Salah satu camilan kesukaan Akhtar adalah biskuit marie. Kalau dalam bahasa Akhtar, “Kue mai”.

Tapi dalam proses mengemilnya, tidak selalu berjalan mulus. Kok? Semua tergantung mood Akhtar pada saat itu…
Mengemil biskuit marie saat bad mood bisa jadi ujian tersendiri buat emaknya… macam ujian akhir yang menegangkan.. haha oke, lebay…

Apa soal?
Akhtar (in a bad mood) akan tiba-tiba menangis kalo biskuit yang dimakannya… patah… sementara kita tahu, biskuit marie serapuh apa? Salah pola menggigit aja bisa patah. Apa sih..

Kejadian berulang pagi ini. Sebenarnya semua berjalan mulus sejak bangun tidur. Semua dalam kondisi baik. Sampai akhirnya, dikeluarkanlah kue marie.. mungkin baru dua gigitan dan kue itu.. Patah!

Akhtar sempat tertegun sebentar, syok, sebelum akhirnya menangis, “Huaaaaa….”
“Kuenya copot.. pasangin lagi..”

Biasanya masalah selesai dengan cara memberinya biskuit baru yg masih utuh. Tapi kali ini ga mempan. Akhtar tetap mau kuenya yg sudah patah di’pasang’ lagi.

Oke, setelah berpikir beberapa saat, terpikir mencoba cara baru.

Sembunyi-sembunyi saya gigit kue yang utuh agar bentuknya menyerupai kuenya yang patah.. hei berhasil… tapi hanya beberapa saat, karena Akhtar melihat saya mengunyah kue dan tidak sengaja melihat potongan kuenya yang tadi patah.

Kali ini permintaannya “Beli lagi kuenya” dengan tangis yang semakin kencang, mendekati tantrum… Beberapa menit pertama masih berusaha menenangkan… sampai akhirnya terpikir cara yang ‘keren’.

Si bungkus kue itu di selotip lagi dengan rapi, sehingga terlihat seperti bungkus kue baru yg belum dibuka. Kue ‘baru’ disodorkan ke Akhtar, dan… magic… nangisnya berhenti begitu saja, tanpa ba bi bu…

**speechless saya**