*late post

image

Lama gak update blog, dan saya khususkan menulis hari ini untuk sedikit flashback kehidupan Akhtar 2 tahun ke belakang.

Ya, Akhtar tepat 2 tahun hari ini, 9 Juni 2015. Waktu yang singkat namun merangkum banyak kejadian dalam keluarga kami.

Akhtar lahir di sebuah rumah bersalin, bagian dari Rumah Sakit PTPN, di Kota Jember dalam kondisi rumah sakit yang ‘seadanya’. Saya bilang ‘seadanya’ karena saya berharap lebih dari sekedar seadanya itu. Namun itu pilihan, saya yang memilih menunggu saat-saat melahirkan di dekat suami, karena bagi saya itu lebih nyaman. Tapi ‘risiko’nya tidak banyak rumah sakit yang bisa jadi pilihan, mengingat Jember tidak sebesar Bandung, apalagi Jakarta. Pada akhirnya menjelang hari H, saya justru dijemput dan diantar ke RS oleh teman kantor suami, Mas Hadi, dan istrinya yang baik hati, karena malam itu suami masih dalam perjalanan pulang dari Surabaya untuk menjemput mertua saya dari Bandung.

Proses kelahiran yang diharapkan normal pun akhirnya berakhir caesar. Saya sendiri merasa dokter kandungannya tidak terlalu support normal, atau hanya perasaan saya saja? Karena dalam berkomunikasi, saya merasa beliau agak menjatuhkan mental saya untuk bisa melahirkan normal. Lagi-lagi itu konsekuensi dari pilihan saya, beliau adalah satu-satunya dokter kandungan perempuan terdekat, yang harus saya pilih karena suami hanya mengizinkan saya diperiksa oleh dokter kandungan perempuan.

Dengan kondisi seadanya pun, rumah sakit belum support IMD untuk kelahiran caesar, dan setelah lahir Akhtar langsung saja diberi formula dengan merek yang diminta dipilih oleh keluarga. Sementara saya masih di ruang ICU sampai 6 jam, dan menahan haus 2 jam terakhir karena saya tidak diperbolehkan minum sebelum efek obat biusnya hilang. Sampai berkali-kali saya minta minum, dalam keadaan setengah sadar saya seperti mendengar perawat mengatakan saya ‘ga sabaran’.

Ya itu sekelumit Akhtar di rumah sakit pada hari-hari pertamanya. Pelajaran bagi saya, agar lain kali (jika melahirkan lagi) lebih mengetahui hak-hak apa saja yang akan kita dapat/ tidak kita dapatkan sebagai pasien, juga penjelasan mendetail mengenai tindakan yang dilakukan RS dan konsekuensinya untuk pasien. Penting, untuk mendapatkan pengalaman melahirkan yang menyenangkan.

Beruntung, saya merasa terobati dengan dokter anak yang pertama menangani Akhtar, dokter Ayu yang ramah dan lembut menangani anak. Beliau mengunjungi saya di ruang rawat dan memeriksa kondisi Akhtar sebelum kami meninggalkan RS, yang Alhamdulillah semua dalam kondisi baik.

Akhtar tumbuh sehat, hanya pada bulan ke 10 ada ‘sedikit’ masalah dengan pertumbuhan Akhtar yang berturut-turut selama 2 bulan tidak mengalami kenaikan berat badan, sehingga badannya cenderung kecil dibanding anak seumurnya. Dan setelah diperiksakan ke beberapa dokter anak, terakhir ke dr Yulia di Bandung, beliau mendiagnosis Akhtar TB dan harus terapi obat anti TB selama minimal 6 bulan. Bukan hal yang mudah namun saya masih bisa lega dan bersyukur saat itu, karena dokter tidak mendiagnosis penyakit yang lebih berbahaya, berat, atau susah diobati.

Semakin sering kami bolak balik ke RS, semakin kami merasa harus bersyukur karena dalam antrian ke dokter, tak jarang kami mengantri bersama orangtua yang anaknya mengalami sakit yang tidak ringan.

