Ketika  ingin menyerah, maka ingatlah alasan kita memulai.

Kurang lebih, seperti itu lah sepenggal kalimat bijak yang pernah saya baca, entah siapa yang pertama kali mengucapkannya. Yang kemudian selalu saya ingat dan sewaktu-waktu saya panggil dari memori ketika saya merasa ingin berhenti melangkah.  

Satu tahun terakhir ini saya memutuskan jadi ibu rumah tangga penuh waktu di rumah. Bukan keputusan yang mudah, ada banyak yang harus dikorbankan, salah satunya adalah pekerjaan yang mapan di sebuah perusahaan bonafid.  

Pekerjaan baru sebagai ibu rumah tangga pun tidaklah mudah. Saya memulai semuanya dari nol. Tanpa pengalaman. Ditambah lagi kami adalah keluarga perantauan sehingga tidak ada bimbingan langsung dari orangtua yang lebih berpengalaman. Di satu sisi saya mensyukuri kondisi tersebut, karena hal itu menjadikan kami lebih mandiri dan independen dalam mengambil keputusan.  

Kehidupan saya mengalami penyesuaian yang cukup besar. Saya yang biasa berkegiatan di luar rumah harus membiasakan diri tinggal seharian di rumah dan melakukan pekerjaan rumahan. Saya yang termasuk si phlegmatis tanpa gairah dan lamban harus belajar mati-matian agar bisa bekerja tangkas, cekatan, mangkus, dan sangkil. Saya yang biasa memperoleh gaji dari hasil kerja sendiri pun harus pandai-pandai mengontrol keuangan yang kini pemasukannya hanya dari satu sumber. Jujur, untuk yang terakhir, masih pekerjaan besar buat saya.  

Perubahan-perubahan itu tak jarang membuat saya frustasi dan ingin berhenti. Rasanya lebih baik saya bekerja kantoran lalu menggaji asisten dan baby sitter daripada harus jumpalitan seperti ini.  

Namun kemudian, saya ingat kembali kalimat bijak di atas. Bahwa apa yang saya jalani sekarang adalah hasil dari keputusan pribadi, tanpa paksaan dari siapapun, termasuk suami. Lagipula, kembali bekerja bukanlah solusi, karena … Ingat! Salah satu motivasi saya memutuskan keluar dari pekerjaan, selain karena ingin mengurus anak, juga karena saya sudah menyerah menjalani pekerjaan yang bukan passion saya, rutinitas seven to four yang juga bikin stress.  

Ikhlas. Itu kata kuncinya. Yang harus saya lakukan adalah menjalani dengan ikhlas. Dalam pemahaman agama saya, ikhlas itu berarti meniatkan semua pekerjaan hanya untuk mendapat ridha-Nya. Damainya hati yang ikhlas, karena membuat kita fokus pada perbaikan diri, tidak sibuk mengurusi orang lain. Jujur, kadang yang membuat tidak ikhlas adalah terlalu sering melihat orang lain memiliki apa yang tidak kita miliki. Padahal rumput tetangga yang lebih hijau belum tentu lebih enak dimakan. Apa yang baik buat orang lain belum tentu juga baik untuk kita. Maka, ikhlas… #selftalk

image

Tulisan ini diikut sertakan dalam GIVE AWAY TENTANG IKHLAS