Aisha memelukku erat sekali, air matanya mengambang, dengan susah payah ia menahannya agar tak jatuh. Dalam pelukannya aku tersedu.

“Aku akan baik-baik saja, sudah ya”, Aisha berusaha menghibur sambil mengusap-usap punggungku. Entah siapa sebenarnya yang lebih perlu dihibur.

Sambil menatapku dalam, Aisha berkata, “Ditta, kamu sahabat terbaikku selama ini. Jaga diri baik-baik ya. Jangan terlalu pendiam dan tertutup. Aku tahu potensimu besar sekali di bidang tulis menulis. Tunjukkanlah! Aku, memulai lembaran baruku di Inggris… Aku… ” Aisha tak menyelesaikan kalimat terakhirnya. Air matanya tak terbendung, tangisnya pecah.

“Aku ga bisa bawain apa-apa buat kamu, tapi camilan favoritmu ini selalu berhasil membuatmu rileks kan?” Aku memaksakan diri tersenyum sambil menjejalkan sebungkus Mister Potato ke dalam tasnya.

wpid-20140530_191928.jpg

 

“Makasih Ta. Ini… Kamu pernah bilang suka banget foto ini kan?” Aisha mengeluarkan selembar foto dari saku jaketnya.
“Suatu saat nanti kamu menyusulku kesana ya?”

***

Di bawah penerangan lampu meja di kamarku, aku mengamati foto itu.

wpid-article-2107297-11f2f79f000005dc-650_468x340.jpg

Big Ben

Beberapa kalimat tertulis di baliknya:

Aisha, jika kamu ke Inggris, kamu tidak boleh melewatkan tempat ini. Big Ben adalah landmark dan ikon Kota London dan Negara Inggris. Big Ben adalah menara jam paling terkenal di seluruh dunia. Letaknya di timur laut Houses of Parliament. Kalau di Indonesia mungkin seperti gedung MPR/ DPR ya. Waktu pertama kali kesana, Kakak terpesona dengan keindahan bangunannya. Kakak memotret hampir setiap sudut Big Ben dan Gedung Parlemen. Foto terbaik Kakak kirimkan untukmu.
Ingat nggak… Dulu kita sering melihat berita di TV tentang perayaan pergantian tahun dari berbagai kota di dunia? Salah satunya di Big Ben ini. Akhir tahun ini Kakak berencana merayakan tahun baru disana… Yeaaayy…

Sampaikan salam sayang buat Mama dan Papa ya…

Kak Adam

*****

Inggris. Itulah mimpi Aisha sejak SMA.
“Aku ingin melanjutkan cita-cita Kakak”, pandangannya menerawang.

Kak Adam, kakak Aisha, adalah seorang yang cemerlang. Selepas S1, tampaknya mudah saja bagi Kak Adam memperoleh beasiswa S2 ke Inggris. Tapi, takdir berkata lain, jauh dari keluarga ditambah kegiatannya yang padat membuat Kak Adam abai akan kesehatannya sendiri, hingga dia meninggal karena maag kronis yang dideritanya. Sejak saat itu, Aisha ‘Si Otak Pas-Pasan’ begitu dia menjuluki dirinya sendiri, tampak lebih serius dalam banyak hal, terutama belajar.

“Semua buat Kak Adam. Juga buat Mama Papa yang bahkan belum sempat melihat Kakak wisuda”, katanya suatu hari.

“Oh ya, kamu udah pernah lihat ini belum Ta”, Aisha mengeluarkan file binder lalu mengambil foto yang terselip di cover bindernya.

wpid-74758353.jpg

Old Trafford

“Ini foto terakhir yang Kak Adam kirim. Waktu itu Kakak menonton langsung pertandingan Manchester United di Old Trafford. Stadion Old Trafford adalah stadion terbesar kedua di Inggris, setelah Stadion Wembley di London, daya tampungnya hingga 76 ribu orang. Ternyata Kota Manchester itu sendiri tidak terlalu besar Ta, sedikit lebih kecil dari Kota Bandung, tapi jumlah penduduknya hanya seperlima penduduk Kota Bandung. Bayangkan, pasti sepi ya disana. Tapi hebat ya, kota sekecil itu punya klub-klub sepak bola bergengsi yang tersohor ke seluruh dunia”, aku mendengarkan ceritanya dengan seksama, sesekali aku menimpalinya dan berdecak kagum.

***

Selama Kak Adam di Inggris, acapkali Aisha dikirimi kartu pos atau foto-foto perjalanan Kak Adam. Walaupun di era digital ini foto bisa dengan mudah dikirim lewat email atau media sosial, Kak Adam tak pernah absen mengirim foto cetak yang kemudian diberi catatan di belakangnya.

