image

Tidak ada yang lebih bisa meluluhkan kekerasan hati si ibu sumbu pendek ini ketika kesal, kecuali sepotong kata “Maaf” dari anak berusia 2,5 tahun.

Kejadian serupa sudah terjadi berulang kali, yang terbaru adalah tadi pagi, ketika Akhtar tak mau beranjak dari kamar mandi sementara saya pun dipaksa menungguinya di dalam.

Pada akhirnya saya kesal dan memaksanya keluar dari kamar mandi, hingga pecahlah tangisnya. Akhtar tak mau berhenti menangis, karena permintaannya hanya “Mau mandi lagi”

Saya ‘tak punya pilihan lain’ kecuali membawanya ke kamar mandi, lalu menyiramkan air dingin ke seluruh bagian tubuh dan kepalanya. Hanya menyiramnya dengan sebanyak-banyaknya air, tanpa banyak bicara, sambil tarik nafas dan buang nafas panjang menahan marah. Sementara Akhtar meraung-raung semakin kencang.

Ketika, satu kalimat keluar dari mulut Akhtar, lirih hampir tak terdengar “Mim, Ata pelukan.. maaf” -maksudnya, minta dipeluk dan dia minta maaf- seketika saya melunak, seeelunak-lunaknya, macam bandeng tulang lunak keluar dari panci presto. Perumpamaan paling pas di tengah lapar yang melanda seperti malam ini.. heuheu..

Saya tertegun sekejap, lalu merendahkan tubuh hingga mata bertemu mata, “Sini Akhtar pelukan, Mim minta maaf ya…”

Iya… Mim minta maaf… belum bisa jadi Ibu yang sabar untuk Akhtar :'(