“Siap-siap pindah lagi, kata Pinca”, kata suami saya singkat melalui Whatsapp tanggal 17 Maret 2015 lalu.
Kalau sekedar ‘siap-siap’ sih dari awal memutuskan kerja di bank terbesar dan tersebar di Indonesia ini, berarti suami emang mesti selalu siap dipindah-pindah, lah wong wis teken kontrak kudu siap ditempatkan di seluruh Indonesia bahkan di daerah pelosok, sepelosok-pelosoknya. Pertanyaan pentingnya adalah, pindah kemana???

“Belum tau, antara Kanwil atau Kanpus”, jawab suami saya.
Jadi, kemungkinannya adalah Malang atau Jakarta. Hmm… not bad lah, pindah ke kota besar setidaknya memberi kami lebih banyak pilihan pada berbagai akses pendidikan, kesehatan, transportasi, hiburan, de el el.

image

Tapi, ada tapinya juga.
Malang terlalu dekat dari Pasuruan, hanya berjarak tempuh 1 s.d 2 jam, sehingga tidak berpengaruh signifikan pada pengurangan ongkos mudik dan waktu tempuh ke kampung halaman.

Sementara Jakarta, walaupun hanya 2 jam dari Bandung, tapi kota itu terlalu besar dan keras, untuk keluarga kecil seperti kami dengan seorang bocah yang belum genap 2 tahun. Lagipula, di lubuk hati yang terdalam, ada sedikit enggan untuk kembali ke Jakarta, haha. Jakarta, buat saya, adalah salah satu kota di Indonesia yang masuk urutan buncit sebagai kota yang akan saya pilih untuk saya tinggali.

Bagaimanapun, surat keputusan sudah turun. Malang atau Jakarta?

JAKARTA!!!

image

Keluarga di kampung halaman menyambut dengan suka cita, menyisakan saya yang berdebar-debar membayangkan ibukota yang suasananya membuat orang cepat ‘panas’ dan berprasangka tidak baik pada orang yang tak dikenal.

Fiuhh… Ibu kota, sambut lah keluarga keluarga kecil kami dengan ramah :)

image

Dan hari pertama mengetahui berita tersebut, saya sibuk meng-google, dengan kata kunci tak jauh-jauh dari
“Kontrakan di daerah….”
“Sewa rumah di….”
“Sewa kost di….”
bahkan nekad pula saya ketikkan
“Sewa apartemen di….”

Pusiiiing pala Barbie…

Di Pasuruan ini, kami tinggal selama hampir 1,5 tahun di sebuah rumah dalam kompleks perumahan yang aman tenteram, dengan 2 kamar tidur, ruang tamu, ruang tengah, kamar mandi, dapur, masih ditambah halaman belakang dan carport dengan biaya sewa 6 juta per tahun. Murah? Alhamdulillah… dapat harga teman, berhubung si pemilik rumah kenalan suami saya. Tapi kalaupun lebih mahal, saya rasa ga akan mahal-mahal amat.

Di Jakarta, mendapatkan harga sewa segitu dengan spesifikasi rumah seperti di atas, hanya mimpi. Kami melipatgandakan budget untuk rumah 3 s.d 4 kali dari harga sewa di Pasuruan, dan itu pun, kalau sekedar mencari di internet, susahnya minta ampun, banyak pertimbangannya.

Pertama, soal jarak dan akses transportasi umum/ pribadi ke kantor. Pilih yang dekat kantor, harga sewa mahal banget. Pilih yang jauh dari kantor, transportnya yang agak merepotkan.

Kedua, walaupun saya dan suami pernah tinggal di Jakarta dalam waktu yang cukup lama, namun kondisinya sekarang kami membawa batita, yang sedang dalam masa perkembangan yang sangat pesat. Maka, lingkungan tempat tinggal menjadi hal yang paling kami pertimbangkan.

Dengan kriteria yang ‘hanya’ dua itu saja, plus pertimbangan dari budget yang ga seberapa, pada akhirnya hasil berasyik masyuk dengan si google hari itu pun NIHIL.

Kalaupun ada rumah yang masuk budget, kondisinya kalau sekedar dilihat dari foto terlihat kurang nyaman ditinggali. Dengan budget tak seberapa, memang kami tidak bisa berharap banyak.

Blusukan, ala Mr Presiden, menjadi salah satu jalan terefektif menemukan kontrakan yang sreg di hati. Dan itu berarti baru akan kami lakukan awal April nanti berbarengan dengan kepindahan kami ke Jakarta.

Ya Allah… permudahlah…