Belakangan ini topik hutang-menghutangi cukup hangat dibahas di keluarga kecil kami. Pasalnya dalam dua minggu terakhir sekurangnya tiga orang rekan suami saya meminta dipinjamkan sejumlah uang.

Orang pertama adalah kenalannya saat kuliah dulu. Sepertinya kebutuhannya mendesak, karena selain mengirim pesan singkat, dia pun sempat berusaha menelepon suami saya beberapa kali. Namun tak terjawab. Sebenarnya uang yang dipinjam tidak besar dan kami bisa memenuhinya. Namun setelah berdiskusi, akhirnya suami tidak memberinya pinjaman, hanya mengirimkan sebagian saja jumlah yang ingin dipinjam sebagai pemberian.

Yang kedua pun sama. Tidak terlalu besar, namun akhirnya suami berkeputusan untuk tidak memberinya pinjaman setelah mempertimbangkan urgensi dan kondisi si peminjam.

Yang ketiga, terbilang besar, mengingat orang yang meminjam pun bukan orang yang cukup dekat dengan suami, walaupun sebenarnya masih dalam jumlah yang bisa kami pinjamkan. Si peminjam berdalih istrinya sakit. Dengan nominal sebesar itu, ditambah sedikit rasa tidak percaya pada alasannya meminjam, tentu saja suami tidak bersedia. Namun si peminjam terus ‘menawar’ hingga akhirnya suami saya meminjamkan seperempat dari jumlah semula. Itu pun dengan dibumbui rasa iba melihat si peminjam adalah seorang bapak setengah baya. Janjinya, sehabis gajian akan dibayar.

“Kadang suka bingung, takut kikir kalau gak ngasih”, begitu kata suami saya.

Ya sih, kalau dilihat dari jumlah yang dipinjam sebenarnya masih sangat bisa kami penuhi. Namun kami pun mempertimbangkan banyak hal lain sebelum memutuskan memberi pinjaman atau tidak pada seseorang. Selain mempertimbangkan alasannya meminjam, kami lihat juga kemampuan bayarnya. Kalau menurut kami, si peminjam akan tidak sanggup membayar atau pura-pura lupa membayar di kemudian hari, biasanya tidak kami pinjami.

Pelit?
Kalau menurut saya yang masih sangat dangkal ilmu ini, di hadits manapun yang pernah saya baca (cmiiw yaa), bahwa hutang itu mau ga mau, mampu ga mampu ya harus dibayar, sesuatu yang wajib dilunasi di dunia, karena urusannya antar manusia. Kalau saya sendiri tidak akan mau meminjamkan uang atau apapun kepada orang yang sekiranya tidak dapat memenuhi kewajibannya, karena takut menjerumuskannya.

Jadi, selain bijak berhutang, seharusnya bijak juga menghutangi. Jangan memberi jalan berhutang pada saudara-saudara kita yang tidak sanggup membayarnya, kecuali kita mampu dengan rela membebaskannya.

Ya Allah, aku berlindung padaMu dari kegelisahan dan kesedihan, dari kesedihan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, serta dari tidak mampu membayar hutang dan dari penguasaan orang lain. Amin.

*yang punya piutang atas saya, please PM yaa… asri.putri86@gmail.com hehehe*