Dan di Kota Jember-lah saya saat ini, di Kota tempat suami saya bertugas. Menanti anak pertama yang diperkirakan lahir pertengahan bulan Juni 2013. Banyak orang mempertanyakan, dari mulai teman-teman kantor, teman-teman sekolah atau kuliah yang sampai saat ini masih lumayan intens komunikasi, termasuk keluarga besar di Bandung, hmm, rasa-rasanya hampir semua orang yang tahu keputusan saya ini bertanya, “Kenapa sih mesti di Jember???”

Pertanyaan yang aneh menurut saya, karena saya hanya akan menjawabnya dengan jawaban yang sangat sederhana. Kenapa Jember? Karena suami saya ada di kota ini. Lalu pertanyaan-pertanyaan mereka berikutnya adalah, “Kenapa tidak Bandung? Bukankah lebih enak melahirkan (apalagi anak pertama) dekat dengan orangtua dan keluarga besar? Tidak akan repot dan banyak yang membantu?”. Pendapat itu pun tidak salah, tapi saya pun tidak merasa ada yang salah dengan keputusan yang saya ambil sekarang.

Bagaimanapun, melahirkan dekat dengan suami adalah pilihan terbaik bagi saya saat ini. Tentu saya tidak bermaksud mengesampingkan peran orangtua atau keluarga besar dalam hal ini. Saya sendiri sempat galau sampai akhirnya mengambil keputusan ini, karena ada banyak benarnya apa yang sebagian besar orang bilang, sebagai pengalaman pertama punya anak, pasti peran keluarga besar sangat dibutuhkan.

Lalu saya berpikir ulang dan berulang kali. Sampai yang paling jauh saya mencoba memahami lagi makna pernikahan (beraaattt …. :D). Bahwa saat ini suami sayalah yang bertanggung jawab penuh atas saya. Kami sudah mengorbankan hampir satu tahun hidup berjauh-jauhan dengan segala pengorbanan (yang paling konkret adalah pengorbanan secara materi :D), dan saya tidak mau menyia-nyiakan cuti melahirkan yang hanya tiga bulan ini dengan membuang-buang kesempatan memetik pahala sebagai seorang istri yang penuh waktu tinggal di rumah dan melayani suami (cie cieeee…), walaupun ‘hanya’ sekedar membuka pintu rumah saat suami pulang kerja.

Saya berpikir ulang dan berulang kali, bahwa yang perlu saya rubah dengan keputusan ini hanya lah mindset saya. Jangan pernah berpikir melahirkan dan memiliki bayi baru lahir adalah hal yang merepotkan. Memang mungkin capek dan akan banyak kebingungan-kebingungan terkait perawatan bayi baru lahir, tapi itu sebuah proses yang pada umumnya dialami oleh hampir semua keluarga, jadi sangat mungkin untuk diatasi.

Secara sederhana saya mengartikan yang saya jalani saat ini sebagai mandiri. Dari awal kehamilan, saya bahkan tidak setiap hari didampingi suami saya. Dan semua berjalan baik-baik saja. Kuncinya pikiran yang positif saja, bahwa semua yang terjadi bisa diatasi.