Kami melakukan perjalanan mudik dengan pesawat Garuda nomor penerbangan GA 360 pada hari Jumat tanggal 26 Juli 2013 dengan jadwal keberangkatan jam 11.05 dari Bandara Juanda Surabaya ke Bandara Husein Sastranegara Bandung.

Sehari sebelumnya, saya mengepak cukup banyak barang ke dalam sebuah koper besar. Beberapa barang lain saya masukkan ke koper kecil, termasuk sejumlah lembaran uang baru untuk dibagi-bagikan ke sanak saudara di kampung halaman saat lebaran nanti. Uang-uang itu disimpan dalam amplop dan dimasukkan lagi ke tas jinjing sebelum dimasukkan ke dalam koper kecil. Koper kecil ini saya maksudkan untuk dibawa dan disimpan di bagasi kabin pesawat.

Malam hari sebelum keberangkatan, suami saya, tanpa menahu apa isinya, memindahkan semua isi koper kecil ke dalam ransel, termasuk tas jinjing berisi uang. Jadi lah bawaan kami ke bandara berupa sebuah koper besar, ransel, tas bayi, dan tas laptop. Memang menjadi tidak ringkas.

Keesokan paginya kami tiba di bandara. Saya menggendong bayi saya, sementara suami membawa semua barang bawaan. Tentu saja repot. Sebagaimana prosedur di bandara, kami masuk ruang check in melalui pintu pemeriksaan, pun barang-barang kami melewati alat pemindai. Kemudian petugas bandara meminta kami mengikat bagasi di tempat pengikatan bagasi disitu. Demi meringkaskan bawaan, suami mengikat koper besar dan ransel untuk masuk bagasi. Saat itu, saya sama sekali lupa kalau saya menaruh uang di ransel itu. Itu murni merupakan kecerobohan saya.

Kami check in sekitar satu setengah jam sebelum jam berangkat. Sekitar 30-45 menit setelah check in, kami sudah masuk boarding room dan memilih duduk menghadap landasan dan lapangan parkir pesawat, sehingga kami bisa melihat aktivitas disana, termasuk memerhatikan aktivitas di luar pesawat yang akan kami tumpangi. Tak lama kami duduk, bagasi-bagasi mulai dinaikkan. Jadi, kalau dihitung-hitung, ada sekitar satu jam dari mulai bagasi diserahkan di meja check in sampai diangkut ke pesawat.

Kecurigaan kami bermula ketika tiba di Bandara Husein. Tali yang mengikat ransel kami sudah putus. Suami memastikan, “Ga ada barang berharga kan?”. Saya dengan yakin menjawab, “Ngga”. Dan kami pulang ke rumah dengan tenang. Di rumah, suami kembali mengecek barang dalam ransel, dan hanya menemukan pegangan retsleting ransel hilang, seperti ditarik paksa.

Keesokan paginya, sehabis sahur, secara tiba-tiba saya teringat uang dalam tas jinjing di dalam ransel. Seketika saya langsung periksa, dan benar saja kekhawatiran saya, uang itu hilang. Belakangan saya tahu, charger HP kami juga hilang, padahal di simpan di kantung yang berbeda, kesimpulannya, si pembobol memang melakukannya dengan teliti dan sepenuh hati.

Mengingat-ingat kembali kejadian ke belakang, saya sangat yakin ransel itu dibobol di Bandara Juanda sebelum naik ke pesawat. Dan si pembobol sepertinya tahu betul apa isi ransel kami mengingat singkatnya waktu dari mulai ransel diserahkan di tempat check in sampai diangkut ke dalam pesawat, sehingga tidak mungkin untuk membongkar bagasi satu per satu sampai menemukan barang yang dia inginkan. Dan tidak mungkin terjadi di Bandara Husein, karena begitu mendarat kami tidak menunggu lama sampai bisa membawa bagasi kami kembali.

Tapi kecurigaan lain, dan menurut saya paling mungkin, si pembobol ini, yang mana adalah petugas di bandara sepertinya punya “prosuder standar” dengan menggeledah tas-tas yang mudah dibuka sebelum dinaikkan ke pesawat, karena dari beberapa kejadian yang pernah saya baca, kasus kehilangan lebih banyak terjadi pada barang-barang yang disimpan di tas-tas yang mudah dibuka.

Pertanyaannya sekarang? Kehilangan itu kini menjadi tanggung jawab siapa? Apa kemudian dilimpahkan ke penumpang dengan alasan barang berharga seharusnya tidak disimpan di bagasi, walau lupa sekalipun? Sudah tidak bisa kah kita percaya pada pihak lain yang kita limpahi tanggung jawab? Ah, saya terlalu pesimis.

Besok, suami saya akan mencoba lapor ke bagian lost and found di bandara. Terlepas akan menemukan hasil atau tidak, yang penting kami berusaha. Dan semoga menjadi bahan evaluasi pihak-pihak terkait, setidaknya menjadi perhatian dengan bertambah panjangnya daftar kasus pembobolan bagasi yang saya yakin sering terjadi dan mungkin terjadi secara sistematis serta tidak hanya melibatkan satu atau dua orang saja.

Dan, teman-teman semoga bisa mengambil pelajaran dari kejadian saya, apalagi sekarang musim mudik, untuk tetap waspada terhadap niat-niat buruk di sekeliling Anda. Selamat mudik dengan aman dan selamat. Jaga diri dan barang bawaan Anda.