Kembali mendapatkan ‘pelajaran kecil’ saat kunjungan ke dokter anak di RSIA Hermina Malang, dua minggu yang lalu.

Saya duduk tak jauh dari pintu ruang dokter, dekat dengan sudut ruangan yang dijadikan tempat bermain anak-anak. Beberapa anak bermain perosotan disitu.

Sementara menunggu giliran, Akhtar dan Papapnya jalan-jalan mengitari ruangan, sementara saya duduk sambil memainkan HP. Tiba-tiba terdengar suara ‘jeduk’ cukup kencang dari perosotan. Nampaklah seorang anak berbadan tambun, usia sekitar 7 atau 8 tahun, jatuh tersungkur dengan posisi kepala di lantai sementara badannya masih di atas perosotan.

Saya menengok sebentar, menerka apa yang sebelumnya terjadi, pun beberapa orang di ruang tunggu itu. Namun kemudian, ibu si anak datang mencoba menolong si anak dengan mulut yang tak berhenti mengoceh.

“Kamu ini sudah Mama bilangin, mainnya yang bener, masa perosotan kepala duluan”
Si ibu mengulurkan tangan hendak membantu, namun si anak menolak dengan gesture marah.
“Mau dibantuin kok malah diem kamu? Jelek itu. Orang mau bantu kok malah marah?”
“Itu kepala kamu kena lantai, kalau bocor gimana kamu? Kamu kok gak mau dibilangin”
Yah, dialognya ga persis seperti itu sih, tapi kira-kira begitu lah.

Si anak bangkit sendiri, tidak menangis sama sekali, tidak berkata sepatah kata pun, lalu hanya berdiri menghadap tembok membelakangi ibunya yang masih mengoceh.

***

Saya pun bukan ibu yang baik. Dalam beberapa hal saya lalai mengawasi Akhtar. Dalam keadaan kaget atau kesal pun beberapa kali saya pernah marah. Walaupun saya tahu, anak seumur 1,5 tahun mana bisa menangkap pesan ‘marah’? Tapi dari kejadian di atas, saya tetap tak bisa tidak menyalahkan si ibu yang bereaksi berlebihan.

Si ibu mungkin marah karena kaget atau khawatir, tapi dengan memarahi si anak bahkan di depan banyak pasang mata disitu, mungkin malah membuat si anak terpojok, tidak bisa membela dirinya, merasa direndahkan harga dirinya, atau perasaan lainnya? Bentuk ‘perlawanan’ yang terlihat adalah ketika si anak tidak mau dibantu berdiri oleh ibunya dan tidak menunjukkan rasa sakitnya, seolah-olah ingin mengatakan, “Lihat Ma, aku ga kenapa-kenapa”.

Semoga sebagai orangtua saya bisa belajar, untuk lebih bersabar. Belajar, berkomunikasi yang baik dengan anak.