image

Kalau nomaden itu bagian dari takdir, berarti saya ditakdirkan untuk nomaden? *lebay ga sih? :p*
Nomaden dalam arti berpindah-pindah tempat tinggal atau kota, yah walaupun jangkauan saya masih kota-kota di Pulau Jawa sih.

Dalam 27 tahun hidup, terhitung sudah 13 kali saya pindah tempat tinggal di 7 kota berbeda. Pekerjaan Bapa lah yang menuntut keluarga kami berpindah-pindah. Berimbas pula pada sekolah saya (SD dan SMP) yang berkali-kali pindah. Gak enaknya sih, saya jadi tidak terlalu banyak punya teman dekat masa kecil, di sekolah maupun lingkungan rumah. Maka (di salah satu blogpost) saya pernah mengungkapkan ketakjuban pada beberapa teman saya yang mengadakan reuni SD, sementara saya tidak tahu keberadaan sekian banyak teman-teman SD saya.

Kalaupun dulu saya punya beberapa teman dekat, itu hanya saat kami sekolah sama-sama, ketika beranjak dewasa, kami sudah punya kehidupan sendiri-sendiri yang masing-masing sulit untuk dimasuki.

Saya sendiri merasa “takdir” saya sudah ditentukan sejak “ditemukannya” tanda lahir putih pada betis kaki kanan saya. Kata Mamah, itu berarti pada suatu saat nanti saya akan dibawa pergi jauh dari orangtua oleh suami saya. Bukan sekali dua kali Mamah mengatakan itu, boleh dibilang … sering. Saya, yang saat itu masih berseragam putih merah, hanya bergidik geli mendengar kata ‘suami’, yang masih jauuuuh dari bayangan dan keinginan.

Saya sih tidak percaya sebercak tanda di kulit bisa “meramal” masa depan si empunya tanda, tapi saya percaya ucapan adalah doa. Siapa tahu, ucapan Mamah itu justru jadi semacam doa yang kemudian terkabul, ya, seperti sekarang ini, dibawa suami, jauh dari orangtua, jauh dari kampung halaman.

Dan sejak 22 Desember 2013, resmilah saya jadi penduduk (sementara) Kota Pasuruan (note: ada Kabupaten Pasuruan juga). Walaupun masih jauh dari Bandung, saya bersyukur keluarga kecil kami bisa pindah ke Pasuruan. Dibanding dari Jember, Pasuruan jauuuh lebih dekat ke Bandara Juanda di Sidoarjo, hanya kurang lebih 1,5 jam. Dengan penerbangan kurang lebih 1 jam, maka saya menghitung, perjalanan pulang ke Bandung hanya 2,5 jam (abaikan waktu tunggu di Bandara, waktu untuk packing, waktu persiapan berangkat, dan mahalnya ongkos pesawat hehehe).

Sekilas, sebenarnya Kota Pasuruan tidak lebih ramai atau lebih besar daripada (Kotanya) Jember (note: padahal di Jember tidak ada Kota, hanya Kabupaten). Sekilas, saya juga lebih suka Jember pada kesan pertama. Saya pernah berpikir bahwa suatu saat nanti saya ingin tinggal di kota semacam Jember, kota yang tidak kecil, juga tidak terlalu besar, namun ‘hidup’.

*eh eh salah fokus, kembali ke Pasuruan*

Tantangan terbesar di Pasuruan adalah dalam hal suhu udara yang lumayan ‘sumuk’, tak heran karena Pasuruan lebih dekat ke pantai, juga tidak jauh dari kawasan tempat berdirinya beberapa pabrik besar.

Kami tinggal di “pedalaman” Perumahan Karya Bakti Kencana Asri. Saya sebut pedalaman karena walaupun perumahan ini di tengah kota tapi letak kontrakan kami cukup jauh dari jalan besar. Yang menyenangkan adalah kontrakan kami sekarang walaupun lebih kecil tapi jauuh lebih nyaman dibandingkan dengan rumah di Jember. Air bagus, tidak ada kebocoran disana sini, punya tetangga yang cukup rapat walaupun mereka (sama seperti saya) jarang keluar rumah, rumah masih kokoh, tidak ada lagi makhluk-makhluk mengerikan seperti tikus, cicak, kecoa, rayap, atau semut, hanya sajaaa ada segerombol nyamuk yang lapar dan ganas, membuat rumah kami tidak pernah bebas dari bau obat nyamuk, mulai dari semprot, bakar, sampai elektrik, malah belakangan saya berpikir untuk memakai lotion anti nyamuk juga.

image

Karena belum sebulan tinggal disini, saya belum banyak tahu keadaan kotanya. Hanya sempat satu kali ke toko retail terkenal asal Perancis dan toko pakaian cukup besar yang kayaknya bakal sering saya kunjungi karena banyak pilihan baju bayi murah, hohoho. Denger punya denger, disini juga banyak alternatif tempat bermain yang bisa dikunjungi, termasuk di daerah Malang, yang jarak tempuhnya kurang lebih hanya 1 jam dari sini. Semoga sempat kami sambangi satu per satu nanti. Aamiin.

Kini, Pasuruan jadi kota ke-8 yang saya tinggali. Semoga Pasuruan menjadi Kota yang “ramah” untuk keluarga kami. Tapi … semoga sih gak lama-lama juga disini dan cepat dipindah mendekati Bandung, ke Solo atau Yogya juga boleh. Entah kenapa saya pengen ngerasain tinggal di salah satu atau dua kota itu, terdengar erotis eh eksotis :D