Saya mengambil judul postingan di atas dari judul buku yang baru selesai saya baca tadi malam. Buku itu adalah buku parenting ke…sekian yang sudah saya baca. Rasanya sudah setengah penuh kepala saya dijejali berbagai ‘teori’ tentang mendidik anak. Pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa kita tidak selalu bisa menerapkan cara mendidik yang sama ke setiap anak, karena satu satu dari mereka memiliki keunikan. Buku-buku parenting itu bagi saya menjadi pengingat bahwa anak adalah titipan dari Tuhan yang patut disyukuri, dijaga dan dididik baik-baik kembali ke fitrahnya sebagai makhluk Tuhan. Mengingat kembali Surat Adz Dzariyat ayat 56, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”, maka seharusnya hasil pendidikan itu bermuara pada tercapainya tujuan penciptaan manusia tersebut.

Buku karya Ayah Edy ini banyak mengkritisi sistem pendidikan di Indonesia yang lebih sering mengutamakan nilai rapor daripada pembinaan moral, karakter, dan akhlak anak. Saya sadar bahwa saya berasal dari generasi yang dididik dengan cara seperti itu, mungkin sebagian besar pembaca buku itu juga, dimana pertanyaan, “Dapat rangking berapa di kelas?” atau “Ujian dapat nilai berapa?” menjadi tolok ukur kecerdasan dan keberhasilan orangtuanya mendidik anak. Anak-anak generasi saya dibentuk jadi robot penghapal dan dijejali banyak mata pelajaran tanpa paham implementasinya untuk apa. Sementara nilai-nilai kejujuran dikesampingkan karena orangtua dan guru hanya peduli pada berapa nilai yang tertera di kertas ujian daripada bagaimana usaha kami untuk mendapatkannya. Belajar pun menjadi kegiatan yang tidak fun karena selalu dipisahkan dari bermain. Padahal masa anak-anak adalah masanya bermain, meng-explore lingkungan sekitar dan menggali minat, bakat, dan potensi yang mana selalu unik ditemukan di setiap anak. Dengan cara bermain lah anak-anak belajar.

Buku ini adalah bagian dari gerakan Let’s Make Indonesian Strong from Home! gagasan Ayah Edy. Terlalu muluk jika kita bermimpi mengubah Indonesia menjadi negara yang kuat jika kita tidak terlebih dahulu mengubah unit terkecil dari negara, yaitu keluarga.

Semoga anak-anak kita kelak hidup di bumi Indonesia yang lebih damai, tenteram, jujur, adil, sejahtera, bahagia, sentausa…selama-lamanya, semuanya mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, mulai saat ini…mulai dari keluarga kita masing-masing.

Bismillahirrahmaanirrahiim…selamat mengawali pekan ini dengan semangat menebar sebanyak-banyak manfaat :)