Kali ini saya coba buatkan resume buku Right from The Start, Panduan Mengajarkan Seksualitas yang Utuh, Lengkap, dan Benar kepada Anak, karya Bunda Hana.
image

***
Pengantar

Ada dua hal yang bisa menghancurkan hidup seorang anak yaitu penyalahgunaan seks dan narkoba.

Penyalahgunaan seks semakin hari semakin merajalela dan semakin intim mendekati anak walaupun orangtua mencanangkan perang terhadap seks dan terus mempropagandakan ajakan perang ini kepada anak dengan berbagai doktrin dan larangan. Namun semakin keras usaha kita memaksa anak menjauhi seks, semakin terangsang anak mendekatinya.

Hal ini terjadi karena orangtua menerapkan taktik dan strategi yang keliru. Semangat perlawanan ini tidak diikuti dengan upaya kita mengenali musuh.

Sebagai langkah awal, harus dicamkan dalam benak kita bahwa taktik paling jitu menghindari penyalahgunaan seks adalah dengan tidak menghindarinya dan mengajak anak untuk mengenal secara utuh, lengkap, dan benar.

1. Orangtua Harus Mengajarkan Seks kepada Anaknya

Pola pikir paranoid orangtua yg beranggapan pengetahuan seks yang diberikan secara prematur kepada anak akan mendorong anak untuk aktif secara seksual lebih dini, membuat banyak orangtua merasa risih memberikan pendidikan seks kepada anak.

Umumnya orangtua merasa terintimidasi dengan pertanyaan anak soal seks sebab:
– Tidak tahu jawaban pas untuk jawaban ‘seram’ anak
– Tidak rela membayangkan anak yang polos ‘dikotori’ oleh pembicaraan seks yang erotis
– Takut jika diajarkan seks, anak malah terburu-buru ingin ‘mencicipinya’

Cara orangtua memperlakukan seks merupakan titik tolak anak mempelajari seks. Untuk itu janganlah bersikap tertutup terhadap seks karena tanpa bekal yang memadai anak akan menafsirkan seks secara keliru dan terdorong untuk melakukannya secara keliru pula.

Berikan informasi tentang seks secara utuh, lengkap, dan benar, sehingga seks tidak hanya hadir secara terpotong, misalnya sisi mesum dan vulgarnya, tapi lebih dari itu seks harus dipahami secara utuh melalui beragam dimensi yang menyertainya.

Berikan pengetahuan a to z tentang seks, dengan nyaman, terbuka, jujur, dan apa adanya. Pastikan anak menerima informasi yang berlebih tentang seks.

Mengapa berlebih? Kita analogikan dengan konsep surplus dan defisit. Anak yang ‘defisit’ pengetahuan seksnya akan mencari dan meng’impor’ pengetahuan itu dari luar, yang belum tentu benar, misalnya dari teman sebaya, majalah porno, atau blue film.

Maka, supply lah pengetahuan seks kepada anak secara berlebih, ubah pola pikir dengan mengikis rasa malu dan sungkan ketika memberi pengetahuan seks kepada anak. Jangan takut dengan pengetahuan seks pada anak, karena ketidaktahuanlah yang justru dapat mendorong anak melakukan seks secara tercela.

Tidak ada istilah terlalu dini untuk mengajarkan pengetahuan seks kepada anak selama pengetahuan itu disampaikan dengan informatif dan normatif.

Langkah mudah mengawali pendidikan seks adalah dengan memperkenalkan kosakata payudara, penis, atau vagina, dan tidak menggantinya dengan istilah lain sebagai substitusi karena dapat memutarbalikkan logika polos anak kita.

Misal, ketika kita menyebut penis dengan ‘burung’ si anak mungkin akan bertanya, “Ma kenapa kok burungnya tidak bisa terbang?”

Ketika mengajarkan tentang seks, singkirkan pikiran-pikiran erotis dewasa dari otak dan transfer pengetahuan itu kepada anak sebagai sesuatu yang wajar, normatif, dan apa adanya.

