image

Jam 1 malam Akhtar terbangun, dan langsung menangis, menanyakan huruf-huruf…
“Mim huruf-huruf ada sini, ayo cari…”
Terus mengulang kata-kata itu puluhaaaan kali sambil menarik-narik saya agar mau mengikutinya turun dari tempat tidur.

Entah huruf-huruf yang mana yang dia maksud… di tempat tidur saat itu masih bergeletakan mainan magnet berbentuk huruf-huruf yang dimainkan Akhtar sebelum tidur, pun ketika neneknya menawarkan puzzle huruf-huruf evamat, Akhtar tetap saja menangis.

Saya sebenarnya tahu persis apa yang diinginkan Akhtar, yaitu menonton video mobil dan kereta tentang huruf-huruf di youtube, yang sudah ditontonnya berulang kali. Tapi, kenapa bisa? Padahal, seperti yang sudah saya tulis di post sebelumnya, Akhtar akan tidur gelisah dan terbangun menanyakan video itu jika sebelumnya menonton itu sampai tertidur. Sementara sehari sebelumnya, Akhtar tak sedetik pun mengakses apapun di HP.

Pada akhirnya, selama kurang lebih 15 menit, saya biarkan Akhtar menangis, saya hanya diam ‘termenung’ karena mengantuk dan ga tau solusinya apa…
Lama-lama saya menyerah, saya turuti juga keinginan Akhtar keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah, ajaibnya… Akhtar berhenti menangis ketika kami baru saja sampai pada anak tangga paling atas menuju perjalanan ke bawah… “Kenapa ga dari tadiiiiiii” saya menyesali diri.

Akhtar dan Huruf-Huruf…

Begitulah judul untuk tulisan ini saya buat…

Sebenarnya saya pribadi berprinsip untuk tidak mengenalkan huruf-huruf terlalu dini pada Akhtar. Sewaktu suatu hari saya iseng datang ke sebuah TK yang menyediakan kelas untuk anak batita di Pasuruan, saya langsung ilfil ketika si Mbak disitu menjelaskan salah satu ‘kurikulum’ anak 1 tahun disana adalah mengenal huruf. Namun Akhtar belajar dari lingkungan terdekatnya, saya justru yang menciptakan lingkungan belajar di rumah dengan huruf disana sini.

Pada awalnya, saya menempelkan 3 buah poster yang saya buat sendiri, yaitu poster alfabet, hijaiyah, dan angka-angka, di rumah Pasuruan. Bukan untuk menyiapkan Akhtar belajar membaca, namun karena 3 poster itu lah yang paling mudah dibuat menurut saya… agar dinding ‘lebih ramai’ namun tetap ber’nilai pendidikan’. Ternyata Akhtar sangat tertarik… lalu selanjutnya saya belikan mainan lain yang masih berhubungan dengan huruf dan angka, alhasil pada usia 2,5 tahun sekarang, Akhtar sudah mengenal semua huruf alfabet besar dan kecil, hijaiyah, dan menghitung sampai 20.

Bangga? Justru saya deg-degan, karena Akhtar lebih suka bolak balik membaca huruf dan angka yang dilihatnya daripada membuka buku. Belum lagi, banyak variasi bermain yang pada akhirnya bermuara pada huruf dan angka.

Semisal, Akhtar sangat suka sekali menggambar… ketika bosan, dia akan meminta saya menuliskan huruf-huruf A to Z dan dia mengejanya satu persatu…
“Mim gambar huruf-huruf sini Mim”

Contoh lain, Akhtar suka ikut-ikutan kalau ada anggota keluarga lain yang sedang menggunakan laptop, dia akan meminta dibukakan file word dan mulai mengetik huruf-huruf sambil mengejanya.

Bukan sekali juga neneknya menyarankan saya untuk mengajari Akhtar membaca sekalian… BIG NO! Belum saatnya, masih banyak PR lain yang mesti kami selesaikan sebelum mengajari Akhtar membaca. Adab, akhlak, bukankah lebih utama? Pun soal kemampuan Akhtar bersosialisasi dan mengontrol emosinya. Belum lagi ketakutan kami, kalau terlalu dini diajari membaca, kami khawatir di usianya yang menginjak masa-masa ‘kepo’ nanti justru Akhtar sudah tidak tertarik membuka buku dengan rangkaian huruf dan angka di dalamnya.

Kali ini kami hanya mengikuti saya cara belajar Akhtar sambil sedikit demi sedikit mengalihkan perhatiannya agar tidak terlalu berkutat dengan huruf dan angka… kalaupun nanti dia belajar membaca, inginnya bukan karena kami yang memaksanya belajar, namun karena keinginan dan kesadarannya sendiri untuk membaca dan membuka diri untuk berbagai pengetahuan dari buku…