Dulu, mendengar nama Pasuruan, yang teringat hanya Mbak Inul Daratista yang memang asli sini. Tentu saja dengan kesan dangdut dan goyang ngebornya. Yang sedikit saya tahu juga bahwa Pasuruan menjadi basis banyak pesantren, seperti halnya banyak kota lain di Jawa Timur. Dangdut dan pesantren… sulit bagi saya untuk menyinkronkan dua hal tersebut dalam otak saya.

Nah, tidak terbayang juga, akhirnya saya justru merasakan hidup di Pasuruan. Tapi, yang saya lihat sehari-hari disini hanya mewakili sebagian kecil Pasuruan, itupun hanya wilayah Kota-nya, dimana kami berdomisili sekarang.  

Sebelum pindah ke kota ini, saya sempat browsing tentang Pasuruan. Lucunya, yang termasuk hal pertama yang saya browsing adalah “mal di Pasuruan”. Sempat girang juga ketika muncul nama Mal Poncol dalam hasil pencarian. Tapi jangan dibayangkan mal ini seperti mal-mal di kota besar ya. Pertama kali meminta mampir kesitu, suami malah kurang merekomendasikan karena katanya hanya ada Giant Supermarket saja. Akhirnya, kemarin saya berkesempatan juga mampir kesitu, berdua saja dengan Akhtar, dan memang suasananya tidak seperti mal, tampak sepi, mungkin karena saat itu jam kerja. Di lantai dasar hanya ada tenant Giant, playground, cafe, toko sepatu, dan tempat cetak foto. Saya tidak naik ke lantai atas karena direpotkan dengan barang belanja dan Akhtar. Terlebih lagi, satu-satunya eskalator disitu pun tidak berfungsi.

Yang unik juga, saya pernah membaca di salah satu blog, si penulis menceritakan para laki-laki (tua-muda) di Pasuruan ini suka bersarung. Dimana-mana terlihat lebih banyak laki-laki bersarung daripada yang tidak. Kalau dibilang LEBIH banyak mungkin berlebihan ya, namun tidak bisa dipungkiri, baru di Kota ini saya melihat banyak sekali laki-laki bersarung kemana-mana dan dalam kegiatan apapun. Naik motor, di stasiun, di pasar, di antrian dokter, bahkan para tukang yang sedang membantu pembangunan rumah di depan rumah kami pun mengenakan sarung sambil mengaduk pasir. Mungkin, fashion sarung ini terpengaruh besar dari kultur pesantren-pesantren di daerah sini.  

Di Kota ini juga (setidaknya yang saya lihat di sekitar rumah saya), sangat mudah menemukan warga keturunan Arab. Kalau dalam pergaulan sehari-hari, khususnya yang saya alami hampir setiap hari di pasar kaget di salah satu jalan kompleks perumahan, wanita keturunan Arab yang sekiranya berumur paruh baya atau sudah punya anak akan disapa Umi, sementara yang lebih muda akan disapa Kakak, sebagai pengganti sapaan Mbak yang lebih Jowo. Herannya, Pak Tukang Roti yang lewat rumah kami setiap pagi pernah menyapa saya dengan sapaan Umi, pada awalnya. Lalu belakangan dia manggil Mbak. Apakah dia baru tersadarkan bahwa saya tidak berwajah Arab?  

Yang saya takjub, Kota Pasuruan ini termasuk kota kecil yang kita tidak akan membayangkan ada rumah besaaaar macam di kawasan Pondok Indah (kalau di Jakarta). Di Kota ini memang tidak ada kawasan seperti itu, namun saya takjub, di beberapa tempat saya melihat tiba-tiba “BLEG!!” (duh, gimana ya kata-kata ekspresinya haha), ada sebuah rumah berukuran sangat besar dan luas di tengah-tengah pemukiman yang biasa-biasa saja, atau di sebuah sisi jalan yang di sekitarnya juga hanya bangunan-bangunan berukuran “normal”. Contohnya saja di dekat rumah kontrakan kami. Dalam memori saya, itu adalah salah satu rumah terbesar dengan halaman luas dan pagar tinggi yang pernah saya lihat sepanjang hidup. Dan ternyata rumah itu juga masih dikelilingi dengan rumah-rumah lain yang masih terhitung satu kompleks dengan rumah besar itu. Dengar cerita dari Ibu Tetangga sih, kompleks rumah itu dimiliki oleh warga keturunan Arab. Rumah besar adalah rumah orangtuanya, sememtara rumah-rumah di sekitarnya milik anak-anaknya. Maka saya simpulkan, rumah-rumah super besar di lokasi lain pun kemungkinan besar milik warga keturunan Arab.  

Yang mungkin menjadi kesulitan saya di Kota ini adalah men-search info secara online, terutama yang berkaitan dengan mencari barang. Berhubung saya jarang sekali keluar rumah, maka barang kebutuhan, terutama perlengkapan dan mainan Akhtar, saya cari secara online. Dan itu tidak semudah ketika saya tinggal di kota seperti Jakarta dsk atau Bandung. Selalu saya tambah ‘di Malang’ atau ‘di Surabaya’ di setiap kata kunci pencarian, dua kota besar paling dekat Pasuruan, untuk mendapat biaya kirim yang minimal. Kalau mau mencari, pasti barang yang saya cari ada juga disini. Tapi, saya biasanya keluar saat weekend bersama suami, dan pada weekend itulah (terutama Minggu) justru kebanyakan toko di kota tutup. Kota Pasuruan malah lebih hidup pada hari kerja.  

Terlebih, kalau tidak dengan suami saya malas keluar rumah karena di kota ini jarang terlihat kendaraan umum (angkot), selain becak. Di jalan raya di luar kompleks perumahan pun baru 2 atau 3 kali saya melihat angkot lewat, padahal perumahan saya termasuk di tengah kota. Kalau ingin jalan-jalan, tidak ada alternatif kendaraan umum yang lebih baik selain becak. Hanya saja, saya kurang paham tarif becak disini, dan saya tidak pernah menanyakan langsung ke Bapak Becak, berapa dari A ke B. Sejauh ini saya tidak pernah ditagih Bapak Becak karena kekurangan bayar.  

Selain hal-hal di atas, yang menarik dari Pasuruan adalah letaknya yang relatif dekat dengan beberapa kawasan wisata, terutama di wilayah kabupaten. Selain ada Taman Safari Prigen, saya baru tahu ternyata disini juga ada Kebun Raya. Selain itu, kota ini tidak jauh dari Kota Batu yang menawarkan lebih banyak tempat wisata untuk keluarga. Mau naik ke Bromo pun tidak jauh. Jika bosan dengan suasana kota yang begitu-begitu saja, jalan-jalan ke Malang atau Surabaya pun tidak terlalu jauh. Malah sejak dinas disini, suami saya jadi sering sekali bolak balik Pasuruan-Malang.

Daan …

Itu saja sedikit ceritanya, sayang ga ada foto-fotonya, satu-satunya foto di atas pun hasil download dari http://www.panoramio.com/photo/8425701

Intinya, saya mau bilang, bersyukur diberi kesempatan melihat kota-kota lain selain Bandung. Berpindah-pindah menjadi kesempatan baik untuk kita mengenal kultur masyarakat setempat lebih dekat, dan di masa datang akan menjadi pengalaman yang tidak habis diceritakan kepada anak-anak.

Tapi teteuup, selanjutnya saya ingin mencoba hidup di Solo atau Yogya… Hahaha… :D

Semoga Allah mengizinkan