image

Foto: http//infobandung.co.id

Salah satu ikon baru di Kota Bandung yang diresmikan pada masa kepemimpinan Kang Emil adalah Bandros. Bandros atau Bandung Tour on The Bus sudah menarik perhatian warga sejak pertama kali launching pada malam tahun baru 2014 lalu. Dengan desainnya yang cantik, berbadan merah – yang kebetulan warna favorit saya – dan bertingkat dua – hari gini dimana lagi menemukan bus bertingkat di Indonesia? Kecuali yang dipakai sebagai bus wisata (ex: di Kota Solo dan Jakarta) – Bandros menjadi primadona baru yang sangat cocok untuk diajak foto bersama :D

Yeay… warga Sabumi pun akhirnya berkesempatan ngabandungan Bandung dari atas Bandros. Agenda playdate yang diumumkan di grup WA beberapa hari sebelum pelaksanaan ini disambut antusias oleh warga Sabumi. Kuota bus 40 orang dewasa pun terisi penuh dalam waktu beberapa hari sejak pengumuman. Bagi yang ‘kurang beruntung’ karena telat daftar atau telat bayar :p, ‘terpaksa’ harus menunggu di Taman Lansia untuk ikut kegiatan berikutnya yang gak kalah seruuu..

Lalu, bagaimana sih kalau kita pengen naik Bandros?

Yang perlu diketahui, bahwa sekarang Bandros hanya melayani penumpang rombongan, 1 bus minimal 30 orang dengan biaya Rp 800.000. Untuk jadwal pastinya kita bisa tanya langsung melalui contact person-nya. Atau langsung datang aja ke Taman Cibeunying, yang merupakan titik keberangkatan Bandros, biasanya ada Bapak Bandros yang standby disana. Ataauu… pantengin aja deh ya Twitternya @BusBandros, termasuk jika Anda penumpang perorangan.

Setelah deal soal jadwal, segera melakukan reservasi dengan sejumlah DP, agar jadwal kita ga lepas ke rombongan lain.

Sesuai rencana, Sabumi akhirnya dapat jadwal keberangkatan hari Selasa 18 Agustus 2015 pukul 09.00 WIB. Sejak pukul 08.00, ibu-ibu dan anak-anaknya mulai berdatangan ke meeting point. Namun berita kurang menyenangkan datang, sang Bandros tidak menunjukkan tanda-tanda kehadirannya sampai mendekati pukul 09.00 karena ada perbaikan yang diharapkan bisa selesai sebelum jam 10.00. Waduh… anak-anak (atau emak-emaknya? ;p) yang sudah berharap besar bisa naik jam 9 kecewa berat nih.

Eeetapii, ternyata banyak alternatif kegiatan asyik yang bisa dilakukan selama menunggu kok. Taman Cibeunying ini cukup nyaman untuk tempat anak berlari-lari, atau sekedar mengamati tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitarnya. Jadi, berombongan akhirnya kami memutuskan berjalan-jalan santai mengitari Taman Cibeunying dan mengamati bunga-bungaan yang dijual di kios-kios tanaman hias tepat di belakang taman.

Tak lama dari itu, bus merah cantik itu pun tampak di seberang taman. Waahh…

image

Masuknya antri ya Bu Ibu… sesuai jam kedatangan tentu saja, jadi yang datang duluan boleh memilih tempat duduk dimanapun.

Saya sebagai pendatang #apa atulah pendatang# ke 3 memilih duduk di bangku atas paling depan sebelah kiri. Ternyata, satu bangku yang diperuntukkan 2 orang itu sempit banget untuk diduduki 2 orang dewasa, dan lorong antar bangkunya pun tidak terlalu lebar. Padahal sebelumnya kita berpikir bisa ngegelar tikar di atas seandainya anak-anak ga kebagian tempat duduk hehe… Daan bertambah berdesakanlah kita karena satu bangku diduduki 2 orang dewasa + 2 anak di pangkuan masing-masing.

image

Beberapa hal yang harus diperhatikan ketika naik Bandros, terutama jika duduk di atas:

