Setelah hampir lima tahun wara-wiri di Ibu Kota, memeras keringat, memutar otak, masuk satu perusahaan, keluar, lalu masuk ke perusahaan lain, akhirnya saya mencapai titik karier saya yang paripurna. Bagi saya, inilah puncak karier saya, walaupun tak sedikit orang yang memandangnya sebelah mata. Ya, Menjadi Ibu Rumah Tangga Penuh Waktu. Bahasa populernya, FTM atau full time mother.

Menjadi FTM bukanlah keputusan mendadak hanya karena suami bertugas di luar Jakarta, bukan pula keputusan emosional sesaat karena tekanan di tempat kerja. Sebenarnya keinginan menjadi FTM itu sudah terlintas di pikiran saya bahkan pada tahun pertama kuliah, dengan sitkon yang mendukung saat itu.

Atas pencapaian ini, pertama-tama saya banyak berterima kasih kepada kedua orangtua saya yang dengan lapang hati menerima keputusan saya. Setelah empat tahun kuliah untuk mendapatkan gelar sarjana dengan biaya yang tidak sedikit, mereka sedikit pun tidak berberat hati jika ilmu yang saya dapatkan selama itu ‘hanya’ saya terapkan di rumah.

Kedua, saya berterima kasih kepada suami saya, yang memahamkan saya tentang konsep keluarga. Bahwa keluarga itu, tinggal di bawah satu atap. Terima kasih juga atas kesabarannya menunggu satu tahun hingga saya mantap dengan keputusan ini.

Alhamdulillah, sedikit pun saya tidak pernah menyesal, walaupun pada hari-hari terakhir kerja sempat ragu karena banyak masukan dari atasan dan rekan sekerja:
“Ga akan nyesel, Put?”
“Masuk sini susah lho Put”
“Nanti bakal susah lagi lho kalau pengen nyari kerjaan”
“Kenapa ngga suami kamu aja yang resign?”
Dan kalimat-kalimat senada yang intinya menyesalkan jika saya sampai keluar kerja.

Selama setahun tinggal berjauhan dari suami, saya seringkali membayangkan, bayangan yang menjadi ketakutan-ketakutan saya, bagaimana jika saya tidak sampai umur untuk menjadi istri yang baik, yang selalu ada kapan pun suami butuhkan. Lalu, saya mulai memikirkan kembali tujuan hidup saya. Dan saya merasa, bekerja, apalagi jauh dari suami, sudah tidak selaras dengan tujuan akhir hidup saya.

Saya terlalu menikmati pekerjaan saya, saya sudah terlampau jauh masuk zona nyaman, sehingga melupakan peran utama saya sebagai istri. Terkadang tujuan saya bekerja semakin absurd, misal saya bercita-cita menjajal seluruh rute penerbangan yang disediakan perusahaan saya. Traveling ke banyak tempat memang sudah menjadi mimpi saya sejak dulu, dan kesempatan mewujudkannya terbuka lebih lebar setelah masuk di perusahaan itu. Keinginan itu tidak sepenuhnya buruk, tapi jika gara-gara itu harus terpisah dari suami? Ah, pikirkan lagi.

Maka dengan segenap hati, bismillahirrahmanirrahiim, mantaplah hati saya dengan keputusan ini, menjalani sisa hidup saya untuk keluarga saya :)