“Jangan dorong-dorong atuuuh!!”
Terdengar suara Akhtar berteriak dari depan rumah.

Sebelumnya, 4 orang balita sedang bermain, bercanda, dan tertawa-tawa riang di teras rumah Enin, lalu diakhiri sesi foto bersama yang berakhir ricuh, karena para balita saling bertabrakan, dan -mungkin- tanpa sengaja saling mendorong.

“Jangan doroooong!” Akhtar kembali berteriak setengah menjerit.

Dua orang dewasa menghampiri para balita. Tampak Akhtar berteriak marah dan mendorong sepupunya. Sepupunya, yang berusia 2 bulan lebih tua dari Akhtar, hanya diam menatap Akhtar dengan polos dan bingung, seperti tidak memahami situasi yang terjadi… pastinya karena si sepupu tidak merasa mendorong, atau tidak sengaja mendorong.

Setelah dilerai dengan menjauhkan Akhtar dari kerumunan itu, kakinya tetap menendang-nendang, tetap berteriak marah. Akhirnya… menangis.

***

Situasi kedua…

Masih di hari yang sama dengan kejadian pertama. Akhtar bermain dengan sepupunya yang lain di ruang tamu.

Tiba-tiba sepupunya menepuk-nepuk kepala Akhtar. Akhtar bereaksi spontan dengan nada biasa -tidak marah seperti di situasi sebelumnya-,
“Jangan pukul-pukul… kan Akhtar sakit kalau dipukul-pukul…”

Seperti mendapat ‘A ha! moment’ saya tersenyum melihatnya…

***

Secara khusus, saya belum mengajarkan materi ‘self defense‘ kepada Akhtar. Apa yang selama ini kami -orangtua- lakukan adalah ‘melakukan hal yang semestinya’, seperti berkata,

“Ga boleh cubit/ gigit/ pukul ya… kan sakit…”
Membela diri

Atau,
“Ga boleh coret-coret di buku itu ya… itu kan punya Mim untuk dibaca…”
Mempertahankan hak milik

Atau,
“Ga boleh corat coret di tembok rumah yaaa… kan ini bukan rumah Akhtar…”
Menjelaskan hak milik orang lain

Melihat apa yang dilakukan Akhtar, melawan saat diperlakukan tidak baik, saya bisa sedikit tenang jika suatu waktu Akhtar lepas dari pengawasan saat bermain dengan anak-anak lain -maklum emaknya parnoan haha-. ‘Hanya’ butuh diajari untuk mengendalikan emosi dan menilai situasi, tidak terlalu reaktif seperti di situasi pertama, agar sikapnya tidak jadi bumerang yang merugikan diri sendiri (contoh ‘kecil’ di atas adalah… menangis).

‘Membela diri’ ini merupakan bekal penting bagi anak dalam pergaulannya dengan orang lain. Kemampuan membela diri dapat membentuknya menjadi anak yang percaya diri dan tidak rendah diri. Mengapa ‘percaya diri’ penting? Karena dari satu sifat itu akan berkembang sifat-sifat lain yang, serius deh, bisa ngaruh banyak dalam kehidupan anak.

Dari sikap percaya diri itu, kita bisa menjadi orang yang berani mengambil keputusan sendiri, tidak hanya ikut-ikutan karena tidak berani menolak.

Seringkali, tanpa/ dengan sadar, orang-orang dewasa di sekitar anak yang justru melanggar hak anak untuk membela dirinya.

Misal,
Ketika ada anak lain merebut mainan anak kita, dan anak kita mencoba merebutnya kembali, sering orangtua berkata, “Ga apa-apa ya… berbagi ya… mainnya sama-sama ya… ” dan kalimat sejenisnya. Padahal jelas mainan itu adalah milik anak kita, dan mereka berhak untuk meminjamkan/ tidak meminjamkannya kepada anak lain.

Pun saya suka merasa tidak nyaman ketika anak saya yang selalu dimenangkan jika situasinya anak saya yang merebut mainan anak lain, karena sikap seperti itu jika berlangsung terus menerus bisa saja membuat anak saya menjadi orang yang egois, mau menang sendiri, merasa paling benar, menggantungkan diri kepada orang lain, dan suka menyalahkan situasi.

Sok tau yaa guwe… haha… apa yang saya catat disini hanya berdasarkan pengalaman tanpa didukung teori ini dan itu… *tutupmuka*

Saya sendiri dalam situasi-situasi tertentu adalah orang yang sangaaat tidak percaya diri… sering rasanya saya menyia-nyiakan kesempatan baik yang orang lain percayakan kepada saya, karena saya merasa tidak yakin pada kemampuan diri sendiri.
senyum getir

Dan, pengalaman adalah sebaik-baiknya pelajaran :)