Awalnya mau diberi judul ‘Kejujuran yang Mahal di Negeri Ini’ tapi terdengar terlalu luas, lagipula mungkin kejadian yang mau saya ceritakan ini hanya tinggal terjadi di kampung saya, di suatu minimarket dekat rumah saya.

Ceritanya kurang lebih sama dengan yang pernah saya posting beberapa waktu silam di tulisan Penting! Memeriksa Uang Kembalian. Hanya setelah kejadian terbaru kemarin saya makin yakin ngutip uang kembalian pembeli menjadi ‘budaya’ di minimarket itu.

Ceritanya kemarin saya belanja 2 item barang. Saya tidak cek satu per satu harga yang tertera di rak pajang, hanya langsung ke kasir, lalu si kasir menyebutkan jumlahnya, “Enam puluh ribu rupiah”. Kebetulan saya membawa uang pas dan menyerahkan uang Rp 60.000.

Biasanya saya gak peduli lagi untuk menunggu struk apabila jumlah tagihan dan uang sudah pas, hanya setelah kejadian sebelum-sebelumnya saya lebih berhati-hati lagi dengan kasir-kasir di minimarket ini.

Agak lama juga si kasir mencetak struknya sebelum menyerahkannya ke saya. Saya baca ternyata total sebenarnya adalah Rp 59.600. Saya buru-buru balik ke kasir. Dengan nada suara sebiasa mungkin saya bilang, “Teh, kembaliannya gak kurang 400 ya? Kan totalnya hanya 59.600?”
Si kasir itu tampak kikuk, apalagi disitu dia sedang melayani pembeli lain, tanpa memandang wajah saya dia membuka laci kasir dan menyerahkan uang 500. Kelebihan 100? Ya sudah lah… saya tidak ingin berbicara lebih banyak lagi dengan kasir itu. “Terima kasih”, kata saya sambil melangkah keluar toko.

Mungkin ini hanya terjadi di kampung saya, saya yakin tidak banyak kasir curang seperti ini, tapi sebagai pembeli kita berhak melindungi hak-hak kita, setidaknya mengantisipasi kejadian-kejadian seperti itu dengan:
1. Cek harga yang tertera di rak pajangan.
2. Pastikan mendapat struk dari kasir, kalau tidak dikasih, ya minta.
3. Cek struk, pastikan harga di rak sama dengan harga di struk.
Tiga hal ini utamanya dilakukan karena sering kejadian harga di rak pajangan itu gak update.
4. Jangan mau diberi kembalian berupa permen. Itu dilarang dan ada undang-undangnya lho.
5. Kalau kasir menawari uang kembalian untuk didonasikan, dan kita setuju, pastikan uang donasi itu tercetak di struk.
Pun kita bisa protes kalau tiba-tiba tercetak donasi di struk sebelum meminta persetujuan kita, kejadian Mamah saya, tanpa ba bi bu tahu-tahu uang kembaliannya masuk sebagai donasi sebelum meminta persetujuan Mamah.
6. Kalau memungkinkan sih bawa uang pas ke toko, termasuk recehan 100 atau 200 rupiah, mengantisipasi hal-hal di atas.

Itu poin-poin penting menurut saya, atau ada yang lain? Silakan tinggalkan di kolom comment ya :)

Uang-uang kembalian itu mungkin tidak seberapa, tapi itu adalah hak kita. Dan yang lebih penting lagi kita tidak melakukan pembiaran pada ketidakjujuran yang terjadi di dekat kita.