Ada lah hape pertama saya, Samsung C100 yang pernah saya bangga-banggakan. Sepuluh tahun yang lalu, Nokia masih menjadi merek hape pilihan sejuta umat dengan harga selangit, dan saya boleh berbangga menggenggam merek hape yang tidak umum pada saat itu namun dengan kualitas yang bisa dijagokan.

Kebetulan saya ber-SMA di sekolah berasrama penuh yang melarang KERAS (terpaksa saya capslock) siswanya membawa hape ke asrama. Namun, pada tahun ketiga, satu per satu teman saya pun mulai melanggar. Alasan klisenya… karena sudah kelas 3, banyak yang harus dikomunikasikan dengan orangtua terkait kelulusan, kelanjutan studi, dll, dan memiliki hape menjadi pilihan yang praktis dibanding harus mengantri setiap minggu di warnet.

Dengan alasan yang sama, saya pun membujuk memaksa orangtua membelikan saya hape. Keinginan itu terkabul ketika liburan sehabis Ujian Akhir Nasional (kalau sekarang UN) orangtua mengajak saya ke counter hape bekas di kota kami. Saat itu saya langsung jatuh cinta pada si cantik penuh warna nan slim dan elegan, Samsung C100. Harganya pas satu juta. Cukup mahal untuk hape second. Namun, setara dengan kondisinya yang hampir seperti baru.

Selesai liburan, saya akhirnya nekad juga membawa hape ke asrama karena melihat banyak teman saya pun melakukannya. Saat itu kebanyakan kami berpikir, kami sudah selesai ujian, jadi mungkin akan mendapat toleransi atas ‘kenakalan’ kami melanggar aturan sekolah. Ada juga yang dengan nada bercanda berkata, boleh kok bawa hape asal nggak ketahuan. Hehe.

Sebenarnya, guru penanggung jawab asrama masih memberi sedikiiit sekali kelonggaran dengan membolehkan siswa membawa hape, asal… hanya digunakan pada hari Minggu, di bawah pengawasan. Di sisa hari yang lain, hape harus dititipkan di ruang guru.

Maka, kami yang tetap nekad menyusupkan hape melakukan berbagai cara untuk menyembunyikannya. Terutama sebelum berkegiatan keluar kamar kami menyimpan hape serapi mungkin, karena sewaktu-waktu guru bisa merazia kamar tanpa diduga.

Disinilah seninya, seni menyembunyikan hape. Ada yang disembunyikan di ember penuh cucian. Disembunyikan di dalam sepatu yang kemudian dijemur seolah-olah baru dicuci. Disembunyikan di kantong baju lalu baju digantung di jemuran. Disembunyikan di dalam tas bekas di gudang asrama. Ada juga yang memasukkannya secara paksa ke dalam kasur busa. Saya, termasuk yang bodoh dan tidak berpengalaman, dengan polosnya hanya menyimpannya di tas baju yang dalam satu tarikan retsleting sudah menampakkan dengan terang si hape itu. Ya, jadi hape saya tertangkap pada hari kedua saya menggunakannya. Apes, saya tidak menyangka guru-guru melakukan razia pada hari itu. Lucunya, salah seorang teman yang membiarkan hapenya tergeletak begitu saja di kasur malah aman. Saya meratapi kebodohan keapesan saya. Huhu…

Singkat cerita, saya baru bisa mengambil barang sitaan itu pada hari-hari terakhir sebelum kelulusan. Bertahun-tahun setelah kejadian itu saya masih menggunakannya. Hape itu menemani 4 tahun masa kuliah saya, sampai akhirnya terpaksa harus dimuseumkan pada tahun pertama saya bekerja, karena dia bertahan hidup jika, dan hanya jika, dihubungkan ke sumber listrik.

Saya memensiunkan Samsung C100 pada tahun 2009, setelah pengabdiannya selama 5 tahun. Saya memenuhi janji untuk menggunakannya sampai dia benar-benar tidak bisa digunakan. Pada saat itu, hape-hape tipe baru banyak bermunculan, dan hape pertama saya termasuk hape usang yang bahkan harga second-nya pun tidak sampai 300 ribu rupiah, bahkan kurang.

Sampai saat ini, saya masih bisa ingat bagaimana rasanya menggenggam tubuhnya yang licin dan kokoh, mendengar ringtone khasnya, dan melihat bentuknya dalam bayangan saya, walaupun performa terakhirnya sudah babak belur disana sini.

image

Samsung C100

Saya rindu hape penuh kenangan ituh :)

image