2 minggu di Tangerang

*

Sejauh ini keluarga kecilku selalu pindah dari satu ‘kesumukan’ ke ‘kesumukan’ yang lain…

Jember yang agak hareudang… ke Pasuruan yang hareudang pisan… ke Jakarta yang semua orang mafhum akan kesumukannya… sempat ngadem di Bandung beberapa bulan, dan sekarang di Ciledug Tangerang yang bikin badan lengket karena keringat…

Kalau orang dewasa tentu lebih mudah menyetting diri, menaikturunkan standar kenyamanan agar tetap kerasan pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Yang selalu jadi soal adalah anak-anak… yang standar kenyamanannya kadang gak langsung kita pahami, tanpa dialami sebelumnya.

Sebagai contoh, kontrakan sebelumnya di Jakarta yang menurut saya sudah nyaman, ternyata tidak membuat Akhtar bertahan lebih dari 3 bulan. Lebih tepatnya, saya yang kibar-kibar bendera putih duluan karena tak kunjung bisa mengatasi Akhtar yang selalu minta keluar rumah, berjalan jauuuh, atau sekedar berdiri di dekat rel kereta sampai 1 atau 2 jam… bahkan pernah lebih.

Dari pengalaman itu… kami mengevaluasi beberapa hal dan menetapkan kriteria tambahan untuk kontrakan berikutnya, apalagi kalau masih di metropolitan… diantaranya, punya teras dan pagar rumah sendiri, jalan di depan rumah tidak terlalu ramai, kalau bisa sih agak jauh dari jalan besar, dan maunya yang luas…

Nah… setelah suami setahun di Jakarta, dan hampir dipastikan tidak akan pindah tugas paling ngga untuk setahun ke depan, akhirnya keluarga kecil kami memutuskan hijrah lagi, kali ini mencoba peruntungan di Tangerang. Banyak syaratnya waktu mulai mencari iklan kontrakan di internet… selain yang disebutkan di atas, juga… kalau bisa di Ciledug, kalau bisa lagi di Jalan Tanah 100. Karena ada adik sekeluarga yang tinggal juga di kawasan itu.

Alhamdulillah… rezekinya anak-anak dapat kontrakan yang nyaman, bersih, baru, dan luas, punya pagar rumah sendiri, tapi tidak terlalu mahal, jalan depan rumah yang tidak terlalu ramai, di pemukiman penduduk yang tetangganya ramah-ramah, dan lokasinya di Jalan Tanah 100. Cocok!

image

Sejauh ini anak-anak kelihatan kerasan tinggal disini… kalau Akhtar bosan, ada sepupunya yang bisa diajak main bareng atau sekedar bersepeda ke tukang sayur… masalahnya hanya… disini agak gerah, jadi belum ada seminggu, yang kata orang ‘keringat buntet’ mulai muncul di beberapa bagian tubuh Akhtar dan Ahnaf.

Tangerang Rasa Jawa

Yang menarik, lingkungan disini didominasi pendatang dari Jawa. Sependengaran saya sih kayaknya kebanyakan Jateng atau Yogya. Para ‘pendatang’ ini sebenarnya sudah tinggal puluhan tahun dan meletakkan fondasi-fondasi kehidupan bermasyarakat disini. Mereka hidup mapan, berkeluarga, dan bermatapencarian disini. Kekeluargaannya kental sekali… kalau kata seseorang mah, ‘guyub’ ceunah. Bukan sekali dua kali tiba-tiba ada yang menyapa dengan ramah waktu bersepeda dengan Akhtar… yang ternyata mereka adalah tetangga yang selisih 1 sampai 2 rumah dari kontrakan. Bahkan sempat terkesima karena disapa dengan sangat ramah oleh ibu penjual gorengan yang jarak tempat jualannya ratusan meter dari kontrakan, harus melewati beberapa gang sebelum sampai di kontrakan kami, “Tinggal dimana Dek? Kok kayak baru lihat ya…”. Wow!

Sejauh pengalaman saya yang baru 2 minggu disini, langka sekali menemukan orang yang tidak berlogat Jawa. Dari pemilik rumah, tetangga, ketua RT, pedagang roti keliling, penjaja bakso, penjaga warung, pengangkut sampah, sampai orang-orang yang saya dengar sedang ngobrol di pinggir jalan pun berbahasa Jawa. Panggilan Bukde, Pakde, dan sejawatnya jadi ga asing terdengar di telinga. Saya pun jadi agak latah sebenarnya, kalau belanja ke warung sayur lalu dilayani oleh penjual berlogat Jawa dan dikelilingi ibu-ibu pembeli yang berlogat Jawa juga, ada sedikit usaha untuk men’jawa-jawa’kan logat saya. Ini persis seperti yang saya lakukan waktu di Pasuruan dulu… saya mencoba mengikuti logat setempat agar tidak terdengar asing, karena sekalinya saya pernah ‘keceplosan’ berlogat Sunda, beberapa orang melirik saya dengan ekspresi ‘aneh’. Wkwkwk…

Alhamdulillah…
(P)indah-(p)indah itu memang indah :)