Ada kejadian menarik di kereta api ekonomi dari Stasiun Bandung menuju Stasiun Padalarang sore ini. Kereta terakhir menuju Padalarang itu tampak lengang. Biasanya pada jam-jam sibuk, bahkan ibu hamil atau orang tua renta pun tidak kebagian tempat duduk.

Pada saat pemeriksaan tiket, seorang lelaki usia sekitar 30 tahunan yang duduk tak jauh dari saya beralasan, “Kehabisan tiket Pak, tadi naik dari Ciroyom”
“Ah masa kehabisan, keretanya kosong gini, nanti turun di stasiun berikutnya. Masa kehabisan, sih. Tolong nih nanti suruh beli tiket di Stasiun Cimindi”, kata si Bapak Petugas sambil memberi instruksi kepada security.
“Wah… Hebat, tegas”, puji saya dalam hati. Memang ini bukan pertama kalinya saya melihat perubahan besar di PT KAI. Perusahaan negara pimpinan Pak Ignatius Jonan ini berubah pesat dalam kurun kurang dari 5 tahun terakhir.

Lima tahun lalu, saya penumpang setia kereta api Parahyangan jurusan Bandung-Jakarta, tapi pada suatu hari saya kecewa karena kereta terlambat hingga hampir 3 jam. Sejak saat itu rasa-rasanya saya tidak pernah lagi naik kereta dari Bandung ke Jakarta, atau sebaliknya. Namun sesekali saya masih menggunakan kereta api untuk perjalanan rute lain, sehingga merasakan sendiri perubahan apa saja yang terjadi pada pelayanan KAI dalam beberapa tahun terakhir.

Misal, tentang kejadian yang saya ceritakan di atas. Empat tahunan lalu KRD Padalarang-Cicalengka (lewat Stasiun Bandung) PP adalah kereta terkumuh yang pernah saya naiki. Apa sih yang bisa diharapkan dari kereta ekonomi bertarif 1000 rupiah? Pelayanannya waktu itu sangat seadanya. Lantai berdebu, sampah dimana-mana, pedagang asongan datang silih berganti, belum lagi para pengamen dan pengemis dengan berbagai ‘kreativitas’nya. Penumpang yang tidak memiliki tiket pun sangat bebas keluar masuk. Ketika petugas memeriksa tiket, mereka yang tidak punya tiket cukup ‘ngasih tangan’, layaknya kita menolak memberi uang kepada pengemis atau pengamen.

Namun, setelah ditertibkan, stasiun tidak bisa lagi ditembus ‘secara ilegal’. Semua penumpang, tak terkecuali bayi, wajib memiliki tiket. Harga tiketnya hanya naik 500, jadi 1500 sekarang. Pengemis, pengamen, pedagang asongan tidak ada lagi. Bahkan sekarang ada cleaning service yang bertugas di stasiun pemberhentian terakhir. AC sudah terpasang walaupun pada siang hari yang sesak sama sekali tidak terasa dinginnya.

Yang lebih saya salut adalah, perubahan di KAI ini bukan soal merubah suatu perusahaan saja tapi juga merubah pola pikir dan ‘budaya’ masyarakat, para ‘stakeholder’ kereta, tentang bagaimana seharusnya peraturan dipatuhi. Bahwa, masyarakat dari lapisan terbawah pun bisa lebih ‘beradab’ jika peraturan ditegakkan dengan tegas.

Jika saat ini saya masih beberapa kali membaca keluhan tentang kereta api di sosmed, saya kira ada baiknya kita memberi waktu pada KAI untuk melakukan perbaikan sedikit demi sedikit sehingga beberapa tahun kemudian menjadi sarana transportasi yang nyaman untuk semua.

Angkat topi buat Pak Jonan dan PT KAI! Hebat!

Semoga Bapak bisa menyelesaikan tugas di KAI sampai masa jabatan berakhir. Plis atuh lah Pak, di KAI dulu.