image

Pakai baju, ganti celana, “Ta Mim!”
Ambil minum, ambil makan, ambil sendok “Ta Mim!”
Gendong, ya Nabi a am aika, “Ta Mim!”
Dorong sepeda, “Ta Mim!”
Apa-apa Ta Mim…

Itu lah satu frase yang hampir dua minggu ini menjadi trending topic di rumah kami. Ta Mim, atau dalam bahasa manusia dewasa berarti ku Mim, atau sama Mim.

Sejak Akhtar berhasil disapih akhir Ramadhan yang lalu, atau sekitar pertengahan bulan Juli ini, ada 2 perasaan yang mendominasi saya.

Yang pertama, tentu saja lega. Alhamdulillah bisa tuntas menyusui Akhtar selama 2 tahun, bahkan lebih 1 bulan. Saya pun kembali melirik baju-baju lama, tapi masih bagus yang tidak berkancing depan, untuk saya pakai lagi. Dan tentu saja, saya juga bisa lebih leluasa meninggalkan Akhtar seharian jika ada keperluan.

Yang kedua, sedih. Sedih banget :( Bener banget berarti ‘teori’ teman saya, yang harus disapih itu sebenarnya bukan anaknya, tapi ibunya. Anak akan siap disapih kapan pun kalau ibu sudah siap menyapih. Saya makin mensyukuri nikmat menyusui justru setelah tidak menyusui. Betapa ternyata menyusui tidak hanya membuat anak nyaman, namun ibu pun nyaman. Karena ‘kangen’ menyusui itu, satu dua kali setelah disapih saya sendiri yang berinisiatif menyusui Akhtar, padahal Akhtar ga minta, untungnya ga keterusan haha…

Kesedihan lain karena berkurang lah salah satu ketergantungan Akhtar sama saya. Namun, ternyata Akhtar meminta perhatian dalam bentuk lain, yaitu “Ta Mim!”. Apa-apa harus Mim yang melakukan. Bahkan ke WC pun satu dua kali saya pernah membawa Akhtar karena dia sama sekali ga mau ditinggal.

Memang Ta Mim ini tidak terjadi sepanjang hari sepanjang waktu, namun semenjak disapih intensitasnya meningkat signifikan. Mungkin secara naluri Akhtar tahu ada ‘seseorang lain’ yang akan merebut perhatian saya, maka dia pun meminta perhatian dengan berlebihan, termasuk dengan mengamuk atau tantrum jika keinginannya tidak terpenuhi.

Percaya deh, saya udah mempraktikkan cara-cara menghadapi anak tantrum yang bertebaran dari banyak sumber di internet, hanya satu yang saya belum lulus, yaitu SABAR. Katanya, orang sabar, pantatnya lebar. Nah, saya belum cukup mampu melebarkan pantat untuk lebih sabar menghadapi Akhtar yang kadang-kadang sangat tidak bisa dipahami keinginannya. Maka sekali dua kali, sedikit bentakan pun akhirnya tak bisa saya tahan. Makanya, cooling down diperlukan dalam situasi ini. Saya menyingkir sejenak dari Akhtar sampai siap menghadapinya lagi, karena kalau tidak justru kekerasan dalam bentuk lain yang mungkin saya lakukan. Astaghfirullah…

Jadi, kalo satu saat Akhtar tantrum dan saya terlihat tidak peduli, sungguh bukan karena saya hanya memikirkan diri sendiri, tapi memang saya butuh waktu untuk meredakan emosi saya yang sudah pada puncaknya #curhat#

“Ta Mim!” ini lama-lama menjadi nyanyian yang terdengar merdu di telinga, apalagi kalau diucapkan Akhtar dengan suara dan langgam khasnya.

“Ta Mim… Ta Mim…” :D