Apakah tidak berlebihan disebut gegar budaya, sementara saya masih belum beranjak dari Pulau Jawa?

Semua berawal dari suatu pagi, ketika saya dan suami menerima undangan syukuran pernikahan (ngunduh mantu) dari tetangga persis sebelah rumah. Yang agak mengherankan, dan luput tidak kami tanyakan ke si pengantar undangan adalah, undangannya ada dua. Undangan pertama layaknya kartu undangan biasa yang didesain cantik, dan yang kedua hanya tercetak di atas selembar kertas HVS berwarna.
Image
Kami tidak terlalu meneliti kedua undangan tersebut, sehingga dengan cepat menyimpulkan, undangan yang tercetak di kertas HVS itu mungkin koreksi atas undangan yang satunya lagi. Kami baca disana acaranya tanggal 2 November 2013, pukul 10.00 WIB.

Pada hari H, kami masih bersiap-siap dengan santai ketika pada pukul 10.00 dari rumah sebelah terdengar MC membacakan susunan acaranya, mulai dari pembacaan ayat suci Alquran, sambutan-sambutan, sampai ceramah dari Kiai, doa, dan ramah tamah. Saya hanya fokus pada acara terakhir, yang biasanya jadi inti dari keseluruhan acara, yaitu ramah tamah hehe, dan itu acara ke 7. Maka kami bersiap-siap tanpa terburu-buru.

Ketika keluar rumah sekitar pukul 10.30, di depan gerbang rumah, kami terheran-heran melihat di halaman rumah si empunya hajat sampai ke jalanan di depannya, para tamu undangan, yang mana adalah bapak-bapak, duduk di atas karpet yang disediakan. Kebanyakan berpakaian baju takwa dan peci, seperti pengajian. Karena disana cukup sesak, maka kami hanya berdiri di depan gerbang rumah kami, sambil mendengarkan ceramah pernikahan dari seorang Kiai.

Ketika ceramah selesai, kemudian ditutup dengan doa, selanjutnya acara ramah tamah (yang kami tunggu-tunggu), namun tak satupun tamu undangan yang beranjak dari tempat duduknya, karena hidangan sudah tersedia di depan tempat mereka duduk. Setelah itu, mereka bubar. Dan karpet-karpet segera dibereskan.

Lho? Saya dan suami hanya berpandangan heran. Udah? Gitu aja??

Terbingung-bingung kami menyimpulkan, mungkin seperti ini lah tradisi acara ngunduh mantu di Jember. Agak lama sampai kami ingat dua buah undangan yang kami terima beberapa hari sebelumnya.

Kali ini kami baca dengan lebih teliti, dan ahaa… Ini dia perbedaannya:

Di undangan pertama (kartu undangan desain cantik) tertulis:

Image
…..Resepsi Pernikahan……pada Sabtu, 2 November 2013, Pukul 18.00 WIB

Sementara di undangan kedua (undangan di kertas HVS) tertulis:

undangan walimah…..Walimatul Urusy pada Sabtu, 2 November 2013 Pukul 10.00 WIB

Got it! Itu adalah dua undangan untuk dua acara berbeda. Kata kuncinya adalah “Resepsi Pernikahan” dan “Walimatul Urusy”. Walaupun keduanya berarti Perayaan Pernikahan, rupanya di lingkungan saya sekarang keduanya bermakna beda berdasarkan konten acaranya.

Untungnya kami tidak melewatkan undangan resepsi pada sore harinya. Ada pengantin, ada hiburan musik, dan ada makan prasmanan :p