Bahkan saya pernah merasakan LIMA BULAN tanpa gadget.

**Oh ya, agar penulis dan pembaca berada dalam frekuensi yang sama, saya ingin (sangat) mempersempit makna gadget dalam tulisan ini hanya untuk smartphone**

Jadi, sekitar bulan September tahun lalu, saya kehilangan smartphone saya untuk kedua kalinya dalam enam bulan terakhir. Hilang, berpindah tangan begitu saja, namun saya tidak merasa harus segera menggantinya dengan yang baru, lagipula saya tidak menggunakan smartphone untuk urusan pekerjaan.

Akhirnya, selama lima bulan berikutnya, saya bertahan dengan satu-satunya handphone yang tersisa, yaitu sebuah handphone low end dengan fungsi dasar hanya SMS dan telepon, serta beberapa fitur hiburan seperti radio, music player, serta beberapa games sangat sederhana sekali. Itupun tidak dapat saya gunakan secara optimal. Untuk menggunakan radio saya harus memakai headset, sementara headset saya hilang. Ingin mendengarkan musik? Memori internal handphone saya tidak mumpuni untuk menyimpan file-file lagu, sementara memori eksternal pun saya tidak punya. Bermain games? Ah, lupakan, games-nya soooo yesterday (ngutip iklan kopi hehe). Fitur yang cukup sering saya gunakan hanya alarm, kalkulator, dan lampu senter. :D

Dan otomatis pula, semua aktivitas online secara mobile terhenti. Dari social media hingga update-update berita. Saya hanya online di kantor, itu pun kurang lebih hanya satu jam sehari, dan hanya membuka portal berita online atau beberapa situs favorit, sesekali memperbarui tulisan di blog, tidak termasuk facebook, twitter, dan sejenisnya, karena sudah pasti di-block. Sementara di rumah, saya sudah terlalu lelah untuk sekedar membuka laptop lalu online. Maka selama hampir lima bulan tersebut, seolah-olah terputuslah hubungan saya dengan kehidupan dunia maya.

Di satu sisi, saya menjadi tidak tahu atau terlambat tahu berita terbaru dari teman-teman saya, mungkin juga saya melewatkan beberapa pesta pernikahan atau kelahiran anak teman-teman saya, karena sudah tidak jamannya lagi mengabari lewat SMS dan telepon, kecuali orang-orang tersebut cukup dekat dengan kita. Hikmahnya? Kita jadi tahu, dari seribu-an teman di Facebook, atau ratusan kontak di Blackberry, atau puluhan nama di media chatting online lain, siapa saja teman yang ‘teman’, yang tetap menghubungi walaupun tidak lewat dunia maya. Ternyata, hanya segelintir orang.

Di sisi yang lain, dunia saya menjadi lebih tenang, lepas dari hingar-bingar dunia maya. Sensasinya itu (mari bayangkan) seperti misal kita sedang menonton TV di rumah, dari ruang belakang sayup terdengar suara mesin cuci berputar, tak jauh di atas kepala suara AC berdesir halus, sesekali suara kulkas pun terdengar, namun tiba-tiba, “Flop! Mati listrik!”. Sepi.

Dunia saya berjalan dalam ritme yang lebih lambat, dan itu ternyata menyenangkan. Saya bisa mengistirahatkan otak saya beberapa lama setelah bekerja cukup keras karena terus menerus menerima informasi baru setiap saat, tanpa sempat saya menyaringnya satu per satu, mana yang memang saya butuhkan atau tidak. Dengan terbatasnya waktu dan kesempatan mengakses dunia maya, saya bisa mengoptimalkan waktu online saya hanya untuk mencari informasi yang saya butuhkan saja.

Tanpa gadget, saya jadi punya waktu yang lebih berkualitas, tidak hanya untuk keluarga, namun juga untuk diri sendiri. Saya bisa menyimpan energi, yang biasa saya pakai untuk ‘ngepo-in’ orang lain dengan mengikuti update status mereka di dunia maya, untuk meningkatkan kualitas diri, misalnya dengan memperbanyak membaca, bersosialisasi di dunia nyata, atau beribadah kepada Tuhan.

Terbiasa tanpa gadget, membuat saya tidak susah pula untuk tidak tergantung padanya. Bahkan pada saat sekarang sudah punya gadget pun, saya bisa mengontrol diri untuk tidak memakainya terus menerus. Ketika berkumpul bersama keluarga pada akhir minggu, saya bisa tahan seharian tanpa melirik gadget sekali pun, bahkan terkadang tidak sadar gadget mati karena baterenya habis.

Jadi,

mau nantang saya ‘Sehari Tanpa Gadget’?

…siapa takut :)

Tulisan ini ikutan GA keren Sehari Tanpa Gadget di blog Keajaiban Senyuman lhooooo”