Kalau saya masih bekerja dan tidak jadi emak-emak RT kayak sekarang, mungkin saya tidak akan pernah membuat tulisan ini, mungkin.

Sejak mempunyai penghasilan sendiri lima tahun lalu, saya merasakan nikmatnya belanja tanpa terlalu memperhatikan price tag. Barang-barang yang saya inginkan butuhkan, mudah saja masuk ke keranjang belanjaan saya. Boros, itulah saya dulu. Hal yang belum pernah saya lakukan sebelummya, apalagi pada masa mahasiswa, dimana saat itu saya bisa menghabiskan banyak waktu di supermarket hanya untuk membandingkan satu merek produk dengan merek lainnya hanya untuk mendapat selisih harga ratusan rupiah.

Nah, sejak resign dari pekerjaan dan menggantungkan sepenuhnya penghasilan keluarga dari gaji suami, saya mulai teliti lagi soal pengeluaran belanja ini. Saya mulai hafal harga pasar untuk bahan-bahan makanan di tukang sayur, dan membandingkan harga dari satu penjual dengan penjual lain. Untuk bahan makanan sehari-hari ini tidak pernah lagi saya belanja di supermarket yang jelas-jelas harganya jauh lebih mahal.

Dan belakangan saya juga melakukan hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, yaitu membaca dengan teliti katalog promosi dari minimarket, dan mengumpulkan stiker dalam suatu periode untuk ditukar dengan hadiah.

DSCN5799[1]

Dari katalog itu, saya tandai barang-barang yang biasa keluarga kami konsumsi dan kebetulan sedang promo. Penghematannya bisa lumayan, terutama yang menyangkut kebutuhan bayi dan toiletries. Misal saja, periode akhir Februari ini ada promo buy 1 free 1 untuk produk sabun bayi dan tisu basah, kalap deh pengen beli untuk persediaan hehe.

Promo-promo seperti ini kalau tidak cermat bisa bikin gelap mata juga lho. Makanya saya teliti betul, diantaranya dengan memisahkan mana kebutuhan, mana yang sekadar keinginan. Jangan sampai demi memanfaatkan promo, pengeluaran malah lebih membengkak dari biasanya, karena banyak barang-barang pemuas nafsu (hadeuuh bahasanya) masuk ke dalam keranjang belanja.