Jika tujuan Trans7 menayangkan berita-berita kriminal pada jam sarapan pagi adalah untuk mematikan selera makan para penontonnya, maka mereka BERHASIL.

Bagaimana tidak, kalau kejahatan di berita kriminal itu dinarasikan dengan detail sampai para penontonnya bisa memvisualisasikan sendiri adegannya dalam kepala.
Jika itu adalah berita pembunuhan, maka reporter akan menjelaskan, bagaimana cara si korban dibunuh. Jika itu adalah berita pelecehan seksual, reporter akan menerangkan bagaimana si korban dicabuli, si reporter merasa perlu juga untuk menjelaskan dengan detail bagaimana si penjahat memasukkan jarinya ke dalam alat vital korban. Itu berita yang saya saksikan tadi pagi. Jika itu adalah berita kecelakaan, reporter pun akan menjelaskan secara mendetail semengenaskan apa kondisi korban. Untuk menambah dramatis berita, ditayangkan pula kondisi keluarga korban yang histeris.

Untungnya saya tidak sedang sarapan setiap melihat berita pagi itu. Ya, karena saya menontonnya di bus jemputan yang televisinya selalu menyetel Trans7 setiap pagi. Tidak bisa juga dikatakan menonton, karena saya lebih suka mengalihkan perhatian pada kemacetan di luar bus daripada harus menonton berita yang menurut saya tidak ada faedahnya untuk saya. Sesekali saya hanya mendengar ekspresi desisan ngeri dari Ibu di belakang tempat duduk saya.

Lalu apa tujuan dari si penayang berita? Untuk menumbuhkan kewaspadaan diri para penontonnya? Ya mungkin saja, jika jargonnya Bang Napi masih relevan, “Waspadalah … waspadalah … “. Tapi di sisi lain, berita kejahatan yang ditampilkan terlalu sering juga mengurangi kepekaan kita terhadap kejahatan itu sendiri. Kejahatan menjadi terdengar lumrah dan biasa. Itu yang bahaya.

Saya sendiri tidak tahu menahu mengenai undang-undang penyiaran di Indonesia. Dan bagaimana berita-berita kriminal yang diekspos terlalu detail itu dalam pandangan undang-undang penyiaran. Walaupun adegan kejahatan/ kekerasan tidak diperlihatakan dalam suatu siaran, namun narasinya jelas-jelas mengumbar kekerasan. Hal ini diibaratkan seperti iklan rokok yang tidak menayangkan orang merokok tapi dengan detail menjelaskan bagaimana caranya merokok.

Entahlah, tapi berita kejahatan yang ditampilkan, deskripsinya bahkan terdengar sama sadisnya sekalipun dibandingkan dengan film sadis macam “The Raid”. Bahkan mungkin lebih sadis, karena yang terjadi ini adalah NYATA bukan FILM FIKSI.

*** menulis dengan lantunan lagu Sadis dari Afgan sebagai backsound ***