You know ragrag? Itu artinya Gubrag! Jatuh dari ketinggian.

Teringat beberapa waktu lalu sempat ngobrol dengan seorang teman soal bayi yang jatuh dari ranjang. Lalu, bergurau saya berkata, “Kayaknya bayi itu emang mesti ya jatuh dari tempat tidur, minimal satu kali”. Saya bicara seperti itu bukan tanpa dasar. Berdasarkan apa yang saya perhatikan, bukan sekali itu saja saya mendengar, bahkan menyaksikan sendiri bayi terjatuh dari ranjang, maka kejadian seperti itu menjadi tidak asing bagi saya, bahkan saya anggap wajar.

Dua hari yang lalu, siang hari ketika hujan turun lebat, sehingga suara-suara apapun di dalam rumah tersamarkan, saya yang sedang di ruang depan mendengar suara “Blug!” agak kencang dari arah kamar.

Seketika, “Akhtar!!!”, saya memekik, lalu segera berlari ke kamar, dan benar saja, Akhtar sudah dalam posisi telentang di lantai sambil menangis kencang. Guling kecil dan alas tidurnya pun tampak tergeletak di lantai.

Dengan sedikit ngaderegdeg (ngerti kan maksudnya? Haha), dengan tangan yang bergetar saya menggendong Akhtar dan berusaha menenangkannya. Untung tak lama kemudian Akhtar mulai tenang, tersenyum, dan main-main kembali.

Masalah ‘ragrag’ pada bayi ini, keesokannya saya segera mencari tahu di internet bagaimana efeknya. Sedikit bernafas lega karena menurut sebuah artikel di Kompas Female, orangtua tak perlu sampai terlalu khawatir. Meski berbahaya, sebagian besar benturan kepala yang dialami bayi tidaklah berdampak fatal. Walau teraba lembek atau lunak, struktur kepala bayi boleh dibilang relatif lebih aman terhadap trauma kepala, karena sambungan antartulang kepala atau tengkorak bayi relatif masih elastis, ubun-ubunnya masih terbuka atau belum menutup secara menyeluruh, sehingga tekanan yang terjadi karena benturan tak berakibat fatal, apalagi sampai mencederai otak.

Namun ada beberapa hal yang mesti dilakukan sbb:

Amati kondisi bayi
Bila setelah jatuh, bayi langsung menangis dan menggerak-gerakkan semua anggota badannya, maka langsung gendong dan tenangkan. Setelah ia tenang, baru lakukan pengamatan lebih lanjut, yaitu:

Ketahui bagian tubuh mana yang terbentur. Coba periksa dengan teliti, bagian tubuh mana yang terbentur apakah wajah, kepala, atau bagian tubuh lainnya.

Perhatikan kronologi kejadian. Perhatikan ketinggian saat ia terjatuh, lalu membentur media apakah (kursi, lantai, dan lain-lain). Ketahui juga proses jatuhnya, apakah langsung ke lantai atau terbentur sesuatu terlebih dahulu. Bagaimana posisi jatuhnya, apakah tengkurap, telungkup. Bagian mana yang terbentur.

Periksa kepala, kaki, dan tangan. Gerakkan tangan bayi, ke atas, samping, depan, dan rentangkan. Bila si kecil menangis atau bahkan menjerit, kemungkinan ada yang terasa sakit, periksa bagian mana yang terlihat lebam. Lakukan hal yang sama pada bagian kaki. Untuk kepala, coba tengokkan kepala bayi ke kanan dan kiri. Juga dekatkan dagu bayi ke dada secara perlahan. Bila ia menangis kemungkinan ia merasakan sakit. Jika ada keluhan seperti memar atau benjol, catat sebagai laporan saat datang ke dokter.

Ketahui apakah ada benjolan (hematom)
. Selanjutnya, periksa dengan cara raba seluruh bagian kepala untuk memastikan, adakah yang menjendol ataupun dekok di bagian kepala. Bila ubun-ubunnya terasa ada benjolan, kemungkinan terjadi peningkatan tekanan dalam otak lantaran adanya perdarahan atau edema otak. Bila ini terjadi, segera bawa ke dokter. Apalagi tampak benjolan di kepala, terutama di daerah samping kepala (temporal). Retak tulang yang terjadi di daerah ini dapat merobek pembuluh darah di dinding tulang kepala, sehingga mengakibatkan perdarahan.

Perhatikan fungsi penglihatan
. Gunakan senter sebagai alat bantu pemeriksaan mata, lalu lihatlah:
– Masih bereaksikah saat kita senter matanya: mengedip, menutup matanya atau kaget? Jika tidak, bawa segera bayi ke rumah sakit.
– Gerakkan senter ke kanan dan ke kiri, masih mampukah bayi mengikuti gerakan sinar? Jika tidak, ia harus segera dilarikan ke rumah sakit.
– Perhatikan pupil matanya, apakah pupil mata yang kiri dan kanan sama besar atau kecilnya saat kita senter satu per satu? Jika sama, kita bisa bernafas lega. Bila tidak, bayi perlu menjalani pemeriksaan lebih lanjut, seperti CT Scan.

Catatan:
* Lakukan pemeriksaan setiap 2—3 jam.
* Lakukan pengawasan atau observasi setidaknya hingga 3 hari ke depan.

Sumber artikel dari sini: http://female.kompas.com/read/2013/03/13/09313024/Jika.Bayi.Jatuh.dari.Tempat.Tidur

Kalau saya perhatikan sampai saat ini, kejadian jatuh kemarin tidak berdampak apa-apa sama Akhtar, bahkan saya tidak menemukan benjolan karena benturan atau tanda-tanda badannya yang sakit. Semoga memang tidak apa-apa.

Jadi, apakah ragrag adalah suatu milestone?

No! Itu murni karena kecerobohan orangtua… Heuh…

Maafin Mim ya Akhtar Sayang :*