2. Mengapa Seks Harus Diajarkan?

Pada prinsipnya, mengajarkan seks kepada anak sama halnya seperti memberikan imunisasi. Anak yg mendapatkan ‘imunisasi’ pengetahuan seks dengan lengkap diharapkan memiliki kekebalan dan kontrol diri yang tinggi terhadap serangan penyalahgunaan seks. Hanya anak dengan kontrol diri yang kuat saja yang dapat menentukan sikap tanpa terpengaruh lingkungan sekelilingnya.

Jangan sekali-sekali mengabaikan virus ‘seks yang tidak bertanggungjawab’ ini, karena berdasarkan penelitian, dampak kecanduan pornografi lebih kompleks dibanding jenis adiksi lain, karena kecanduan ini tidak hanya mempengaruhi fungsi luhur otak, juga mempengaruhi keseluruhan tubuh anak, baik fisik maupun emosinya.

Kecanduan pornografi secara keseluruhan akan menurunkan potensi sumber daya anak selaku manusia yang berkualitas.

Bentuk lain penyalahgunaan seks yang mungkin timbul adalah terjadinya promiskuitas dan prostitusi.

Promiskuitas adalah salah satu bentuk kelainan seksual, dimana pengidapnya akan mudah melakukan hubungan seks dengan pasangan yg berganti-ganti. Jika promiskuitas dilakukan demi uang, maka pelakunya disebut pelacur, dan perilakunya digolongkan pada prostitusi.

Selain sangat merendahkan harga diri, perilaku seks seperti ini juga mengundang berbagai resiko kesehatan seperti HIV/ AIDS dan penyakit menular seksual lainnya.
Alasan lain mengajarkan pengetahuan seks adalah agar tidak terjadi KTD (kehamilan tidak diinginkan). KTD merupakan pemicu terbesar perilaku aborsi kriminalis.

3. Bagaimana Mengajarkan Seks kepada Anak?

Tidak ada cara instan, kecuali mengajarkannya setahap demi setahap sejak dini.

Ajarkan dari hal yang paling sederhana dan jadikan kebiasaan sehari-hari.

Kosakata klinis seperti penis, testis, vagina, payudara, dll hendaknya masuk ke perbendaharaan kata sehari-hari. Ini cara jitu menyingkirkan tabu terhadap seks.

Latih semua anggota keluarga untuk tidak bersikap risih dan jengah ketika membicarakan seksualitas.

Beberapa orangtua menanyakan, mengapa anak mereka yang praremaja sudah menunjukkan sikap risih ketika membicarakan seks. Mereka khawatir sikap tersebut muncul karena anak-anak mereka sudah terkontaminasi erotisme seks. Jawabannya, kekhawatiran itu berlebihan karena sikap risih pada anak itu mungkin karena anak meng-copy sikap orangtua dan orang-orang di sekitarnya terhadap seks.

Maka yang harus pertama kali dikikis adalah perasaan risih yang menetap di pikiran kita, selaku orangtua.

Menghapus sikap risih bukan berarti serta merta mengizinkan anak mengucapkan tanpa aturan kata-kata yang berkaitan dengan kelamin dan seks di luar konteks. Ada adab yg harus dipatuhi.

Ini berarti mengajarkan anak untuk tidak menghamburkan seksualitas jika sekedar untuk menarik perhatian. Misalnya, para balita cenderung mengucapkan kata-kata seperti pantat, vagina, dll di luar konteks dengan suara keras hanya karena dia tahu itulah cara paling cepat untuk mengundang reaksi heboh orangtua dan orang-orang di sekelilingnya.

Beritahukan anak secara bijak bahwa seks bila diucapkan pada konteks yang tepat adalah sesuatu yang wajar, tidak apa-apa. Namun tidak sopan jika diucapkan dengan konteks yg tidak jelas. Tuntun anak untuk tidak membicarakan seks di sembarang tempat. Semua ada tempat dan saat yang tepat sehingga akan dihargai oleh orang yang mendengar.

