Pernah berjanji pada diri sendiri untuk posting lebih banyak tulisan selama cuti melahirkan ini, karena dalam bayangan saya akan banyak waktu luang juga cerita selama cuti yang bisa saya tuliskan. Namun nyatanya, selama cuti di Jember, baru satu tulisan yang saya posting dari sekian banyak draft imajiner yang berkeliaran di kepala saya.

Kenapa? Ternyata berdiam diri di rumah dengan peran sebagai ibu rumah tangga penuh waktu tidak serta merta membuat saya menjadi tidak ada pekerjaan sama sekali. Memang, sebelum melahirkan saya masih sempat untuk tidur siang paling lama tiga jam sehari (kelamaan yak? hehe), dan sesekali online, namun di luar itu ada se-abreg pekerjaan yang harus diselesaikan, dari mulai mencuci pakaian dan peralatan dapur, menyeterika, beres-beres rumah, sampai memasak. Sejujurnya, pekerjaan yang paling riweuh adalah memasak. Walaupun masakan yang saya buat sederhana, tapi ada banyak komponen aktivitas yang harus dilakukan, mulai dari persiapan memasak – termasuk didalamnya urusan potong memotong, iris mengiris, halus menghaluskan, cuci mencuci bahan masakan, dll, –  proses memasaknya itu sendiri, dan setelah selesai saya harus membersihkan dan merapikan semua bekas kegiatan memasak. Selesai semua pekerjaan itu, rasa lelah pun mendera, dan pilihan paling tepat adalah beristirahat sampai seringkali tertidur.

Setelah melahirkan, kesibukan semakin bertambah-tambah. Selain urusan rumah tangga yang biasa saya kerjakan sebelum melahirkan, juga ada bayi kecil, Baby Akhtar-ku, yang menyita sebagian besar waktu saya, baik siang maupun malam. Apalagi di usianya yang baru satu bulan sekarang, entah mengapa Akhtar selalu terlihat tidak kenyang. Setidaknya dua jam sekali dengan durasi rata-rata setengah jam, Akhtar harus menyusu. Belum termasuk waktu untuk menidurkannya. Akan lebih mudah jika Akhtar langsung tertidur setelah menyusu, namun ada kalanya harus melakukan cara lain untuk membuatnya tertidur. Dan sebelum Akhtar benar-benar tidur, akan sulit bagi saya untuk mengerjakan pekerjaan lain. Pun ketika akhirnya Akhtar tertidur tidak jarang saya malah ikut-ikutan tidur haha.

Alhasil, bahkan menyelesaikan satu postingan pun rasanya sulit (banyak alasaaan … ). Maka dari itu mungkin banyak ibu baru mengeluhkan kelelahannya dan curhat ingin memiliki ‘me time‘. Setidaknya curhatan itu yang beberapa kali saya baca di status akun socmed teman-teman saya para mahmud alias mamah muda, karena ternyata untuk memiliki waktu untuk diri sendiri itu memang benar-benar susah, apalagi jika ibu berkomitmen untuk memberi ASI full dan tidak memiliki persediaan ASIP, seperti saya ini. Meninggalkan rumah bahkan untuk sekedar jajan ke minimarket dekat rumah pun rasanya susah, maka dari itu, sejak melahirkan mungkin baru satu … dua … tiga … mungkin empat atau lima kali saya keluar rumah dengan meninggalkan bayi, itu pun tidak lebih dari satu jam.

Tak heran, seorang rekan sekantor saya, yang juga seorang ibu dari dua anak, bilang, “Harus lebih sabar ya sekarang udah jadi ibu” sebagai balasan atas pesan pendek saya yang mengabari bahwa saya sudah melahirkan. Kata-kata itu kemudian baru saya pahami betul, ketika suatu tengah malam menuju dini hari, suami saya belum pulang dari suatu urusan di Surabaya dan Akhtar bangun tidak mau tidur sampai lebih dari tiga jam setelah berbagai cara saya lakukan, saya frustasi dan menangis setelah ‘memarahi’ bayi yang waktu itu masih berusia satu minggu. Dan pada situasi seperti itu, memang hanya SABAR yang dibutuhkan.

Maka dari itu, bertambah-tambah kagum lah saya pada para ibu yang dengan lelah dan susah payah mengurus rumah tangganya tanpa keluhan. Kagum lah saya pada para ibu yang masih tetap berkarier di luar rumah tanpa meninggalkan urusan rumah tangganya. Kagum lah saya pada para ibu mapan dalam karier yang rela melepaskan kariernya dan memilih untuk menjadi full time mom. Saya sendiri … masih (dan akan terus) berusaha menjadi istri dan ibu terbaik buat keluarga kecil saya. Cihuyy dah hehe.