image

Identitas Buku

Judul Buku : Pendidikan Anak Ala Jepang
Penulis : Saleha Juliandi dan Juniar Putri
Penerbit : Pena Nusantara
Cetakan : I, Oktober 2014
Tebal : xii + 173 halaman

***

Tuntas membaca buku “Pendidikan Anak Ala Jepang” membuat saya merasa, hmm… semakin miris dengan sistem pendidikan (formal) di Indonesia. Kapankah sistem pendidikan Indonesia akan menyamai atau, kalau boleh berangan-angan, melampaui Jepang, yang mana disana pendidikan karakter lebih dikedepankan daripada sekedar nilai-nilai mata pelajaran di atas kertas?

Rasa-rasanya sistem pendidikan kita tidak banyak berubah selama belasan tahun (atau puluhan tahun?) belakangan ini, kecuali perubahan kurikulum yang berganti hampir di setiap periode pemerintahan, itu pun kadang dibarengi pro dan kontra.

Tujuh belas tahun lalu, ketika mengikuti Ebtanas kelas 6 SD, kami sekelas mendapat contekan jawaban langsung dari wali kelas dan guru pengawas, dan saat ini pun masalah kebocoran soal UN atau contek menyontek massal sudah biasa menghiasi berita UN tiap tahun. Tapi toh tiap tahun berulang terus? Artinya tidak ada perbaikan? Itu hanya salah satu contoh persoalan saja. Persoalan lainnya? Bullying, pornografi, kekerasan guru terhadap murid, atau sesama murid, ah… makin panjang saja daftar kekhawatiran saya, membuat orangtua merasa semakin berat melepas anak-anaknya ke sekolah.

***

It takes a village to raise a child“, demikian ungkapan yang sering kita dengar. Dan seperti itulah Jepang dalam membesarkan generasi mudanya. Tidak hanya orangtua dan guru yang mengambil peran mendidik dan melindungi anak-anak, orang-orang di lingkungan sekitarnya pun menempatkan diri sebagai pendidik dan pelindung anak-anak.

Misalnya, diceritakan di buku itu, ketika anak-anak SD berangkat sekolah, yang mana harus berjalan kaki dengan jalur tertentu, masyarakat yang dilalui dalam perjalanan menuju/ dari sekolah diberdayakan untuk menjaga anak-anak itu, demi memastikan keamanan dan keselamatan anak-anak hingga tiba di/ dari sekolah. Rasanya istimewa sekali ya jadi anak-anak di Jepang.

image

Diambil dari buku Pendidikan Anak Ala Jepang

Selain itu, di bawah ini saya catat beberapa hal unik, menurut saya, yang membedakan sekolah di Jepang dengan di Indonesia, pada umumnya:

Sekolah/ guru-guru disana menganggap semua anak pandai dan memiliki kelebihan masing-masing. Satu anak tidak dibanding-bandingkan dengan anak yang lainnya, maka tidak ada istilah si A lebih bodoh, atau si B lebih pantas mendapat hadiah, dsb, bahkan dalam suatu pesta olahraga antar siswa pun, semua siswa, tidak hanya yang jago di bidang olahraga, terlibat aktif dalam setiap perlombaan termasuk anak yang berkebutuhan khusus. Semua anak akan mendapat hadiah yang sama pada akhir acara, karena tujuan acara itu adalah untuk mencapai kesehatan bersama, lebih dari sekedar mencapai prestasi angka-angka.

image

Selain itu, sistem penilaian mereka di rapor tidak berupa angka dan tidak ada sistem rangking. Hanya ada 3 kategori nilai yaitu perlu ditingkatkan, bagus, dan sangat bagus. Tidak ada istilah tidak naik kelas, karena anak di’kelas’kan berdasarkan umurnya. Jika anak kurang bisa mengikuti pelajaran, maka tugas gurunya lah untuk membimbingnya secara khusus.

Anak-anak bersekolah harus di wilayah tempat tinggalnya, kalau di Indonesia setara kelurahan atau kecamatan kali ya? Karena jaraknya yang relatif dekat, maka anak-anak SD dst harus berjalan kaki ke sekolah. Sementara anak-anak TK naik jemputan. Hal itu sekaligus juga dapat mengurangi jumlah kendaraan di jalan raya, mengurangi polusi, menghemat energi, dan membuat tubuh lebih bugar, kan?

Hmm, terpaksa saya harus membandingkannya lagi dengan Indonesia. Karena kadung ada persepsi sekolah unggulan, sekolah favorit, sekolah standar internasional, dan semacamnya, maka banyak orangtua berlomba-lomba menyekolahkan anak-anaknya di sekolah dengan cap mentereng itu, dimanapun lokasinya.

Lagipula, sepertinya belum ada standar mutu tertentu untuk sekolah-sekolah negeri di Indonesia. Jadi, sekolah yang bagus, sering memenangi perlombaan/ kejuaraan, fasilitasnya baik, dan lulusannya banyak diterima di sekolah unggulan di jenjang berikutnya itulah yang menjadi favorit, sayangnya predikat itu hanya disematkan pada sekolah-sekolah tertentu saja, sehingga terasa adanya kesenjangan antara satu sekolah dengan sekolah yang lainnya, padahal sama-sama dikelola oleh negara.

