Jakarta, dalam bayangan anak ‘kampung’ seperti saya adalah kota yang…hmm…kota bangeeettt. Identik dengan kemakmuran warganya, gedung-gedung bertingkat, para karyawan berdasi dan bergaji tinggi, mal-mal gemerlap, anak muda gaoool berbahasa setengah asing, dan hal-hal ‘ngota’ lain yang sebelumnya hanya bisa saya saksikan di layar kaca.

Jakarta terdengar jauh dan eksklusif. Ketika SMA, saya mengenal Jakarta hanya dari apa yang melekat pada teman-teman saya yang berasal dari sana. Sebagian besar dari mereka menggunakan sapaan lo-gw, ketimbang aku/saya-kamu, memiliki karakter percaya diri, dan sepertinya mengetahui lebih banyak hal daripada kami yang dari DAERAH. Ya, keeksklusifan itu makin terasa ketika ada penyebutan ANAK JAKARTA dan ANAK DAERAH, entah siapa yang memulai.

Selulus SMA dan kuliah di Bandung, Jakarta terdengar semakin dekat. Semakin banyak teman yang berasal dari sana, karakter mereka lebih beragam. Selain itu cerita tentang kerja di Jakarta menjadi perbincangan sehari-hari mahasiswa tingkat akhir di kampus saya. Sampai keinginan itu muncul, tidak muluk, saya ingin bekerja di Jakarta.

Bisa dihitung jari, berapa kali saya ke Jakarta sebelum lulus kuliah tahun 2008. Seingat saya, setelah karyawisata ke Jakarta kelas 3 SMA (2004), mungkin hanya 4 kali saya ke Jakarta lagi. Terakhir kali, pada tahun ke-empat kuliah saya membantu seorang dosen jadi ‘tukang ketik’ di workshop yang diikutinya. Disana saya tinggal di hotel berbintang di kawasan Harmoni. Dan benar saja, rasanya seperti orang kampung masuk kota. Di taksi dalam perjalanan pulang dari hotel menuju pool travel di Jalan Sudirman, saya dengan mulut menganga tidak berhenti ber-WOW melihat gemerlapnya Jakarta. Kebetulan, tempat-tempat yang saya lalui adalah landmarknya Kota Jakarta. Dari Harmoni melewati Istana Kepresidenan dan Monas, melewati Bundaran HI, berbagai gedung pemerintahan, dan bangunan tinggi lain yang sebagian adalah gedung-gedung kantor pusat dari berbagai perusahaan ternama.

Maka keinginan itu semakin menguat. Saya hanya ingin bekerja di Jakarta. Keinginan itu mulus saja tercapai, sehari setelah wisuda saya langsung berangkat ke Jakarta, menjalani hari pertama disana sebagai karyawan baru di sebuah kantor akuntan publik di Jalan Sudirman, salah satu ruas jalan yang mewakili apa yang saya bayangkan tentang Jakarta selama itu.

Namun, bulan pertama di Jakarta, saya sudah ingin pulang…