Memang tidak ada aturan tertulis, apa yang boleh dan tidak boleh dibahas dengan ‘noisy’ di tempat umum. Tapi, sebagai manusia dewasa yang berpikir, semestinya kita tahu apa yang pantas dan tidak pantas diungkapkan ketika di sekitar kita sedang banyak orang, dan mereka adalah orang-orang yang tidak kita kenal.

Sore ini, saya, Bapa, dan Akhtar dalam perjalanan KRD dari Kiaracondong menuju Padalarang, setelah mengantar suami saya ke Stasiun Bandung untuk melanjutkan perjalanan ke Surabaya.

Di dekat kami, duduk beberapa orang remaja putri, perkiraan usia SMA. Saya kurang lebih bisa memahami mengapa mereka mengobrol dengan suara keras sementara mereka di tempat umum. Saya pun pernah seusia mereka, dan rasa ingin mendapat perhatian dari orang-orang sekitar itu mesti ada.

Tapi ketika yang diobrolkan adalah masalah pribadi, urusan hati, rasa-rasanya kok tak pantas ya. Apalagi beberapa orang sampai menengok ke arah mereka, dan terpaksa ‘mencuri dengar’. Pun tidak tepat disebut ‘mencuri dengar’, karena pada kenyataannya si remaja putri itu membagikan obrolannya secara cuma-cuma.

Ketika itu terjadi di depan mata saya dan saya tidak mampu menegurnya, setidaknya saya mengambil pelajaran untuk lebih bisa mengontrol diri agar tidak melakukan hal yang sama.

-ditulis 2 minggu yang lalu-