Akhtar sangat menguji kesabaran saya dua minggu terakhir ini… hampir tiap hari menangis hanya karena hal yang sepele. Pun tidak jarang terbangun malam-malam lalu menangis tanpa alasan.

Nah, ketika Akhtar menangis seringkali saya bilang, “Coba Akhtar ngomongnya yang betul…” agar Akhtar berhenti menangis dan mengungkapkan keinginannya. Ngomong yang betul? Maksudnya gimana? Abstrak banget sih guwe :D

Gara-gara itu Akhtar jadi senang sekali menggunakan kata-kata itu sebagai senjata jika saya bicara sedikit keras… seperti bernada membentak… padahal maksudnya berbicara tegas…

Misalnya, ketika Akhtar sulit sekali diajak mandi “Akhtar, mandi dulu baru boleh main mobil-mobilan!”, dengan nada sedikit tegas.
“Mim ngomongnya yang betul”, Akhtar menimpali saya dengan sedikit rengekan.
Lalu saya ‘mengoreksi’ nada bicara saya menjadi lebih halus…

Ga kebayang ya? Ibaratkan… puding susu dan puding sutera, puding susu saja sudah lembut membelai lidah menurut saya, tapi Akhtar malah menuntut puding sutera. Masuk ga sih analoginya… :D

Ini bertolak belakang dengan sebelumnya, ketika nada bicara saya mulai meninggi, Akhtar tahu berarti saya mulai kesal, biasanya dia yang langsung bilang Maaf dengan ekspresi penuh penyesalan, lalu memeluk kaki saya.

Kini lebih banyak saya yang harus mengoreksi kata-kata saya, memeluk, lalu meminta maaf kepada Akhtar..

“Mim minta maaf ya.. udah bicara keras ke Akhtar”
Akhtar biasanya hanya membalas dengan anggukan kecil.

‘Ngomongnya yang betul’ ini sebenarnya jadi seperti alarm buat saya… ketika mulai kehilangan kendali dalam berkata-kata kepada Akhtar..