Inilah salah satu konsekuensi jika salah satu keran penghasilan ditutup, mengikat ikat pinggang lebih kencang. Hal tersebut berkaitan dengan keputusan saya untuk bekerja di rumah mulai pertengahan bulan depan. Secara finansial sebenarnya kami masih butuh kedua keran untuk terus mengalir, setidaknya untuk menutup pengeluaran di luar kebutuhan yang benar-benar pokok, tapi setelah pertimbangan matang yang tidak sebentar, kami melihat keputusan ini lah yang paling tepat untuk keluarga kami saat ini.

Masih harus tetap bersyukur karena berkurangnya setengah penghasilan bulanan keluarga kami bukan berarti kami akan hidup prihatin, hanya harus menurunkan gaya hidup dengan mengurangi banyak pengeluaran di luar kebutuhan sandang, pangan, dan papan.

Tentu hal ini akan menjadi sarana pembelajaran bagi saya dan suami untuk bisa me-manage keuangan keluarga. Akan sungguh memalukan jika kami tidak berhasil dalam hal ini, mengingat suami adalah sarjana lulusan manajemen konsentrasi keuangan dan saya lulusan akuntansi hehehe. Walaupun latar belakang tersebut pun tidak menjadi jaminan 100% bagi kami untuk sukses secara finansial di masa datang.

Mungkin masalah finansial ini lah satu-satunya hal yang membuat saya was-was untuk keluar dari kantor sekarang. Tapi kecukupan finansial juga tidak menjamin saya bahagia. Betapa tidak bahagianya saya yang hanya bisa bertemu suami dua minggu, atau tiga minggu, atau bahkan sebulan sekali walaupun saya memegang cukup uang untuk sekedar membahagiakan diri di mall, salon kecantikan, dll. Itu lah yang luput dari pertimbangan orang-orang yang tidak dalam posisi saya. Boleh juga jika orang menilai saya tidak cukup tangguh menghadapi situasi ini, mengingat di luar sana banyak juga pasangan yang terpisah satu sama lain. Tapi semua kembali kepada pilihan pribadi masing-masing, dan ini jalan yang saya dan suami pilih.

Dan semestinya hal finansial ini bukan masalah yang perlu terlalu dikhawatirkan. Saya mengenal beberapa keluarga yang mulai dari nol bahkan mungkin minus. Mereka perlahan-lahan bangkit, sehingga bisa bertahan sampai sekarang. Tidak hanya bertahan malah menjadi sangat berkecukupan. Keluarga-keluarga itu punya persamaan, selain karena bekerja keras dan cerdas, saya menilai mereka orang-orang yang berserah diri sama Allah. Pasrah. Semoga kami pun nanti begitu. Semoga hati-hati kami senantiasa bertaut pada Allah sehingga Allah tidak akan pernah meninggalkan kami.

Bismillahirrahmaanirrahiim…inilah awal baru bagi perjalanan hidup keluarga kecil kami…