Tentang budaya masyarakat Jepang yang sangat senang membaca, ternyata karena sejak usia dini mereka sudah dikenalkan pada buku. Anak-anak di TK ataupun TPA dibacakan buku-buku cerita setiap hari. Dibacakan lho ya, bukan diajari membaca. Hmm, di Indonesia? Sayangnya, di usia TK anak-anak sudah ‘dipaksa’ belajar membaca, bahkan SD-SD tertentu mensyaratkan calon muridnya sudah bisa membaca sebagai syarat diterima di sekolah tersebut.

image

Poin berikutnya, guru menjadi profesi favorit dan bergengsi disana. Sebagai contoh, diungkapkan data bahwa perbandingan pelamar dengan kebutuhan guru TK disana adalah 4:1. Artinya, satu posisi profesi guru TK diperebutkan oleh 4 orang. Tidak dipaparkan sih di buku itu apa karena guru disana menerima tunjangan/ gaji yang besar atau bagaimana? Hanya katanya, hanya ada dua profesi yang pelakunya disebut sensei, yaitu profesi dokter dan guru. Guru disana pun mengajar muridnya dengan cara kreatif dan inovatif.

Selain itu mereka pun menjalin hubungan baik dengan para orangtua. Misal, pada awal tahun ajaran, guru kelas akan mengunjungi rumah muridnya satu per satu. Juga adanya buku penghubung yang menjelaskan perkembangan anak di sekolah, dan begitupun orangtua menuliskan kondisi anaknya di rumah.

Hal yang tidak umum terjadi di persekolahan Indonesia ya kan? Karena guru banyak yang lebih sibuk dengan urusan administrasi dan mengejar target menyelesaikan semua bahan pelajaran, sehingga terkesan kuantitas pelajaran lebih utama dibandingkan kualitas.

image

Di Jepang, sekolah tidak menyediakan kantin. Anak-anak membawa bekal dari rumah, atau sekolah yang menyediakan makan dengan standar kebersihan yang baik dan gizi yang seimbang.

Hal ini yang masih sangat sulit berlaku di Indonesia. Hal paling minimal yang bisa dilakukan sekolah kita adalah melarang anak-anak jajan di luar pagar sekolah dan menyediakan jajanan bermutu di dalam sekolah. Tapi jarang sekali saya menemukan sekolah yang di luar gerbangnya bersih dari pedagang jajanan.

Seharusnya pemerintah lebih concern terhadap hal ini, misalnya dengan mengeluarkan peraturan tertulis tentang larangan berjualan di sekitar gerbang sekolah, atau ada aturan dari sekolah yang melarang siswa jajan di luar gerbang sekolah. Karena bagaimanapun konsentrasi belajar siswa juga bisa dipengaruhi oleh apa yang masuk ke dalam perutnya.

***

Dan, banyak yang lainnya sebenarnya, tidak saya tulis satu per satu disini, membaca bukunya langsung akan lebih membuka wawasan.

Tapi, tidak ada yang sempurna di dunia ini, ya kan? Sebagus apapun sistem pendidikan Jepang, tetap ada celah yang mencederainya. Di buku lain yang berkisah tentang Jepang (lain waktu saya buat tulisannya juga ya), diceritakan masyarakat Jepang yang cenderung dingin dan kaku terhadap orang lain. Penulis di buku itu menceritakan bahwa ibu-ibu di Jepang cenderung dingin merespon anaknya yang jatuh. Di satu sisi, hal itu lah yang membentuk anak-anak Jepang menjadi pribadi pekerja keras dan ulet, namun, mungkin sikap dingin orangtua itu lah yang membentuk orang Jepang menjadi dingin dan kaku juga terhadap orang lain?

Selain itu, kita pun tak bisa menafikan fakta bahwa angka bunuh diri di Jepang sangat tinggi. Mungkin itu adalah ekses dari karakter mereka yang terlalu bekerja keras? Atau terlalu menuntut kesempurnaan? Atau karena kurangnya kehangatan di lingkungan sosial mereka? Sekali lagi, tidak ada yang sempurna, ya kan?

***

Kesimpulan dari saya sih, ambil yang baik, buang yang buruk.

Kita, orangtua, mungkin tidak bisa berbuat banyak menuntut sekolah (di Indonesia) berubah menjadi lebih ‘ramah anak’ atau menjadi ideal sesuai dengan yang kita impikan, tapi banyak hal yang bisa kita lakukan di rumah, yaitu dengan membekali anak dengan karakter baik yang kuat yang tidak mustahil akan mewarnai lingkungannya, termasuk lingkungan sekolahnya. Karena, tetap, sebagus apapun sekolah, orangtua lah yang paling bertanggungjawab terhadap pendidikan anak-anaknya.

-selesai-