image

Salah satu kesalahan saya dalam hal pengasuhan Akhtar adalah terlalu dini memperkenalkannya pada gadget (baca: ponsel pintar, khusus untuk tulisan ini). Akhtar sudah berinteraksi dengan aplikasi di gadget sejak sebelum berumur 1 tahun.

Bukan karena saya tidak tahu akibat buruknya -saya termasuk yang rajin membaca artikel-artikel parenting sejak sebelum Akhtar lahir- namun saya lah yang mudah tergoda dengan ‘kemudahan’ dan ‘kepraktisan’ gadget sebagai pengganti pengasuh jika satu saat saya lelah, atau harus mengerjakan hal lain, atau males… #eh

Memang bukan hal-hal yang buruk yang saya sajikan dari gadget, banyak hal baik juga yang didapat Akhtar, semisal kosakata yang bertambah, tahu alfabet dan huruf-huruf hijaiyah, pengetahuan tentang bentuk dan warna, hapal beberapa asma Allah, dll, namun itu seharusnya tidak menjadikan alasan bagi saya, sebagai orangtua, untuk memberikan gadget terlalu dini pada anak, karena aktivitas fisik (motorik) lebih mereka butuhkan daripada sekedar menatap layar gadget. Selain efek kecanduan yang mengerikan, hiiyyy…

Nah, akibatnya saya rasakan sekarang. Saya sebenarnya berusaha sangat membatasi Akhtar berinteraksi dengan gadget, belum tentu 1 minggu sekali, atau 2 minggu sekali. Intinya, sangat jarang. Namun, satu kali saja terpapar, maka saya butuh sekurangnya 2 hari untuk ‘menetralisir’ pikirannya agar tidak teringat mainannya di gadget.

Kasus terakhir terjadi 2 hari lalu. Saya sedang duduk dekat laptop sambil memainkan HP, ketika Akhtar menghampiri dan meminta bermain huruf-huruf dari laptop. Maksudnya, dia ingin mengetik huruf-huruf di aplikasi word, hal ini sudah beberapa kali dilakukan. Dia akan mengetikkan satu per satu huruf dari keyboard kemudian membaca huruf yang tertampil di layar.
Malam itu, cukup lama kami di depan layar karena saya pun membuatkan bentuk-bentuk di word. Akhtar hanya tinggal meminta mau bentuk apa dan warna apa, lalu saya buatkan. Lamaaa sekali ga bosan-bosan sementara malam semakin larut, dan saya semakin mengantuk. Akhirnya keluarlah ‘solusi pamungkas’ dari saya, “Akhtar, kita nonton video mobil-mobilan di kamar yuk” yang langsung ditanggapi Akhtar dengan cepat tanpa ba bi bu, dengan resiko yang sudah saya perkirakan sebelumnya diantaranya:

1. Akhtar nonton ga akan sebentar, artinya tidur akan lebih larut dari biasanya
2. Keesokan paginya ketika bangun Akhtar akan meminta nonton lagi, apalagi kalau memorinya sebelum tidur adalah sedang menonton video mobil
3. Tidurnya gelisah, bukan tak mungkin dia terbangun malam-malam dan langsung meminta menonton
4. Satu atau dua hari ke depan, Akhtar akan terus menerus meminta gadget, sangat mungkin menjadi rewel.

Oke lah… saya pikir, kali ini saja (beberapa kasus sebelumnya pun, saya selalu ‘berjanji’ seperti itu heuheu). Benar-benar berpikir pendek saking ngantuknya.

Dan betul saja… Akhtar nonton sampai tertidur, lalu terbangun dini hari dan langsung menangis tantrum karena didapatinya HP sudah tidak ada ketika dia terbangun. Sampai subuh lah dia menangis. Siangnya pun sempat tantrum, total hari itu 3 kali, karena… meminta nonton tapi ga saya kasih. Ternyata lebih melelahkan menunggui anak menangis karena kita ga menuruti keinginannya daripada menahan sedikit kantuk seperti malam sebelumnya.

Di suatu titik, saya meledak dan meninggikan nada suara saya sampai sedikit menghempaskan tubuh akhtar ke tempat tidur… duh yang salah siapa? Pemicunya saya dan saya melampiaskan kesalahan pada anak yang ngga ngerti apa-apa.

Ini bukan kejadian pertama. Sebelumnya sudah beberapa kali saya mengambil keputusan salah seperti itu, memberikan Akhtar gadget dan hasilnya kurang lebih seperti yang saya perkirakan di atas. Setelah kejadian, barulah saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengulanginya lagi… yg ‘entah kenapa’ selalu saya langgar sendiri.

Entah kenapa?! Mikiiirrr, kalo kata Ca Lontong mah :p

Udah gitu aja…

**introspeksi**