image

Kota Bandung, di bawah kepemimpinan Kang Ridwan Kamil, menjadi kota yang selalu berbenah dan mempercantik diri. Ada banyak ruang publik yang dibangun atau diperbaiki, dan masih banyak lagi yang direncanakan akan dibangun.

Salah satu yang baru dari Kota Bandung adalah alun-alunnya. Beberapa hari sebelum peresmiannya tanggal 31 Desember 2014 lalu, orang-orang sudah ramai berbagi keseruannya di alun-alun lewat foto-foto yang diunggah di medsos.

image

Kami pun tidak ingin melewatkan kesempatan menjadi orang-orang pertama yang melihat wajah baru alun-alun Kota Bandung. Kebetulan awal tahun ini kami sedang mudik ke Bandung.

Maka pada hari Jumat tanggal 2 Januari 2015 lalu, kami menuju alun-alun menjelang sore hari setelah siangnya Kota Bandung diguyur hujan yang cukup deras. Sesampainya disana saya amazed, seumur-umur saya kenal Bandung belum pernah saya menyaksikan alun-alun seramai dan sepadat itu. Anak-anak berlari-lari bahagia, ada juga yang lempar-lemparan bola, muda mudi ber’selfie’ ria, kelihatannya hampir setiap orang disitu memegang kamera.

image

Sayangnya, karena baru selesai hujan, hamparan rumput sintetis yang ‘ditanam’ menjadi basah, jadi kami tidak leluasa duduk-duduk. Bahkan hanya berjalan-jalan saja pun ujung rok menjadi basah.

Sebenarnya, yang lebih menarik untuk diamati bagi saya adalah bagian lain dari alun-alun, yaitu Masjid Raya Kota Bandung.

image

Termasuk kemarin, terhitung baru dua kali saya shalat di masjid besar itu. Yang pertama pada masa kuliah dulu. Sedihnya, masjid raya ini tidak meninggalkan kesan baik pada pandangan pertama. Mungkin karena letaknya yang berada di tengah-tengah kawasan pertokoan dan pusat perbelanjaan, juga dekat halte bus dalam kota, sehingga masjid itu lebih seperti tempat beristirahat orang-orang yang lelah berjalan-jalan dan belanja, daripada tempat orang-orang yang mencari khusuk dalam beribadah (dalam arti sempit ya).

Dulu,

masuk ke halaman masjid, yang mana adalah taman alun-alun, banyak sekali pedagang yang memasang tenda seadanya tanpa memerhatikan estetika, pun ada yang menggelar dagangannya begitu saja. Sampah? Jangan tanya, berserakan dimana-mana.

Melangkah ke selasar masjid, pemandangan tidak lebih baik. Pedagang-pedagang dengan keranjang asongan, duduk menjajakan mie instan cup atau kopi panas yang bisa diseduh disitu juga. Sepanjang dinding luar masjid, orang-orang bersandar, meluruskan kaki, tiduran, sebagian sambil makan dan minum.

Memasuki tempat wudhu dan area shalat, saya bisa berkesimpulan, ini bukan tempat yang kondusif untuk beribadah. Di antara masjid-masjid besar yang pernah saya kunjungi di Kota Bandung, hanya masjid di alun-alun ini yang tidak membuat hati saya terpanggil untuk mengunjunginya lagi :(

Sangat disayangkan, karena alun-alun biasanya menjadi wajah kota yang menjadi citra kota secara keseluruhan. Walaupun saat ini sih, banyak kota yang ‘pusat’nya sudah tidak di alun-alun lagi.

Apalagi, disitu juga berdiri masjid besar dan megah yang seharusnya menampilkan citra Islam yang indah dan bersih, namun yang terlihat adalah lingkungan masjid yang kotor dan tidak enak dipandang mata.

Kini wajah masjid raya lebih baik. Jumlah pedagang yang berjualan di selasar berkurang drastis, walaupun kemarin saya sempat melihat seorang penjaja mie instan dan kopi yang sepertinya masih (mencuri-curi kesempatan) berjualan di balik tiang masjid.

Hanya kemarin terjadi ketidaknyamanan di tempat wudhu wanita. Banyak laki-laki dewasa yang wudhu di tempat wanita, padahal di depan pintu masuk tulisan ‘Tempat Wudhu Wanita’ tertulis sangat besar. Saat giliran saya wudhu, air dari semua keran tidak mengalir, hanya satu keran saja yang menyala, dan disitu lebih dari 10 orang mengantri, sebagian besarnya adalah laki-laki. Saya tidak paham, apakah air di tempat wudhu laki-laki pun mati? Sehingga mereka berpindah ke tempat wudhu wanita?

Area shalatnya sendiri agak membingungkan, terutama di ruangan luas bagian depan. Saya tidak tahu, dimana tepatnya area shalat khusus wanita, karena orang-orang shalat dimana saja mereka mau, tidak ada pemisah antara area pria dan wanita. Bahkan di bagian yang saya melihat tulisan ‘Khusus Wanita’ pun, banyak sekali laki-laki duduk-duduk berselonjor kaki.

Untuk jamaah yang ingin lebih nyaman shalat, sebaiknya mengambil tempat di bagian dalam masjid yang menjadi ruang shalat utama, mungkin disana suasananya lebih nyaman. Hanya bagi yang tidak mengenal denah masjid seperti saya, ruang shalat utama itu seperti ‘tersembunyi’.

image

Tulisan ini mungkin tidak mengubah apa-apa. Saya pun saat ini hanya duduk mengetikkan kata-kata tanpa berbuat sesuatu yang nyata. Hanya saya menyimpan harap, semoga masjid ini ‘kembali’ ke fungsinya sebagai pusat kegiatan umat Islam yang nyaman di hati, lebih dari fungsi rekreasi yang (menurut saya) lebih terlihat saat ini.