Jakarta!

Jakarta!

Judul : Jakarta!
Penulis : Christophe Dorigne-Thomson
Penerjemah : Caecilia Krismariana
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama Oktober 2012

Beberapa jam pada siang hari itu saya berkeliling di Toko Buku Gramedia Jember, mencari buku (apa pun) yang paling ingin saya bawa pulang. Toko buku di salah satu jalan ramai di Kota Jember itu tidak bisa dibilang besar, walaupun terdiri dari tiga lantai, hanya satu lantai yang memajang buku-buku. Saya agak kehabisan pilihan karena sebagian besar novel bergenre itu-itu saja. Dua buku saya baca, bahkan sampai hampir sepertiganya, tapi tidak cukup menggairahkan saya untuk membelinya dan membaca lanjutannya di rumah.

Sampai saat saya memutuskan untuk pulang saja, saya terhenti di salah satu rak buku-buku terbitan baru dan terpaku pada buku berjudul “Jakarta!”. Buku ini menarik pada kesan pertama. Mengapa?

Pertama, karena penulisnya bukan orang Indonesia. Saya selalu tertarik pada pandangan-pandangan orang luar Indonesia yang bercerita tentang Indonesia, entah buruk atau (apalagi) baiknya.

Kedua, saya membuktikan “teori” saya sendiri seperti yang saya tuliskan di post tentang membaca buku, bahwa endorsement dari orang terkenal pada sampul buku bisa mempengaruhi penilaian kita pada suatu buku bahkan sebelum kita membacanya. Di bagian belakang buku ini tertulis beberapa endorsement dari beberapa tokoh terkenal. Sebut saja, Sandiaga S Uno, Anies Baswedan, Irman Gusman, dan Rio Dewanto … tuh kan salah satu aktor favorit saya aja ikutan nongkrong :D. Sementara mengenai isinya, saya hanya membaca paragraf pertama sebelum memutuskan membeli. Sebenarnya saya tidak pernah bisa sepenuhnya menikmati novel-novel terjemahan, tapi saya ‘terpaksa’ membuat pengecualian untuk novel ini karena penasaran dengan isinya.

Jangan berekspektasi bahwa Anda akan menemukan banyak cerita soal Jakarta disini. Dari 17 Bab, hanya dua bab terakhir yang menceritakan dengan sedikit detail tentang Jakarta khususnya, dan Indonesia pada umumnya, setelah pada bab-bab sebelumnya pembaca diajak berkeliling ke berbagai negara di semua benua berkaitan dengan pekerjaan yang dilakukan oleh tokoh utama dalam novel ini, Edwin Marshall.

Kalau begitu, mengapa Jakarta! yang dipilih sebagai judul novelnya? Di halaman paling belakang, penulis menulis seperti ini:

“Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia, saya percaya kepada negeri ini. Saya selalu akan percaya Indonesia memiliki masa depan yang cerah”

Dan itu pula yang dideskripsikan pada dua bab terakhir novel ini. Bagaimana akhirnya si tokoh utama menjadikan Indonesia sebagai negara yang paling ingin ditinggalinya setelah dia berpengalaman berkunjung ke berbagai negara. Dia jatuh cinta pada Indonesia, pada pandangan pertama, pada keramahan dan keunikan penduduknya, serta berbagai potensi yang dimilikinya. Menurutnya penduduk Indonesia kreatif, mampu berpikir out of the box, semua orang di Indonesia melakukan sesuatu yang spesial untuk hidupnya. Semua tentang Indonesia diceritakan dengan optimis, bahkan dia melihat orang dari lapisan paling miskin di Indonesia yang bekerja di jalanan, sebagai populasi yang berkarya dengan solidaritas kokoh. Maka dari itu, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi negara adikuasa melihat ukuran negaranya, jumlah dan karakter penduduknya.

Di novel ini, penulis seolah-olah sedang menceritakan dirinya sendiri melalui representasi tokoh utamanya, termasuk latar belakang pendidikannya, dimana tokoh utama novel merupakan lulusan sekolah bisnis terbaik di Prancis, sama halnya dengan penulis, kecuali pekerjaannya, saya yakin Chritophe tidak bekerja seperti Edwin Marshall. Saat ini penulis aktif di berbagai organisasi internasional.

Jadi, apa yang membuatmu tidak optimis pada masa depan Indonesia, sementara seorang warga asing mengangkat nama Jakarta! yang tak pernah bebas macet dan banjir ini dalam novelnya?

***

Sedikit mengomentari sampul bukunya, disana digambarkan sebuah bola dunia yang menunjukkan kepulauan Indonesia diletakkan di atas sebuah kulit durian. Durian adalah buah khas Asia Tenggara, dijuluki sebagai raja buah dan harganya tidak bisa dikatakan murah. Durian tercium dan terasa sangat lezat bagi orang-orang yang menyukainya, termasuk saya, sebaliknya bagi yang tidak menyukainya, baunya saja sudah membuat pusing. Baunya kuat menyengat dan bisa memengaruhi udara di sekelilingnya. Jadi, apa maksudnya Indonesia seperti buah durian?