Pada dua kali kunjungan terakhir ke minimarket dekat rumah, saya mengalami dua kali pula kejadian berhubungan dengan uang kembalian.

Kejadian pertama sekitar 1 minggu yang lalu. Waktu itu saya belanja senilai 31.800. Saya menyerahkan uang sebesar 50.000, dan terlambat menyadari uang kembaliannya hanya 18.000, kurang 200 perak. Saya dongkol sekali, bukan karena kekurangan uang yang tidak seberapa itu, namun karena merasa si kasir mencurangi saya dengan semena-mena.

Kejadian kedua, kemarin malam. Saya berbelanja senilai 41.500 lalu menyerahkan uang 100.000, mungkin karena si kasir lagi ga fokus, ia hanya memberi uang kembalian 8.500, kurang 50.000, di struk pun tertulis uang yang masuk ke laci kasir hanya 50.000, bukan 100.000.

Mungkin teman-teman pernah mengalami situasi serupa itu?

Sebelumnya saya termasuk orang yang cuek soal uang kembalian atau apapun yang tercetak di struk belanjaan. Biasanya setelah membayar dan menerima uang kembalian (kalau ada), saya hanya akan memasukkan uang dan struk itu ke dalam saku atau dompet tanpa meneliti satu per satu, apalagi kalau uang kembalian itu berupa recehan ratusan perak.

Paling saya agak ketat soal struk ini kalau belanja agak banyak di supermarket. Saya men-screening struk untuk memastikan semua barang sudah terbayar dan masuk ke kantong belanjaan. Tapi sejauh ini saya belum pernah mengalami kejadian ‘dicurangi’ oleh kasir di supermarket seperti kejadian pertama di atas.

Setelah dua kejadian terakhir ini, saya menyadari pentingnya memeriksa struk belanja dan uang kembalian untuk memastikan kita menunaikan kewajiban kita dan mendapatkan hak kita sebagai pembeli, begitupun sebaliknya dengan penjual. Lagipula, dengan begitu kita pun secara ngga langsung memudahkan pekerjaan si kasir pada akhir shift kerjanya kan? Ketika harus mencocokkan jumlah uang dengan jumlah yang tercatat di sistem, mereka tidak pusing kalau ada selisih kurang, kalau selisih lebih sih mungkin tidak ambil pusing ya hehe…

#halkecilnamunbesar