Aisha mengumpulkannya dalam satu album yang diberi judul ‘Jika Aku ke Inggris…’. Judul itu terinspirasi dari kalimat pertama Kak Adam yang selalu ditulis di balik foto atau kartu posnya, “Aisha, jika kamu ke Inggris…”. Seperti yang tertulis di belakang foto Buckingham Palace yang pernah Aisha tunjukkan padaku.

wpid-buckingham-palace-11.jpg

Buckingham Palace

Aisha, jika kamu ke Inggris, kamu harus ke Buckingham Palace, siapa tahu bertemu langsung pangeran impianmu? Kamu masih ingat? Dulu kamarmu penuh sekali dengan poster dan pin up Prince William? Sampai-sampai kamu bikin kliping berisi semua artikel tentang dia. Katamu itu akan dihadiahkan padanya jika nanti bertemu. Hahaha.
Disana juga kamu bisa buktikan sendiri, yang menjulang tinggi di atas kepala penjaga istana itu, topi atau rambut? Haha.
Kalau kesini, pastikan bertepatan dengan prosesi pergantian penjaga istana ya. Prosesi tersebut menjadi daya tarik tersendiri buat para wisatawan.

wpid-buckingham_palace_guards.jpg

***

Selepas SMA, masa kuliah kami jalani di kota berbeda. Dengan kegigihannya, Aisha lolos ke kampus teknik ternama di Bandung, kampus Kak Adam juga, hanya beda jurusan, sementara aku tetap di Jakarta.

Walaupun terpisah jarak, kami tak putus berkomunikasi. Jika Aisha pulang ke Jakarta pasti kami bertemu, bahkan beberapa kali aku pun berkunjung ke Bandung.

Satu kali kunjungan ke Bandung, Aisha mengajakku ke kampusnya. Dengan bangga, dia menjelaskan setiap gedung yang kami lewati selama berkeliling. Lalu kami berhenti di gedung fakultasnya.

“Lihat Ta, ini ada beasiswa ke UK, pengumumannya hampir selalu ada setiap tahun. Lihat foto-foto yang jadi latar belakang poster ini. Hanya foto ini yang belum pernah dikirimkan Kak Adam,” lalu Aisha menunjuk pada sebuah foto bangunan berarsitektur gothic di poster itu.

wpid-westminster_abbey.jpeg

Westminster Abbey

“Ini Gereja Westminster Abbey. Letaknya tak jauh dari Big Ben yang terkenal itu. Sejak ratusan tahun yang lalu, gereja ini digunakan untuk penobatan raja-raja Inggris. Disana juga terdapat makam raja-raja, bangsawan, ilmuwan, dan orang-orang terkemuka di Inggris.”

Aku melihat matanya berbinar-binar setiap bercerita tentang Inggris.

***

Pada liburan terakhir sebelum kelulusannya. Kami membuat janji bertemu di kafe favorit kami di Jakarta. Aisha bilang, ada kejutan kecil untukku.

Seperti biasa, aku datang terlebih dahulu dari waktu yang telah dijanjikan, dan memesankan minuman favoritnya. Biasanya, dia akan datang, lalu senang sekali melihat minuman favoritnya sudah siap, menyeruput setengah gelasnya, dan bercerita panjang lebar tentang kegiatannya. Aku hanya sesekali menimpali dan tertawa bersama ceritanya.

Aku mengunyah Smax Balls sambil menunggu pesanan datang. Tak lama setelah pramusaji menghidangkan minuman pesanan, Aisha datang. Namun dia tidak sendiri. Inikah kejutan kecilnya?

“Taaa… Aku kangen bangeet sama kamu. Kenalin ini Atma… Kakak angkatanku di kampus, tapi udah lulus dan kerja di Kalimantan, kebetulan lagi liburan”, cerocosnya, menyisakan aku yang masih melongo mencoba menyesuaikan diri dengan situasi yang berbeda ini.

Ini kali pertama kali Aisha punya teman dekat pria.

***

Aisha memang penuh kejutan. Setelah ‘kejutan kecil’-nya tempo hari, ternyata dia masih menyiapkan kejutan lain untukku. Suatu siang dia menelepon:

“Taaa… Dengerin baik-baik ya, tarik nafaaas… Lepaskan… Siap? Aku… Lolos … Beasiswa ke Inggriiiisss!! Aaaarghh… Inggris Taa” Aku ikut histeris bersamanya. Di ujung telepon sana Aisha semangat sekali menceritakan proses seleksinya, nyaris tanpa jeda.

“Aku nanti di London Ta. Kalau Atma kesana, dia bisa sekalian ke Stadion Stamford Bridge-nya Chelsea. Klub jagoannya! Pasti dia seneng banget.”

wpid-0__102683688547_00.jpg.jpeg

Stamford Bridge

“Kamu udah kasih tau Atma?”, aku memotong.

