Rumah AC-4

Disini lah kami tinggal, di sebuah rumah kontrakan 3 kamar tidur, 2 kamar mandi, ruang tamu, ruang keluarga, dapur, dan area menjemur yang luasnya, jika ditambah teras dan halaman depan yang cukup memarkir sebuah mobil, tidak kurang dari 100 meter persegi. Luas, bahkan terlampau luas untuk kami yang hanya tinggal bertiga.

Sebenarnya tidak tepat juga jika dikatakan ‘ngontrak’, toh kami tidak membayar sepeser pun untuk tinggal disini hehe. Hanya kebetulan saja rumah ini sudah ditinggalkan penghuni sebelumnya sebelum masa sewa habis pada Desember 2013. Penghuni sebelumnya itu ya rekan kantor suami saya, dan rumah ini jatah kontrakan dari kantor.

Yang namanya ngontrak, atau lebih tepatnya, numpang :D, kita tidak bisa menuntut rumah ini tampil prima. Pada hari pertama menginjakkan kaki disini, kami sudah dihadapkan pada masalah. Dan seiring dengan waktu, masalah-masalah lain pun bermunculan. Mulai dari pompa air mati sehingga kami mengalami krisis air, keran bocor, bak bocor, pipa PAM bocor hingga tagihan air mencapai angka 7 digit (gila gak tuh!?), kusen rapuh karena rayap, saluran air mampet, air hujan merembesi dinding, dapur banjir, dll.

Belum lagi hadirnya makhluk-makhluk kecil, seperti cicak, semut, rayap, nyamuk, kadang-kadang lalat, kecoa, dan tikus.
Saya yang biasanya gelisah hanya gara-gara ada seekor cicak di dinding kamar, kini bisa dengan santai melihat cicak yang merayap di lantai, jendela, atau rak TV. Banyaknya cicak disini mungkin karena pasokan nyamuk yang melimpah juga ya.

Yang paling menjengkelkan adalah semut. Semut hitam, semut merah, dan semut pirang (???). Sebentar saja kita meninggalkan makanan atau piring bekas makan di lantai, jangan tunggu sampai 5 menit semut-semut itu sudah datang mengerubungi.

Sementara rayap membuat rumah ini tidak pernah benar-benar bersih dari remahan kayu. Dalam suasana yang sangat sunyi, saya bisa mendengar kusen-kusen kayu berkeretakan dilalap rayap. Alhasil, beberapa kusen pintu dan jendela tidak berfungsi dengan baik, beberapa ada yang tidak bisa ditutup atau sebaliknya, susah dibuka.

Kabar baiknya, satu-satunya tikus di rumah ini ditemukan mati di tempat jemuran sekitar sebulan yang lalu. Maka tikus bisa dicoret dari daftar makhluk kecil yang menjengkelkan di kontrakan.

Kalau mau mengeluh, maka daftar keluhan itu tidak akan pernah selesai. Tapi mengeluh tidak mengubah kondisi apapun kan? Malah semakin menutup mata saya atas hal lain yang lebih patut disyukuri. Kenyataan bahwa kami tinggal tanpa membayar disini, bukankah harus sangat disyukuri? Apalagi kami dititipi pohon pepaya yang buahnya aduhai lebatnya, hehe.

Belakangan, saya malah menganalogikan numpang di kontrakan ini kayak kita numpang hidup di dunia. Allah kasih segalanya cuma-cuma. Manusia saja yang seringkali gak bersyukur atas nikmat Allah yang cuma-cuma ini. Memang, Allah tidak akan mengubah suatu kaum kecuali kaum tersebut yang mau mengubah dirinya sendiri. Tapi ada kalanya kita tidak bisa mengubah apapun pemberian dari Allah, given, sudah dari sononya, misal hal-hal terkait fisik. Yang perlu kita lakukan, sabar dan syukur saja, dengan begitu Allah akan menambah nikmatNya untuk kita.

InsyaAllah :)

*Lagipula, kalau ngontrak rumah kan kita masih bisa berharap agar bisa segera pindah ya… hehehe*