image

“Abah lagi apa Abah?”
“Mim ini apa Mim?”
“Ata begini…. Ata begitu….”

Begitulah yang sering terdengar sepanjang hari selama beberapa bulan ini. Akhtar menanyai setiap orang di rumah dengan intonasi khasnya “Lagi apa?” atau “Ini apa?” sambil menunjuk ke sebuah benda, simbol, atau gambar apapun yang dia lihat, ataupun menceritakan kembali aktivitasnya secara sederhana.

Mengamati perkembangan Akhtar, kemampuan berbahasa Akhtar mengalami kemajuan sangat pesat dalam setengah tahun terakhir. Saat usianya menginjak 2 tahun, hanya celotehan tidak jelas yang keluar dari mulutnya, bahkan saat itu ia belum bisa memanggil saya dengan benar atau menyebut dirinya dengan namanya sendiri, namun dalam 6 bulan terakhir, dia banyak sekali mengenal kosakata baru, bisa menyusunnya menjadi kalimat sampai 5-7 kata, dan mengucapkannya dengan jelas, sehingga bisa dipahami tidak hanya oleh orang-orang yang berinteraksi dengannya setiap hari.

Yang mengherankan adalah… Akhtar termasuk anak yang talkative. Seandainya cerewet itu diturunkan dari orangtua, maka orang akan terheran-heran mendapati Akhtar bisa banyak bicara seperti itu sementara kedua orangtuanya bisa dibilang cenderung pendiam.

Belakangan Akhtar pun sudah bisa diajak bermain peran. Dia menggunakan media apapun sebagai ‘orang-orang’an… entah itu dari huruf-huruf (bentuk-bentuk huruf yang dilepas dari karpet evamat), mobil-mobilan, atau boneka-bonekanya, kemudian mengajak saya berdialog seolah-olah benda-benda itu bisa berbicara. Kadang dia pun mengubah-ubah suaranya sesuai karakter yang ingin ia perankan. Sesekali Akhtar pun bermain pura-pura menjadi kura-kura, pura-pura naik mobil, atau naik kereta api…

Satu yang kurang (berhubungan dengan hal ini), untuk saat ini. Akhtar jarang sekali keluar rumah beberapa bulan terakhir ini, sehingga interaksinya dengan orang-orang di luar keluarga inti masih sangat terbatas, pun kegiatannya hanya terbatas pada apa yang bisa dilakukan di dalam rumah. Padahal, itu penting, menurut saya, untuk lebih mengembangkan kemampuannya berbahasa dan mengasah kemampuannya bersosialisasi.

Setidaknya sampai usia kehamilan 6 bulan saya masih sangat rajin mengajaknya ke sawah di belakang rumah, atau ke pasar dan stasiun yang hanya berjarak 100meteran dari rumah, atau bolak balik naik angkot sekedar melihat-lihat apapun yang bisa dilihat sepanjang jalan. Namun, aktivitas saya mulai terbatas (terutamaaa… dibatasi) ketika kehamilan menginjak bulan ke 7 dst…

Padahal, saya melihat dampak besar sekali dari kegiatan-kegiatan seperti itu… anak lebih mudah mengingat kosakata baru sampai mampu menceritakan pengalamannya…

‘Pelampiasan’nya apa ketika kegiatan jalan-jalan itu dihilangkan? Televisi! Apalagi saat ini, untuk sementara saya tinggal bersama orangtua yang belum bisa lepas dari TV. Menonton TV menjadi aktivitas rutin sehari-hari yang tidak bisa dilewatkan.

Akhtar pun mulai punya acara favorit. Sejauh ini selalu berusaha diarahkan untuk menonton tayangan yang positif saja, semisal dzikir dan asmaul husna pagi hari di MQTV dan acara Diva dan Pupus dua kali setengah jam setiap hari, pagi dan siang. Masalahnya, Akhtar seringkali memaksa TV tetap dinyalakan meskipun acara favoritnya sudah selesai huhu…

Tapi, sementara ini, saya hanya bisa bilang, ‘mau gimana lagi’… dengan tetap berusahaaa sekuat tenaga (melawan rasa malas haha) membuat berbagai media belajar dan bermain untuk Akhtar di rumah, dengan bahan-bahan yang ada…

#kodekerasbuatpapa
#akhtarmintamainanbaru

:p

Sabar ya Nak, nunggu sampai Adik bisa diajak jalan-jalan juga… :)
**ciyus??