“Hmm, belum Ta, bahkan aku ikut tes pun Atma gak tahu, tapi kan dia tahu, betapa besaaarrr keinginanku kuliah disana, ini hanya akan jadi kejutan kecil untuknya.”

Ya, Aisha selalu berhasil dengan ‘kejutan kecil’nya.

***

Namun reaksi Atma tak terduga. Dia mempertanyakan keseriusan hubungan mereka. Mereka berdebat hebat. Kebetulan ada aku disana.

“Kalau kamu mau hidup di luar negeri, kamu harus tahu, Aisha, tahun depan aku mendapat kesempatan ke Amerika, aku ingin kita segera menikah, dan kamu ikut aku kesana.”

“Ini bukan masalah luar negeri, ini Inggris, impianku!” Aisha membantah, nyaris berteriak.

Sejak saat itu hubungan mereka dingin.

Beberapa bulan kemudian, Atma memutuskan untuk mengakhirinya, hanya satu minggu sebelum keberangkatan Aisha,
“… aku memilih yang lain”, jelas Atma, kali ini Aisha tidak bisa membantah.

***

Hari itu, dua hari sebelum berangkat, aku menemani Aisha berkemas-kemas seharian di rumahnya. Ia bercerita banyak hal, juga tentang rasa yang belum berubah pada Atma.

“Ta, aku selalu bercita-cita ke tempat ini sama Atma.” Aisha menunjuk gambar pada kartu pos yang tertempel di dinding dekat meja belajarnya.

wpid-lem_londoneye.jpg

“London Eye ini kincir yang bisa mengangkut hingga 800 orang dalam satu putaran. Ada 32 kapsul yang masing-masing bisa diisi hingga 25 orang. Bayangkan, betapa besarnya kan? Pasti menyenangkan sekali melihat London dari ketinggian bersama orang yang kita sayangi”.

“Tau ga Ta, aku merasa akan lebih baik-baik saja kalau hubungan kami berakhir karena alasanku ke Inggris, tapi berakhir karena Atma memilih yang lain terasa amat menyakitkan, Ta. Siapapun wanita yang dipilih Atma, dia pasti istimewa.”

Entah dengan cara apa aku bisa menghiburnya saat itu. Aku merasa bersalah, sangat bersalah.

***

Satu tahun berlalu sejak keberangkatan Aisha, beberapa kali ia mengirimiku foto atau kartu pos. Salah satunya foto di depan museum The Beatles ini:

wpid-beatles_story.jpg

The Beatles Museum

Ditta, aku berkesempatan ke The Beatles Museum akhir pekan lalu. Letaknya di Liverpool. Jarak tempuhnya sekitar tiga sampai empat jam dari London. Aku tidak bisa bercerita banyak soal museumnya, sepanjang kunjunganku kesana aku ingat Papa terus. Pasti Papa seneng banget kalau aku ajak kesana, disana Papa bisa lihat semua hal tentang The Beatles, grup musik favoritnya itu.

Semakin sering Aisha mengabariku dari Inggris, semakin ingin aku segera menemuinya disana. Bukan hanya ingin, tapi aku memang harus menemuinya, secepatnya.

***

Kesempatan itu datang, aku melihat blog contest yang diadakan Mister Potato. Aku menertawai diriku sendiri. Sementara Aisha sudah mencapai mimpinya di Inggris, aku masih saja blogger setengah hati yang belum menerbitkan satu pun karya monumental. Bahkan belum ada satu pun tulisanku yang menang kontes blog.

“Semoga aku menang… Aku tidak tahu dengan cara apalagi aku bisa menyusul Aisha selain dengan cara seperti ini” Aku bertekad membuat karya terbaikku.

Sepanjang menulis, Mister Potato selalu setia menemaniku. Renyah keripiknya membuatku lupa waktu.

tmp_20140530_193453(2)1782240317

Sesekali aku melihat-lihat kembali foto atau kartu pos yang pernah dikirim Aisha. Mencari inspirasi.

Ketika sampai pada bagian yang menjelaskan, kenapa aku harus pergi ke Inggris, aku tercenung, mengambil nafas panjang lalu mengetikkan, “…demi sepatah kata maaf untuk sahabat…”

*****

Tiga bulan kemudian…

Pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Heathrow, London, salah satu bandara tersibuk di dunia. Aku bernafas lega, menggeliat lalu melenturkan badanku ke kiri dan kanan. Kuatur jam tangan menyesuaikan waktu setempat. Karena sudah mulai masuk musim panas, maka perbedaan London – Jakarta akan mengikuti kaidah GMT+6 atau lebih dikenal dengan masa British Summer Time (BST).

wpid-5484218_201307290213082.jpg

Hangat menyapa rombongan kami di luar bandara. Aku membuka jaket tebal yang kupakai, kali ini aku sedikit salah kostum. Kupikir di Eropa, musim panas pun akan tetap dingin. Nyatanya di London tidak. Dari bandara kami langsung menuju hotel untuk beristirahat. Tur baru akan dimulai esok pagi.

