Lain lagi kejadiannya pada masa-masa ujian nasional di SMA.

Btw, dari SD langsung loncat ke SMA, karena Alhamdulillah di SMP tidak mengalami pengalaman buruk terkait UN, hanya terjadi sedikit anomali di sekolah kami ketika beberapa siswa yang tidak menonjol secara akademis tiba-tiba masuk dalam jajaran siswa dengan NEM 10 besar di angkatan. Positive thinking saja, bahwa banyak faktor berpengaruh pada saat ujian.

Oke, lanjut …

Saya bersekolah di salah satu SMA favorit yang siswa-siswanya berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Tidak heran jika disebut SMA favorit, karena seleksi masuknya pun dilakukan dalam beberapa tahap selama kurun waktu beberapa bulan, dan yang terjaring adalah siswa-siswa yang secara akademik, kesehatan, fisik, dan psikis dalam kondisi baik.

Walaupun begitu, NEM SMP tidak jadi pertimbangan utama untuk masuk ke SMA ini. Bahkan NEM baru diumumkan ketika saya sudah melewati beberapa tahap seleksi sampai tingkat provinsi.

Saya bisa masuk ke sana, semua atas seizin Allah dan restu dari orang tua, kalau dibilang karena saya pintar, sepertinya sih tidak. Saya menilai hampir semua teman-teman saya disana adalah orang dengan kecerdasan di atas rata-rata. Beberapa diantaranya menjadi juara olimpiade tingkat nasional, bahkan pernah mengikuti event dunia. Sementara saya sendiri termasuk yang biasa-biasa saja, apalagi kalau menyangkut pelajaran eksak, padahal di kelas 3 saya masuk kelas IPA.

Beberapa bulan menjelang ujian nasional, tekanan mulai terasa, terutama untuk siswa yang biasa-biasa saja seperti saya. Saat itu, sudah berlaku ujian nasional yang hanya terdiri dari tiga mata pelajaran, yaitu matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Sementara subjek di luar itu diujikan di tingkat regional, kota atau provinsi ya? Saya lupa.

Di SMA, kami mengenal Kode Kehormatan Siswa, salah satu poinnya adalah Pantang Menyontek, yang mana hukuman terberat jika melanggar Kode Kehormatan adalah dikeluarkan dari sekolah. Dengan doktrin yang sudah tertanam itu, kami menjalani ujian dengan sangaaaattt tenang, tidak ada bisik-bisik tetangga, apalagi sampai lempar-lemparan kunci jawaban. Jadi, hasil yang didapat bisa dijamin murni hasil kerja siswa yang bersangkutan, ditambah dengan sedikit faktor keberuntungan mungkin ya hehe.

Nah, ada kejadian yang menyesakkan dada pada hari pengumuman nilai ujian nasional. Nilai rata-rata sekolah kami jauh di bawah ekspektasi, dan guru-guru pun akhirnya mengemukakan alasannya. Ketika itu ada ‘kebijakan’ dari pihak provinsi untuk sharing nilai sekolah kami yang rata-ratanya tinggi kepada sekolah-sekolah lain yang rata-ratanya rendah. Jadi, nilai rata-rata provinsi sebenarnya tidak berubah, hanya persentase siswa yang lulus jadi meningkat, karena yang dilakukan ‘hanya’ mengatrol nilai siswa yang rendah, bahkan mungkin tidak masuk standar untuk lulus, dengan bantuan siswa yang nilainya tinggi. Rumornya sih, hal itu terjadi tidak hanya di sekolah kami, dan tidak hanya di provinsi tempat sekolah kami berada. Hah?!?!

Saat itu pihak sekolah menjelaskan sedang memperjuangkan agar kami mendapatkan nilai sebagaimana yang mestinya kami dapatkan. Dan hasilnya terlihat beberapa waktu berikutnya ketika guru akhirnya mengumumkan nilai murni kami tanpa dipotong ini itu. Lonjakan nilainya lumayan juga, dan berarti banget buat saya yang fakir nilai hehe. Bahkan beberapa teman mendapatkan nilai sempurna, alias 10, untuk beberapa mata pelajaran, hal yang tidak terjadi pada pengumuman nilai yang pertama kalinya. Jadi, bisa dibayangkan, berapa total nilai kami yang dikorupsi untuk menyelamatkan siswa-siswa yang tidak berhak menyandang predikat LULUS. Yang lebih khusus lagi, menurut saya mungkin jalan pintas itu dilakukan untuk menyelamatkan wajah sistem pendidikan yang carut marut dan evaluasi hasil belajar yang terbukti tidak efektif.

Ah ya, jadi … apa itu sekolah? Dan apa gunanya ujian?