Teman saya, seorang ibu bekerja dengan 1 orang anak, curhat di salah satu grup whatsapp tentang pertemuan-tak-sengaja-nya dengan temannya, seorang IRT, yang kemudian menghakimi si teman saya ini karena memilih bekerja lalu mengunggulkan dirinya sendiri yang stay di rumah demi anak. Komentar pun bermunculan menanggapi curhatan itu, tak terkecuali dari member grup laki-laki.

Familiar dengan topik itu? Bahkan kalau mau saya list, masih baaanyaaak lho topik-topik lain yang sering menimbulkan perdebatan di kalangan ibu-ibu muda masa kini. Perdebatan ini pun tidak jarang tidak menemukan titik temu, karena ibu yang satu merasa pilihannya lebih baik daripada pilihan ibu yang lain.

Kalau ada yang kurang paham, perdebatan ini bisa saya analogikan seperti perdebatan antara Pendukung Prabowo Vs Pendukung Jokowi di Pilpres kemarin. Eh bisa ga sih? Atau agak maksa ya? Hehe…

Ah, basi ya? Saya sebenarnya tergelitik untuk menulis ini sejak berbulan-bulan lalu, ketika mulai membuka mata untuk dunia per’mommy’an yang ‘kejam’. Halah lebay hehe. Hanya saya menahan diri untuk tidak membahasnya, karena obrolan soal ini layaknya masakan yang dihangatkan berkali-kali. Mungkin masih bisa dimakan, tapi, masih enak ga sih?

Kerumitan dunia emak-emak saya rasakan terutama sejak melihat 2 strip di testpack kehamilan kurang lebih 2 tahun silam. Saya sendiri termasuk yang cuek dan berusaha tidak merumitkan masalah yang sederhana, namun seringkali lingkungan sekitar saya yang membuat saya berpikir lebih rumit, tentang hal yang boleh dan tidak boleh, tentang hal yang seharusnya dan tidak seharusnya, dlsbg.

Lagi pun ibu-ibu muda sekarang lebih melek terhadap informasi dengan semakin mudahnya akses terhadap internet. Dan secuek-cueknya saya, saya pun tidak bisa menutup mata dengan hanya bertahan pada prinsip yang saya yakini. Saya pun merasakan, semakin banyak menelan informasi, semakin saya merasa terkejar untuk melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan ibu-ibu yang dianggap sukses di luaran sana. Bahkan ketika saya terlalu sibuk mencari tahu soal ini itu, saya sampai lupa berkaca pada diri sendiri, apakah saya mampu konsisten dan komitmen untuk melakukan kebiasaan ibu-ibu yang dianggap sukses itu?

Di sebuah seminar parenting yang pernah saya ikuti, pembicara mengatakan, “Parenting itu sederhana, saaangaaat sederhana, lakukanlah hal yang semestinya dilakukan”.

Dan para ibu, mari kita saling menghormati pilihan masing-masing, dan bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang. #notedtomyself

Sumber gambar:
http://herscoop.com/posts/empowering-photo-series/