Makanya, saya merasa tidak terbebani menjalaninya, hanya sesekali deg-degan melihat timbangan Akhtar yang tiap bulan tidak bertambah signifikan walaupun pengobatan terus berjalan. Ketika pada akhirnya pertengahan Februari 2015 pengobatan Akhtar dianggap cukup oleh dokter, berat badannya tidak mengalami kenaikan signifikan dibanding sebelum terapi, hanya naik sekitar 1,4 kg saja, dan Akhtar masih saja berpostur kecil dibanding anak seusianya. 

Selama terapi itu, jarang sekali saya menceritakan hal ini kepada orang lain. Hanya keluarga dekat dan beberapa teman saja yang pernah saya beritahu. Alasannya, saya tidak ingin orang mengasihani/ merasa prihatin atas kondisi Akhtar, toh walaupun ‘sakit’ Akhtar berkembang normal seperti anak lainnya, bahkan dalam beberapa hal dia melampaui anak seumurnya. Kedua, sakitnya Akhtar ‘tidak ada apa-apanya’ dibandingkan dengan beberapa anak yang saya ceritakan di atas, tidak ada yang perlu dikeluhkan, kami hanya mengusahakan pengobatan terbaik untuk Akhtar, bahkan walaupun harus menemui dokter sampai ke Malang dan Surabaya waktu itu, gara-gara saya tidak percaya pada dokter yang pernah menangani Akhtar di Pasuruan (waktu itu).

Dalam kondisi ini, saya belajar satu hal lagi tentang empati, bahwa rasanya tidak bijak menceritakan secara luas tentang sakitnya anak kita, padahal di luar sana, mungkin banyak orangtua yang ‘menginginkan’ anaknya ‘hanya’ mengalami sakit seperti anak kita.

Selesai terapi, rasanya saya seperti keluar dari penjara yang sangat pengap, masyaAllah, legaaaa banget, setidaknya saya tidak harus menyiapkan obat Akhtar lagi setiap setengah jam sebelum sarapan.

Kini, memasuki dua tahun, Akhtar mulai menunjukkan sisi ‘devil’nya, semakin sering tantrum, tapi pada akhirnya saya mengintrospeksi diri dan mungkin ini merupakan teguran atas cara asuh kami yang di beberapa hal kurang tepat. Kami seringkali terlalu cepat menuruti permintaan Akhtar dengan alasan ‘daripada nangis’, ga tega atau ga enak ‘berbagi’ suara tangis anak sama tetangga.

Tantrum Akhtar mulai sering ‘kambuh’ sejak kami pindah ke Jakarta. Di Jakarta kontrakan kami tidak punya halaman, dan Akhtar cepat bosan dengan aktivitas dalam rumah, pada akhirnya setiap hari dia selalu merengek sekali, dua kali, bahkan lebih, meminta bermain keluar rumah, lebih tepatnya berdiri di pinggir rel kereta melihat KRL lewat. Belum lagi, pada malam harinya, dia seperti tidak kehabisan energi untuk terus beraktivitas sampai dini hari.

Karena merasa kewalahan, saya pun pada akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu di Padalarang dibanding kontrakan di Jakarta.

Tiga hari terakhir ini saya mencoba lebih sabar, dan berkomitmen mempraktikkan sedikit ilmu tentang mengatasi anak tantrum. Diantaranya tidak cepat menuruti keinginan Akhtar ketika tantrum. Ternyata ‘hanya’ butuh ‘sedikit’ sabar, ‘sedikit’ tenaga untuk menahan tubuh Akhtar yang meronta dalam pelukan, ‘sedikit’ tega, ‘sedikit’ berbagi keributan dengan tetangga, hingga pada akhirnya Akhtar berhenti sendiri menangis dan bersikap lebih manis. Ternyata cara itu membuahkan hasil, kini sikapnya lebih mudah dikendalikan.

Sebagai orangtua baru, kami masih terus belajar dan belajar. Berbekal sedikit pengalaman bersama Akhtar 2 tahun ini, kami tidak akan mengulangi hal-hal yang semestinya tidak dilakukan kepada calon adik Akhtar yang saat ini sudah 10 minggu berada dalam rahim saya.