Kemarin saya mengantar Akhtar ke dokter anak di RSIA di Pasteur, Bandung. Dari Pintu Tol Padalarang, kami naik bus Damri dan berhenti tepat di seberang RS.

Dalam perjalanan di bus, saya melihat seorang ibu menyuapi anaknya makan pisang, kemudian dengan santainya membuang kulit pisang itu di bawah kursinya.

Sering melihat kejadian semacam itu? Atau justru pernah melakukannya sendiri? Ya, saya pernah sering melakukannya, sudah lama sekali sejak saya melakukannya terakhir kali.

Bisikan dalam pikiran, “Ah biar saja nanti juga ada yang bersihkan” membuat saya melakukannya dengan santai saat itu, tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Di Indonesia situasi seperti itu tidak hanya terjadi di kendaraan umum. Dimanapun di tempat umum sering sekali saya melihat orang melempar sampah seenaknya, bahkan jika itu hanya sebuah bungkus permen atau puntung rokok yang tidak lebih dari 2 cm. Seolah-olah negeri ini adalah sebuah tong sampah raksasa dengan rakyat yang melakukan gerakan buang sampah secara masif dan terstruktur.

“Ah cuma bungkus permen ini”, atau

“Kan ada petugas kebersihan, nanti juga dibersihkan”, atau

“Kalau ngga ada petugas kebersihan, paling nanti dipungut sama pemulung”, atau

“Sekali-sekali gapapa lah”

Bayangkan, jika pikiran seperti itu terlintas di kepala jutaan orang di luar sana, termasuk di kepala kita sendiri, akan berapa banyak sampah yang tercecer?

Dan ketika hujan turun, lalu sungai meluap karena sampah, sebagian dari jutaan orang itu mungkin hanya akan menatap prihatin penderitaan para korban banjir di layar kaca, “Kasihan!”. Sebagian yang lain mungkin hanya akan menggerutu, “Makanya, buang sampah tuh jangan sembarangan dong!”. Sebagian yang lainnya lagi tiba-tiba menjadi kritis, dengan menyalahkan para penebang pohon di hulu sungai, atau para developer yang membangun perumahan di dataran tinggi, atau pemerintah yang memberi izin kepada pihak-pihak itu.

Lalu, kita salah apa? “Ya, ngga salah dong, yang salah kan mereka, mereka, dan mereka.”

Para penebang pohon itu, para developer itu, atau para pembuang sampah sembarangan ke sungai itu mungkin sudah di luar kontrol kita untuk mencegahnya. Tapi setidaknya kita memiliki kemampuan untuk mengontrol diri sendiri agar tidak membuang sampah sembarangan, sekecil apapun itu.

Apa arti secuil sampah kecil untuk mencegah banjir? Ber-husnudzan saja, di luar sana, di kepala jutaan orang di Indonesia juga mungkin terlintas pikiran yang sama untuk mengurangi beban bumi menampung sampah yang tidak pada tempatnya.

Kalau kata Aa Gym mah, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil, mulai saat ini. Betul tidak teman-teman? #aagymmode:on

Kalau kata Pak Prabowo mah, kalau bukan kita, siapa lagi, kalau bukan sekarang, kapan lagi.

Kalau kata Pak Jokowi mah, revolusi mental euy revolusi mental. :P

— end —