image

Ada sekontainer kecil penuh dengan buku anak-anak di pojok ruang tamu. Beberapa buku dibeli baru-baru ini,
namun banyak juga buku yang dibeli sebelum Akhtar lahir, bahkan sebelum saya menikah. Buku yang sebenarnya saya beli untuk adik saya, yang ‘terlanjur’ tidak senang membaca.

Di antara cukup banyak buku itu, hanya sedikit saja yang menarik perhatian Akhtar. Setiap kali minta dibacakan, ia tidak beranjak dari buku-buku favoritnya, yang hanya 5 atau 6 buku.

Belakangan ini, ia menunjukkan ketertarikan yang lebih pada buku-buku yang lain. Suatu hari terlihat Akhtar mengaduk-aduk kontainer buku dan mengambil buku tentang mobil dan motor, serta buku traktor dan alat-alat berat. Yak.. buku-buku yang saya beli sebelum menikah itu…

Dengan antusias ia membuka setiap halamannya, dan pertanyaan yang sama keluar dari mulutnya, “Ini mobil apa?” atau “Ini motor apa?”

Nah… timbul ‘persoalan’. Buku-buku itu bisa minta di’baca’kan 3 sampai 4 kali dalam sehari. Akhtar hanya akan menunjuk gambar-gambar di buku, dan kami harus menjawab setiap pertanyaan “Ini mobil apa?” yang keluar dari mulutnya.

Kadang saya menjawabnya dengan serius, duduk mendampingi Akhtar dan menjawab pertanyaan Akhtar dengan membaca jenis kendaraan yang tertulis di buku. Tapi kalau muaales dan bosan melanda, saya hanya menjawab asal sambil melakukan pekerjaan lain… Duh… maaf ya Akhtar :(

Sudah sampai pada masanya memang anak seusia Akhtar menanyakan apapun hal baru yang ia lihat. Teringat kejadian beberapa tahun lalu di sebuah kendaraan umum, saya duduk berhadapan dengan seorang Ayah yang memangku anak balitanya, sepanjang perjalanan anak itu tak berhenti bertanya “Itu apa?” “Itu apa?” “Itu apa?” sambil menunjuk apapun yang ia lihat di luar kendaraan. Tau reaksi saya saat itu? Jengah haha.. “Ya ampun ni anak ga bisa diem apa yaa”.
Mungkin karena hareudang maka saya membatin sejahad itu… -_-

Sebagai orangtua, kita bisa mengambil pilihan untuk bersabar mendampingi proses belajar anak-anak dengan mengalahkan rasa malas dan tidak sabaran, ataau…
mengikuti nafsu malas namun harus bersiap dengan masa depan dimana anak tidak menjadikan orangtua sebagai orang pertama yang ditanyainya dalam berbagai persoalan, tidak mau mendengarkan perkataan orangtua, bahkan tidak memercayai orangtua…

Hmm…
Kita bisa memilih…