Sejak kejadian pemerasan handphone hampir 5 bulan yang lalu, saya bertahan dengan satu-satunya handphone yang tersisa, sebuah handphone low end dengan fungsi dasar hanya sms dan telepon. Beberapa fitur hiburan diantaranya hanya games sangat sederhana sekali, radio, serta MP3 player, dimana saya pun sangat jarang bahkan tidak bisa menggunakannya. Radio harus menggunakan headset sebagai antena, sementara headset saya hilang entah dimana, dan untuk menggunakan MP3 player setidaknya saya harus punya memori eksternal cukup untuk menampung beberapa puluh lagu, mengingat memori internal handphone yang sangat tidak memadai, sementara memori eksternal pun saya tak ada. Maka yg saya manfaatkan pada akhirnya cukup … tidak lebih dari … hanya … sms dan telepon … sahaja. Titik.

Otomatis, semua aktivitas online secara mobile terhenti. Dari social media, atau sekedar update-update berita. Saya hanya online di kantor, itu pun kurang lebih hanya satu jam sehari, dan hanya membuka portal berita online atau beberapa situs favorit. Maka selama hampir 5 bulan tersebut seolah-olah terputuslah hubungan saya dengan kehidupan dunia maya.

Satu sisi, saya menjadi tidak tahu berita terbaru dari teman-teman saya, mungkin juga saya melewatkan beberapa pesta pernikahan atau kelahiran anak teman-teman saya, karena sudah tidak jamannya lagi mengabari lewat sms atau telepon, kecuali orang-orang tersebut cukup dekat dengan kita.

Sisi yang lain, ada ketenangan yang saya rasakan. Saya merasa lepas dari kebisingan dunia maya. Tidak terdengar lagi kicauan-kicauan yang kadang memekakkan. Tidak ada lagi ocehan berita pribadi berseliweran. Tidak ada lagi diskusi-diskusi di berbagai forum atau grup yang menyita waktu saking asyiknya.

Bukan saya tidak peduli apalagi asosial, hanya ada saat saya membutuhkan waktu untuk diri sendiri, bercermin hanya pada diri sendiri, dan hal itu tidak akan benar-benar didapat jika kita terus melihat apa yang diperbuat dan dipikirkan orang lain. Ada saatnya saya butuh dunia saya berjalan dalam ritme yang lebih lambat, dan itu tak akan terwujud jika saya terus menerus menerima informasi baru setiap saat, tanpa saya sempat menyaringnya satu per satu, mana yang memang saya butuhkan atau tidak. Dengan rehatnya sementara dari dunia maya, saya bisa memilih dan mencari informasi yang ingin saya tahu saja.

Terhitung sejak 9 Maret lalu, saya kembali ke dunia saya 5 bulan lalu. Berbagai informasi ada dalam genggaman tangan hanya dengan menggerakkan dua jempol di atas papan ketik. Dunia terbuka seluas-luasnya di depan mata. Dalam kaitannya dengan aktivitas di dunia maya, maka sebaiknya saya lebih bijak dengan tindakan, pikiran, dan kata-kata saya. Jika tidak bisa memberikan manfaat bagi orang banyak, maka jangan merugikan, atau lebih baik diam, agar terhindar dari kesia-siaan.