Hal lain yang harus dibekalkan kepada anak adalah bahwa setiap keluarga memiliki standar moral yang berbeda dalam beberapa hal. Misalnya, untuk seks, agama, adab makan minum, dll.

Ajarkan anak untuk untuk menjaga standar moral seks keluarganya tanpa mesti mengonfrontasikannya dengan orang lain. Jelaskan bahwa anak boleh menghormati prinsip keluarga lain tapi tidak ikut-ikutan jika prinsip itu bertolak belakang dengan yg dianut keluarganya.

Agar terbiasa membicarakan seks secara terbuka, biasakan melatih diri untuk bisa melakukan supportive communication, yaitu cara komunikasi yang netral dan tidak menghakimi.

Kebalikan dari komunikasi suportif ini adalah komunikasi defensif. Ciri khas perilaku ini adalah:
– Cenderung mendominasi setiap momen komunikasi, sehingga komunikasi hanya terjadi satu arah dan berdasar pada penilaian subjektif si pengirim pesan.
– Komunikasi defensif meniadakan keterbukaan karena si pengirim pesan sibuk pada pikirannya sendiri, dan sibuk melekatkan cap dan stigma yang diinginkannya pada si penerima pesan.
– Sikapnya superior dan selalu ingin mengontrol lawan bicara.
– Pendek kata, perilaku ini memaksa si penerima pesan masuk ke dalam konsep dan kerangka berpikir si pengirim pesan dengan egois.

Kebalikannya adalah komunikasi suportif. Kunci sukses menerapkan ini adalah mau bersikap equal, sejajar antara orangtua dan anak. Bersikap equal juga berarti tidak bersikap superior dengan mencitrakan diri sebagai si serba tahu.

Contoh komunikasi defensif:
Misal, anak melihat kucing kawin, lalu mengajukan pertanyaan bertubi-tubi, “Lho itu kucingnya ngapain? Kok begitu? Kenapa itu kucingnya?”
Orangtua yang defensif akan menjawab, “Udah ah anak kecil nanya yang begituan. Nanti Mama jewer kalau nanya-nanya lagi”

Contoh komunikasi yang suportif:
Anak bertanya, “Bu, diperkosa itu artinya apa sih?”
Ibu menjawab, “Yuk sama-sama cari artinya di kamus”

Hal positif jika orangtua berkomunikasi secara suportif:
– Adanya keterbukaan emosional anak kepada orangtua
– Tumbuhnya kepercayaan diri anak terhadap orangtua
– Terciptanya dialog yang jujur dan harmonis dalam keluarga
– Terbentuknya kedekatan yang solid sesama anggota keluarga.

Setelah memahami komunikasi yang suportif maka mari kita mengimplementasikan ketika mengajarkan seks pada anak.

Bersikap Jujur dan Terbuka

Menyampaikan informasi dengan benar dan apa adanya. Tidak menjawab asal-asalan, tidak akurat, dan melenceng dari subjek pertanyaan.

Step By Step

Mengajari anak selangkah demi selangkah sejalan dengan pertanyaan yang mereka ajukan. Sesuaikan cara penyampaiannya dengan tingkat pemahaman anak.

Santai

Belajar bersikap santai, wajar, dan biasa-biasa saja. Jaga intonasi suara saat menjawab pertanyaan anak, tidak perlu heboh dan berlebih-lebihan. Hati-hati dengan pesan non verbal yang hadir dalam setiap momen komunikasi.

Hindari Kemarahan yang Negatif

Marah yang negatif berarti menolak pertanyaan anak dengan hardikan dan umpatan kata-kata kasar. Hindari menanamkan persepsi negatif tentang seks karena akan memicu pemahaman seks yang keliru.

Bersambung…