***

“Kamu hebat Ta, jalan-jalan gratis karena menulis? Keren banget!”
“Semua berkat ini Sha,” sahutku sambil mengeluarkan sebungkus Mister Potato.
“Aaah… Mister Potatoo!!” Aisha memekik senang. Detik berikutnya, berbagai cerita mengalir dari mulut Aisha, sesekali dia tertawa, kemudian termenung ketika menceritakan Kak Adam. Satu kali ia masih mengenang Atma, namun segera mengganti topik pembicaraan.

Siang itu tujuan tur kami adalah kawasan Big Ben di Westminster. Anggota tur dibebaskan menjelajah kawasan itu selama beberapa jam. Aku menggunakan kesempatan itu untuk bertemu Aisha di sebuah kafe tak jauh dari kawasan Big Ben.

“Oh ya, kamu belum cerita nih, ada kabar terbaru apa? Ngomong-ngomong kamu terlihat lebih… lebiiih pendiam sekarang”, Aisha menggeser kursinya semakin rapat ke meja, lalu membetulkan rambut yang menutupi telinganya, wajahnya mendekat ke wajahku.

Aku menarik nafas panjang, “Aisha… aku akan menikah…”
“Oh ya?!? Kok kamu gak pernah cerita sebelumnya?” Aisha membelalakkan matanya.
“Selamat ya Ta… Seneng banget dengernyaaa”, dia menggenggam tanganku sambil mengguncang-guncangkannya antusias.
“…dengan Atma”, dadaku terasa sesak ketika mengatakannya.
“Aisha… Maaf…”, aku melanjutkan kalimatku.

Aisha melonggarkan genggamannya, sedetik kemudian melepaskannya. Suasana berubah canggung seketika.

Mister Potato masih tersisa banyak di kemasannya. Tapi Aisha sama sekali tak berselera menyentuhnya. Setiap detik berjalan sangat lambat.

“Oh ya Ta, ini”, Aisha merogoh tas tangannya, “Aku sengaja menyetaknya untukmu waktu tahu kamu mau kesini… Sebagai penggemar Harry Potter, kamu harus kesana melihat Platform 9 3/4 itu. Tapi jangan sekali-kali menubrukkan badanmu ke temboknya ya, kecuali kamu menerima undangan dari Hogwarts.. hehe”. Aisha tertawa kecil, hampir tak terdengar.

wpid-platform-9-and-3-4-at-kings-cross-station-kings-cross-station-london-london.jpg

“Iya Sha, tempat itu masuk ke itinerary tur kami. Besok kami kesana”

Setengah jam berikutnya, kami lebih banyak diam. Demi Tuhan, sedetik bersamanya dalam kecanggungan seperti ini rasanya memakan waktu seumur hidupku.

Tik… Tok. . . T i k .  .  . T  o  k .  .  .

“Teeenngg”, suara Big Ben terdengar menggelegar, memecah beku diantara kami.

“Sudah saatnya pergi, aku harus menemui Profesorku sore ini”, katanya sambil melirik jam tangan. “Kamu tahu Ta? Selepas menyelesaikan studiku aku berencana bekerja beberapa waktu disini”.
“Jangan lupa.. pulang… ke Indonesia ya…”, aku sedikit terbata.

Kami berpamitan, namun tak sehangat ketika bertemu tadi…

Aku belum beranjak dari tempatku berdiri, menatap punggung Aisha yang bersiap pergi namun juga tak kunjung melangkah. Tiba-tiba dia berbalik, dan melangkah mendekat, “Oh ya Ta… apapun yang membuatmu bahagia, aku bahagia. Aku sudah menemukan hidup baruku disini” dia merangkulku hangat, bersamaan dengan lelehnya cairan hangat dari sudut mataku…
“Aisha, maaf…”. Tak terdengar jawaban apapun dari mulutnya. Hatiku tergores, sakit sekali.
“Bye, Ditta…”, ujarnya sambil melambaikan tangan. Seulas senyum tipisnya nampak samar.

Maafkan aku, Sha!

* Tulisan ini diikutkan dalam Blog Contest Ngemil Eksis Pergi ke Inggris yang diadakan oleh Mister Potato
** Seluruh jalan cerita adalah fiksi