Dua kali membaca buku Ayah Edy berjudul Membangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga!, dua kali pula saya ‘terguncang’, dan untuk kedua kalinya saya mengulasnya di blog ini setelah tulisan pertama saya hampir satu tahun yang lalu.

Apa yang direnungkan Ayah Edy dalam bukunya merupakan hal-hal yang saya renungkan juga selama bertahun-tahun. Keresahan-keresahan yang dituliskan Ayah Edy juga merupakan keresahan yang saya rasakan bahkan ketika usia saya masih 12 tahun saat itu. Keresahan seorang siswa kelas 6 SD yang merasa sangat dikecewakan oleh sistem EBTANAS yang ‘memaksa’ guru-guru melakukan kecurangan dengan terang-terangan demi sebuah nilai bagus di ijazah murid-muridnya.

Keresahan itu semakin menjadi ketika kini saya memiliki anak, yang pada saatnya nanti akan mencapai usia sekolah dan (mungkin) mengenyam pendidikan formal. Akan seperti apakah sistem pendidikan di Indonesia pada saat itu? Bagaimana anak saya akan dididik di sekolah? Apakah akan sama dengan yang saya alami bertahun-tahun yang lalu, dimana saya dididik secara ‘konvensional’?

Sambil menyusun tulisan ini, saya membaca-baca kembali diary SMA saya dan menemukan tulisan 10 tahun yang lalu, tepatnya 19 Juni 2004. Saat menulis itu, saya dalam keadaan marah dengan cara pandang lingkungan saya ketika itu. Beberapa kata bahkan saya CAPSLOCK dan diakhiri tanda seru.

Saya kutip beberapa kalimat, tanpa dikurangi atau ditambahi, termasuk titik komanya:

“AKU BENCI BGT ama orang2 yg ngeremehin pilihanku waktu SPMB kemaren……….”

“………. nama fakultas yg langka n jarang banget kedengeran. Trus, apakah karena alasan itu kita bisa menyimpulkan seenaknya kalo fak. itu tuh ga bagus prospeknya? Ga gitu kan harusnya! Tapi, kebanyakan orang b’anggapan gitu ……….”

“………. Apa hanya karena PRESTISE!! ……….”

“PRESTISE… jadi ingat kata Bang Hamid, soal prestise. Kebanyakan orang lebih ngutamain prestise daripada prestasi. Menurutku itu pikiran orang-orang yg berakal pendek, berpandangan sempit. Akhir-akhir ini aku emang lagi kesel aja ama orang-orang kaya gitu, apalagi sampe ngeremehin pilihanku……….”

“………. selama ini orang2 selalu menganggap bahwa orang-orang yg bisa masuk FKU itu orang2 hebat, orang-orang yg bisa masuk fak. teknik itu orang2 keren. Aku ga nyangkal hal itu, aku yakin orang-orang yg bisa nembus FKU ato teknik itu bukan orang biasa-biasa aja, yg ga punya keahlian apapun! Tapi, tolong lah ga usah ngeremehin yang lain. Cita-cita setiap orang itu pasti ga sama. Dan pandangan setiap orang terhadap suatu hal juga pasti ga sama. Kalo aku jadi salah seorang yg punya pikiran b’beda dari kebanyakan orang, apa itu salah n ga wajar? ……….”

Pada akhirnya saya diterima di jurusan pilihan kedua, pilihan orangtua saya. Bukan minat saya, tapi lebih direstui orangtua.

Saya tidak pernah menyesal karena ‘hanya’ diterima di jurusan yang bukan pilihan saya. Saya tetap bersyukur karena yakin itulah jalan yang terbaik dari Allah. Saya hanya ingin, pada saatnya nanti, anak(-anak) saya tidak mengalami hal yang pernah saya alami. Setidaknya komunikasi antara orangtua dan anak harus dibangun dalam pengambilan keputusan apapun apalagi berkaitan dengan masa depan anak dalam jangka panjang.

Dan saya kembali diingatkan pada paradigma kebanyakan orang, at least di lingkungan saya, pada waktu itu bahkan hingga saat ini, bahwa SUKSES itu adalah pintar di sekolah lalu bekerja dan menghasilkan banyak uang. Paradigma lama yang harus didobrak karena mempengaruhi cara orangtua dan guru mendidik anak-anak/ murid-muridnya.

Kita tidak bisa menutup mata bahwa saat ini sebagian besar sekolah hanya mengajarkan pelajaran demi pelajaran, memberikan latihan soal demi latihan soal kepada siswanya, sementara pendidikan moral malah dikesampingkan. Di luar itu, para siswa pun masih mencari tambahan pelajaran di luar jam sekolah untuk bidang studi yang dirasa kurang dikuasai. Saya pernah dalam kondisi itu, rasanya tertekan sekali, apalagi sebagian yang saya pelajari bukan bidang yang saya sukai.

Lagi-lagi saya berkata, saya ingin pada saatnya nanti anak(-anak) saya tidak mengalami hal yang pernah saya alami. Belajar itu harus fun, bukan? Untuk bisa fun, maka yang mestinya didalami hanya bidang-bidang yang diminati saja, ya kan?

Maka tak heran saat ini banyak orangtua memilih meng-homeschooling-kan anak-anaknya. Memang dalam sejarahnya homeschooling (ada pun yang lebih suka menggunakan istilah home education) ini muncul karena ketidakpercayaan orangtua pada sistem pendidikan yang diselenggarakan negara. Buku Membangun Indonesia yang Kuat dari Keluarga! pun ditulis oleh seorang praktisi homeschooling. Saya sendiri dalam posisi netral dalam menilai homeschooling ini. Bahwa sistem, cara, metode, atau apapun akan berjalan efektif jika dijalankan dengan tepat oleh orang-orang yang tepat dengan cara yang tepat pula.

Akhirnya …

Pada Presiden Terpilih pada Pilpres 2014 ini saya berharap, semoga bisa menunaikan janji-janjinya, salah satunya Revolusi Mental yang senantiasa didengung-dengungkan selama kampanye. Semoga bidang pendidikan menjadi salah satu prioritas utama untuk dibenahi, agar anak-anak kita di masa depan dapat hidup di Indonesia yang lebih baik, lebih bermoral dan beradab.

Aamiin …