Pekan ini Akhtar banyak belajar tentang bagaimana menjaga, maaf, alat kelaminnya. Sesuai dengan yang pernah saya baca di buku tentang mengajarkan seksualitas pada anak, saya secara terang dari awal menyebut alat kelaminnya ‘penis’, tidak dengan kata kiasan lain yang justru akan mengaburkan maknanya. Akhtar sendiri selama ini menyebutnya ‘pipis’ karena waktu pertama kali diperkenalkan kata itu, Akhtar belum bisa mengucapkan kata-kata dengan jelas.

Sedari bayi saya sudah mulai mengenalkan konsep ‘malu’ sama Akhtar. Malu kalau ga pakai baju atau celana, malu kalau Mim keluar rumah ga pakai kerudung, malu kalau penisnya kelihatan orang lain. Hmm, saya kurang tau deh, apakah tepat saya mengajarkan seperti itu, tapi sekarang Akhtar suka bilang, “Malu ih ga pake baju” ketika melihat orang di rumah hanya mengenakan kaos dalam, misalnya. Tadi pagi bahkan dia ‘menegur’ neneknya yang hanya mengenakan ciput saat mau keluar rumah, “Nin malu ga pake kerudung” katanya. Tapi, sekedar mengenalkan saja, saya sendiri belum tegas menerapkannya, jadi masih ada kala Akhtar berlari-lari di dalam rumah setelah mandi tanpa berpakaian.

Semuanya berawal di suatu pagi di kamar mandi… dududu kayak mau cerita apa aja….
Kurang lebih saya bilang, “Penis Akhtar ga boleh dipegang dan dilihat sembarang orang, yang boleh hanya Mim, Pap, Nin, dan dokter kalau sedang memeriksa, tapi harus dalam pengawasan Mim… dll “. Saya jelaskan juga tentang batasan aurat laki-laki dan bagaimana bertindak kepada orang asing yang memegang bagian tubuh yang tidak seharusnya dipegang sembarang orang. Akhtar mengerti? Mungkin belum.

Namun ternyata, Akhtar mengingat baik kata-kata saya itu… dengan bahasanya sendiri yang belum terstruktur, Akhtar ‘menceritakan’ kembali sedikit yang sudah saya jelaskan. Akhtar sudah menceritakannya berulang-ulang setiap sesi kamar mandi. Terlepas dia paham atau tidak, yang penting saya sudah menyampaikan, tinggal memahamkan.

Di hari berikutnya, saya mulai terapkan lebih tegas aturan menutup kamar mandi ketika mandi/ pup/ pee dan mengharuskan berpakaian di kamar. Pada kali pertama menutup kamar mandi saat mandi, Akhtar senang sekali, karena dia mendengar suaranya bergaung setiap berbicara. Hal ini memudahkan sekali, karena pada kesempatan berikutnya Akhtar sendiri yang meminta menutup kamar mandi dan menguncinya dari dalam.

Lalu sehabis mandi, saya pakaikan handuk di dalam kamar mandi dan langsung bawa Akhtar ke kamar untuk berpakaian. Sebelumnya saya masih memberi kelonggaran Akhtar mau berpakaian dimana, tapi kali ini saya paksa Akhtar masuk kamar untuk berpakaian.

Nah tadi pagi, dia keukeuh nongkrong di depan TV setelah mandi lalu membujuk saya memakaikan baju disana. Saya bilang, “Ya udah kalau gak mau di kamar, Mim ga pakein baju” lalu saya duduk di meja makan sambil cemal cemil.

Semenit dua menit dia masih bertahan di depan TV menonton acara favoritnya, di menit berikutnya Akhtar mengajak saya ke kamar dan meminta dipakaikan baju. Saya tersenyum penuh kemenangan.

Tapi saya belum boleh berpuas diri.. masih banyak, banyaaak sekali PR saya untuk membimbing Akhtar mencapai milestone yang seharusnya… yang pada umumnya… sudah dicapai anak seusianya. Yang lebih berat lagi adalah berusaha konsisten, tegas, dan sabar menerapkan aturan yang sudah diajarkan.

** Semangat Mim… Semangat Akhtar…**