1. Selama perjalanan kita diharuskan duduk kecuali di jalan-jalan tertentu yang dibolehkan oleh si pemandu untuk berdiri. Kenapa harus duduk, padahal enak kan ya sambil berdiri, lebih leluasa mengedarkan pandang ke penjuru jalanan Bandung. Boleh lah kalau memaksa berdiri, dengan resiko tersangkut di ranting pohon atau kabel listrik #ih syerem ah >_<

Kita seringnya ga ngeh ya, kalau keliling-keliling Kota Bandung pemandangan kita hanya sebatas yang bisa kita lihat setinggi mata, padahal kalau sedikit mendongak ke atas, terlihat kabel-kabel listrik pabaliut yang signifikan sekali mengurangi keindahan Kota. Semogaaa… Kang Emil segera merealisasikan program nanem kabel-kabel itu di dalam tanah, yah walaupun bukan proses yang mudah, tapi bukan tidak mungkin kan?

2. Bawa topi, bukan PAYUNG, soalnya panaasss. Saya dong bela-belain beli payung H-1 ngeBandros, dan ternyataaa.. ga kepake. Yaa.. itu, lagi-lagi salah satu alasannya karena ranting dan kabel listrik yang malang melintang di atas jalanan Bandung. Salah duanya, karena mengganggu orang yang duduk di sebelah, depan, dan belakang kita.

Lalu, apa sih yang kita dapet setelah naik Bandros?

Kalau kita menyimak penjelasan dari tour guide dengan seksama, kita bisa dapet banyaaak sekali wawasan baru tentang bangunan-bangunan tua di Kota Bandung – penggunaannya dulu dan sekarang, siapa perancangnya – dan sekilas sejarah nama-nama jalan yang dilewatin Bandros. Ternyata, Bung Karno, Sang Proklamator, pun punya kedekatan emosional dengan Kota Bandung, mengingat beberapa gedung merupakan rancangan Wolff Schoemaker, yang diasisteni Soekarno.

Wolff Schoemaker, nama asing yang baru saya dengar itu, ternyata adalah guru besar pertama ITB – sebelumnya ITB bernama Technische Hoogeschool Bandoeng. Dulu, ITB hanya punya satu jurusan yaitu teknik sipil yang memang sengaja dibuat oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk memenuhi kebutuhan tenaga ahli untuk pembangunan di Hindia Belanda. Di ITB lah Soekarno menuntut ilmu dan menjadi asisten Wolff Schoemaker dalam merancang gedung-gedung, diantaranya Hotel Preanger.

Yang sedikit mencengangkan adalah ketika kita melewati 'gedung apalah itu' yang ternyata di atas pintu masuknya terpahat patung beberapa laki-laki yang *maaf* telanjang bulat.

Terus, baru pada tau kaan *gw aja kali* kalau ternyata jumlah bulatan di atas Gedung Sate itu menyimbolkan jumlah uang Gulden yang dihabiskan untuk pembangunan gedung tersebut, yang kalau dirupiahkan dengan kurs saat ini nilainya fantastis.

Belum lagi fakta, bahwa pada zamannya, fashion yang populer di kalangan atas Bandung justru baru populer di Eropa 3-4 bulan setelahnya. Makanya, Bandung disebut Paris Van Java, hmm… kenapa ga dibalik ya, Paris adalah Bandung Van Europe? Dan di Jalan Braga lah pusat mode itu bersumber, dimana 'peragaan fashion' tergelar di sepanjang jalan itu.

Wajah Bandung tempo dulu itu pula yang membuat para pemimpin dunia yang hadir di KAA tercengang, mereka tidak membayangkan, negara yang baru 10 tahun merdeka memiliki kota dengan penataan indah seperti Kota Bandung.

Ah, pokoknya mah banyak lagi deh info-info yang kalau saya ga naik Bandros mungkin ga pernah tahu. Berhubung waktu naik Bandros kemarin saya riweuh nutupin kepala karena panas, saya pengeeen banget naik Bandros lagi tapi duduk di bawah.. semoga kesampaian yaa… terutama sama suami yang belum pernah naik *hihi*

image