

Tapiii… ya sudah lah yah let it flow ajah… ngalir ajah… tapi tetap diarahkan pada muara yang dituju… :)