Sabtu pagi yang cerah tidak menunjukkan firasat apapun akan datangnya suatu kejadian yang sangat tidak terduga.

Dengan bersemangat, tidak seperti sabtu-sabtu yang lain, sebelum jam 7 pagi aku sudah berdiri di pinggir jalan menunggu bus Damri arah Bandara Soekarno-Hatta lewat.

Aku turun di terminal 2F setelah menempuh perjalanan 45 menit dengan Damri. Lalu berdiri bersama puluhan orang lain di depan pintu kedatangan.

Sekejap kulirik jam tangan di tangan kananku, “Masih setengah jam lagi”, batinku. Aku mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari tempat makan terdekat untuk sarapan. Ya, disana ada restoran siap saji cap bapak tua berjenggot, aku bergegas berjalan ke arah sana, ketika tiba-tiba, di depan pintu masuk restoran, dia melintas, dia, yang jaraknya tidak sampai lima meter dari cuping hidungku itu pun masuk ke restoran itu. Aku terpaku di tempatku berdiri, urung melangkah.

***

“Biiip… Biiip… “, suara SMS masuk itu sangat khas, sekaligus menggetarkan hatiku setiap kali mendengarnya. Aku semakin tenggelam di bawah selimut yang menutupi semua bagian tubuhku. Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin digoda orang serumah kalau sampai ketahuan tengah malam begini ber-SMS ria dengan seseorang yang ratusan kilometer jaraknya dari sini.

Setiap SMS yang masuk sukses membuat senyumku mengembang, ingin rasanya menyimpan semua SMS itu, namun HP monokrom keluaran tahun 1990-an itu tidak mampu melakukannya. Terlebih HP itu milik Papa. Maka setiap SMS yang masuk darinya langsung saja kuhapus untuk menghilangkan jejak.

***

Dari tempatku mematung kulihat dia berdiri di depan kasir sambil menunjuk-nunjuk menu yang terpampang pada display di belakang kasir. Tak lama, transaksi selesai, dia berbalik seraya membawa nampan dan makanan pesanannya. Refleks aku memalingkan wajahku ke arah lain, gugup, kubenahi rambutku.

***

“Aku suka kamu”, ucapnya lembut, pada satu kesempatan saat dia datang ke kotaku.
“Ha?”, aku ternganga tidak percaya pada ucapannya barusan.
Umurku 17 tahun, tapi baru sekali ini rasa sukaku tidak bertepuk sebelah tangan.
“Iya, aku suka kamu”, dia mengulangi kalimatnya, kali ini dengan tatapan lebih dalam.
“Ya udah…”, kataku polos.
“Ya udah apa?”, sambutnya tertawa sambil berusaha menjawil pipiku, aku membalasnya.
Kami tertawa.

***

Aku masih terpaku di dekat pintu restoran, menyibukkan diri dengan ponsel layar sentuhku. Sesekali aku melirik ke arah dia yang duduk menghadap luar, namun tak sedikit pun menyadari keberadaanku.

***

Dua tahun berlalu, dan kami masih bersama.

Hingga sampai pada satu hari menyesakkan dimana dia menunjukkan surat pindah tugasnya.
“Jauh sekali?”, air mataku mulai mengambang.
“Iya”, jawabnya pendek sambil membuang nafas.
“Terus?”, tanyaku.
“Yaa… Pindah”, pandangannya menerawang.
“Terus… Kita?”, kejarku.
“Tunggu aku ya”, jawabnya yakin, “Pada saatnya nanti aku akan datang menemui orangtuamu, pasti!”
Jawabannya memuaskanku. Seketika itu juga air mataku tumpah.

***

Terlalu lama tenggelam dengan ponselku, tiba-tiba dia sudah tidak ada di tempat duduknya. Dahiku mengernyit sambil mata menelusuri setiap titik di dalam restoran itu. Oh itu, dia terlihat di wastafel, di pojok ruang restoran.

***

Tidak, tidak pernah ada kabar, satu tahun kemudian semenjak kepindahannya ke tempat tugas yang baru. Tiba-tiba nomor ponselnya tidak aktif. Putus kontak. Tapi aku menunggu, karena dia yang memintaku menunggu.

Dua tahun hingga tiga tahun berlalu, pun tanpa kabar darinya. Aku menunggu? Inginnya begitu.

***

“Sayang… Nunggu dari tadi ya?”, aku terhenyak, suara itu begitu dekat, bahkan nafasnya pun terasa membelai daun telingaku.
“Sembilan tahun! Kamu pikir sebentar?”, ujarku setengah bergumam.
“Hahahaha… Kamu makin lucu deh Sayang…”
Suara tawanya yang khas, aku menoleh, suamiku!
“Bang! Kok ga telepon sih kalau sudah landing?”, aku merangkulnya erat.

Dari balik punggung suamiku, kulihat dia keluar restoran menyambut seorang wanita dan anak laki-laki, mungkin berumur 5 tahun. Bertubi-tubi dia mendaratkan ciumannya pada bocah yang menggeliat sambil tertawa-tawa geli dalam pelukannya.

Aku memeluk suamiku semakin erat.
Air mataku menitik.
Perih.

*drama oh drama*
*inspired by bandara*