image

Hari ini Akhtar tepat berusia 6 bulan, dan (nyaris) lulus ASI eksklusif. Kenapa nyaris? Karena pada masa awal kehidupannya Akhtar sempat menyicipi formula yang diberikan nakes di RS bersalin tanpa sepengetahuan saya.

Kebetulan saya melahirkan di rumah sakit yang belum pro ASI dan IMD untuk proses kelahiran caesar, dan saya tidak membekali diri dengan cukup ilmu bahwa sehabis operasi (ternyata) ada masa di-ICU sampai kurang lebih 6 jam, operasi itu sendiri (tentu saja) di luar rencana saya yang menginginkan kelahiran normal.

Rupanya sesaat sehabis bayi lahir, suami saya di luar ruang operasi langsung disodori beberapa pilihan merek formula untuk bayi kami.   Tapi kejadian tersebut bagi saya sudah lalu, cukup diambil pelajaran berharganya untuk bekal menghadapi kejadian serupa di masa datang.  

Alhamdulillah selama enam bulan saya (nyaris) selalu memberikan ASI langsung dari sumbernya. Kenapa nyaris (lagi)? Karena ada 4 hari dimana Akhtar harus minum ASIP. Dari 6 bulan masa ASIX, mungkin 4 hari itulah yang menjadi tantangan terbesar bagi saya untuk memberikan ASI.  

Waktu itu saya langsung mengajukan surat resign beberapa hari sebelum masa cuti melahirkan habis. Saya terpaksa harus meninggalkan Akhtar di Bandung (bersama neneknya) sementara saya mengurus segala keperluan resign di Jakarta.   Dua hari saya mengurus pengajuan resign ke atasan dan mensubmitnya ke bagian SDM.

Sebetulnya saya masih punya sisa masa kerja selama 1 bulan sebelum efektif resign, tapi beruntung, saya punya atasan yang pengertiaaaan banget yang akhirnya membolehkan saya tidak masuk pada sisa 1 bulan itu (tanpa pemotongan gaji sedikit pun, boleh lah disebut magabut), lagipula semua pekerjaan saya sudah diambil alih sebelum saya cuti melahirkan.  

Dua hari juga saya harus meninggalkan Akhtar untuk mengurus clearance pada akhir masa kerja saya. Saat itu saya hanya meninggalkan 14 botol stok ASI beku untuk minum Akhtar selama 2 hari selama saya mengurus clearance, artinya hanya 14×100 ml. Seringkali saya berkali-kali menelpon untuk memastikan stok ASI masih cukup.

Sempat putus asa ketika hari kedua di Jakarta orang rumah mengabari stok ASI hampir habis dan mungkin akan kurang jika saya tidak segera pulang. Dalam hati, saya sempat menyerah dan (mungkin) akan merelakan Akhtar minum formula sebotol atau dua jika ASIP-nya betul-betul tidak cukup, untungnya saya pulang di saat yang sangat tepat ketika sisa ASIP tinggal kurang lebih 50 ml. Sejak saat itu, Akhtar selalu menyusu langsung dari saya, dan tidak pernah sebentar pun saya terpisah dari Akhtar.  

Merupakan suatu kebahagiaan tersendiri bisa mengawal setiap detail pertumbuhan Akhtar dari hari ke hari. Rasanya seperti diingatkan kembali tentang perjalanan saya sendiri sebagai manusia, dari mulai lahir sampai bertumbuh seperti sekarang. Betapa saya sering dibuat terkagum-kagum dengan perkembangan bayi yang pesat, yang ketika lahir tidak bisa apa-apa sampai sekarang 6 bulan sudah bisa melakukan hal-hal ‘kecil’ tanpa diajari.  
image

Sayangnya saya luput mencatat setiap detail kecil pertumbuhan Akhtar dan hanya bisa mengingat beberapa. Yang pasti di usia 6 bulannya ini saya bisa ceritakan bahwa Akhtar sudah bisa merangkak dan duduk, sesekali berusaha berdiri. Akhtar seperti selalu punya tenaga untuk bergerak, sementara ayah ibunya dan orang-orang sekelilingnya bergiliran mengerahkan tenaga untuk menjaganya.  

Semoga ke depannya Akhtar tumbuh menjadi anak yang sehat dan kuat, cerdas, shaleh, dan memiliki akhlak yang baik, serta memberikan manfaat bagi banyak orang di sekitarnya. Sebagai ibu, yang walaupun ‘stay home’, saya tidak selalu bisa menjaganya setiap saat, maka di luar usaha terbaik untuk menjadi ibu yang baik, tetaplah Allah sebaik-baik Pelindung.  

*postingan telat satu hari*